Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
47. Menguntit Part 2.


__ADS_3

Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, dan berganti kostum penyamaran, kini Alex kembali ke rumah sakit, berharap Stella sudah selesai dengan tugasnya.


Dan benar saja, pasien di ruang tunggu sudah kosong, dari jarak yang aman Alex mengawasi ruang praktek Stella.


Tiga puluh menit kemudian Stella keluar dari ruangannya, bersama perawat dan beberapa dokter residen di belakangnya.


Para dokter muda tersebut terdengar memberondong Stella dengan berbagai pertanyaan, kadang kadang Stella yang melemparkan pertanyaan.


Stella akan melakukan kunjungan ke beberapa pasiennya.


"Bukankah dia belum makan siang, kenapa malah mengunjungi pasien? Pantas saja tubuh Stella terlihat tidak berubah sejak dulu, apa karena dia sering melewatkan jam makannya?." Alex membatin.


Alex kembali berdebar manakala menatap Stella yang tersenyum ramah pada setiap pasien yang ia datangi, terlihat sekali para pasien tersebut sangat menyukainya, hal itu wajar, karena Stella memang menaruh selalu perhatian pada siapapun.


Setelah menyelesaikan kunjungannya, Stella kembali ke ruang VVIP, dia mendatangi meja perawat, salah seorang menyerahkan bungkusan makanan kepadanya, kemudian ia membawa makanan yang akan ia santap untuk siang ini.


Stella kembali ke kamar yang pagi tadi ia datangi saat sarapan, kini makan siang pun ia kembali ke sana, sebenarnya ada siapa di sana?.


Alex tak bisa lagi menahan rasa ingin tahu nya,


Ia pun mendatangi meja perawat.


Namun perawat tak bisa memberikan informasi yang diinginkan Alex, karena terkait dengan rahasia pasien.


Alex pun pasrah dan kembali menanti.


Beberapa saat kemudian, terlihat segerombolan pria berpakaian hitam, keluar dari salah satu kamar VVIP, yah tak salah lagi mereka adalah Sergio Abimana beserta anak buahnya.


Tepat sesudah mereka keluar, Stella pun tengah keluar menghampiri rombongan Abimana beserta anak buahnya.


"Dokter Risa terimakasih banyak."


"Sama sama tuan Sergio,"


Mereka melanjutkan perbincangan sambil berjalan menuju lobi utama rumah sakit, karena Abimana sudah dinyatakan sehat dan boleh meninggalkan rumah sakit.


"Dokter, tolong jangan memanggilku dengan sebutan tuan."


Stella tersenyum, "tidak bisa tuan, karena bersikap formal adalah bagian dari pekerjaan saya," elak Stella.


"Baiklah, tapi tolong berjanjilah, ketika kita bertemu di luar rumah sakit, anda cukup memanggil namaku, tidak ada embel embel tuan." 


Stella hanya tersenyum mengangguk. 


Kemudian salah seorang anak buah Abimana menyerahkan sebuah kotak berwarna putih.


Stella tampak kebingungan.


"Ini kenang kenangan dariku dok, aku tidak terima penolakan."


"Semuanya, ucapkan terimakasih pada dokter Risa yang sudah menyelamatkan kakak Sergio!!" Gerry memerintah anak buah Abimana.


"Terima kasih dokter Risa… " ucap mereka serempak.

__ADS_1


Stella yang masih dalam mode kebingungan hanya tersenyum canggung. 


Beberapa saat kemudian, Sergio Abimana dan anak buahnya meninggalkan rumah sakit, meninggalkan Stella yang masih kebingungan dengan kotak hadiah di tangannya.


Wajahnya semakin terkejut, manakala membuka kotak tersebut, "sebuah kunci mobil?" Stella membekap mulutnya sendiri.


Dengan tangan bergetar ia menekan remote tersebut, salah satu mobil berbunyi, mobil tersebut sudah menghuni tempat parkir yang di khususkan untuk dirinya, sebuah mobil mewah keluaran terbaru dengan atap terbuka.


Stella benar benar tak mengerti apa yang harus ia lakukan dengan mobil tersebut.


Sementara itu, dari jauh Alex nampak mengepalkan tangannya menahan sesak karena cemburu.


Padahal Stella hanya menerima perhatian dari pasien yang ia rawat, tak melakukan apapun, Alex pun tak mengetahui kisah dibalik hadiah tersebut.


Alex kembali teringat ulahnya dahulu, pantas saja Stella begitu marah padanya, teringat betapa br3n95ek dan b4jin9annya ia dahulu.


Pasti rasanya menyakitkan sekali. "Maaf" Alex bersuara lirih, ketika menatap wajah Stella yang masih termangu di depan mobil barunya.


Stella yang masih linglung, kembali melangkah, kali ini tujuannya ruangan pribadinya, 10 menit di dalam sana, kemudian kembali keluar dengan baju yang sudah berbeda.


Stella kembali ke ruang VVIP, setelah 20 menit ia kembali keluar, namun kali ini tak sendiri, Alex tersenyum lega manakala melihat dengan siapa Stella keluar dari kamar tersebut.


Hahaha sungguh konyol kamu Alex, mana mungkin kamu cemburu dengan anakmu sendiri. Alex menertawakan dirinya sendiri.


Sakit apa kevin, hingga ia harus dirawat? Alex jadi penasaran.


Namun semua itu ia lupakan karena kini ia melihat Kevin nampak berseri seri memeluk lengan Stella, ekspresi wajah itu belum pernah Alex lihat sebelumnya, Kevin pasti sangat bahagia bersama Stella.


"Mom … aku mau sup daging," 


"Baiklah, mommy akan buatkan yang spesial untukmu, kenapa tiba tiba memintanya?" 


Kevin tersenyum, kemudian mengalirlah kisah momen pertama kali bertemu saudara kembarnya.


Stella pun tertawa mendengar kisah nya, "Mommy tak sabar ingin melihat kalian berdua," 


"Benarkah? Kalau begitu, Ayo kita ke Jakarta," ajak Kevin.


"Entahlah sayang, sejujurnya mommy belum punya keinginan untuk ke Jakarta," Stella berujar dengan wajah muram.


Kevin merasa bersalah dengan perubahan ekspresi wajah Stella, "maaf mom, apa permintaan ku membuat mommy sedih?"


Mereka terus berjalan menyusuri trotoar menuju apartemen, ketika melewati Twenty Five Hotel kevin mengarahkan pandangannya ke lantai paling atas, ia tahu lantai paling atas di khususkan untuk keluarga Geraldy, tempat dimana kini Andre berada.


Sejak pagi, si kembar tersebut banyak bertukar pikiran ala mereka 😬, semua nya mereka lihat dari sudut pandang mereka yang masih remaja dengan emosi cukup labil, membayangkan jika kedua orangtuanya berbaikan kira kira hal indah apa yang akan menanti mereka kedepan, walau itu hanya hal hal sederhana yang akan membawa bahagia.


Stella mengusap pipi Kevin, "Maafkan mommy yah, ini semua karena keegoisan mommy, kita tidak pernah bertemu karena mommy tidak pernah ke Jakarta sejak mommy memutuskan untuk melanjutkan kuliah, tapi mommy janji, beberapa waktu kedepan mommy akan mengantarmu ke Jakarta,"


Tawa Kevin menghilang, wajahnya yang semula riang, kini berubah muram, "apa maksud mommy?" 


Stella yang menyadari perubahan tersebut mendadak gugup, ia tak menyangka, Kevin akan langsung bereaksi seperti itu.


"Secara hukum, kamu milik papi, dan Andre milik mommy," 

__ADS_1


"Tidak bisakah mommy kembali saja ke Jakarta? Aku gak mau jauh lagi dari mommy," Kevin mulai merengek.


Stella menelan air ludahnya, ia hanya memeluk erat Kevin yang kini mulai terisak. 


Stella sangat memahami keinginan Kevin, namun permasalahannya tidak semudah itu, Stella harus kembali berhadapan dengan mantan suaminya, terlebih lagi Richard yang pasti akan murka jika Stella kembali dekat dengan Alex, oh iya jangan lupakan Alex yang sudah memiliki hidup baru, dan yang lebih ia takutkan adalah, Richard akan membawa Andre pergi entah kemana.


"Baiklah … maafkan perkataan mommy, kita bicarakan ini lain kali yah, sekarang ayo kembali ke apartemen, mommy akan masak sup untukmu," bujuk Stella. "Oh iya besok jadwal mommy kosong, bagaimana kalau kita kencan, mom and boy day out?" 


Stella mencoba lagi membujuk Kevin, ia sengaja mengajukan libur, agar besok bisa menemani Kevin bermain seharian.


"Mau mau mau mom … aku selalu iri dengan Dio yang kemana mana selalu ditemani mama nya, sementara aku hanya ditemani om Dimas atau kakak Ima, sementara papi sibuk."


"Baiklah selagi kesayangan mommy ada di sini besok kita kencan." 


Keduanya tersenyum bahagia.


Sebuah kebahagian yang sederhana, kebahagiaan yang selama ini diinginkan Kevin, yakni berada di dekat Stella.


Sementara itu, Dari jauh Alex terpaku menyaksikannya, ia terbayang hari hari sedih manakala wajah Kevin murung karena cemburu pada teman temannya yang bisa bermanja bersama ibu mereka.


Begitu bahagiakah Kevin berada di dekat Stella? Alex sungguh tak punya muka untuk kembali mendekati Stella.


Saat ini Stella terlihat bahagia dengan hidupnya yang tidak sempurna, sementara ia sendiri, akankah kehidupannya saat ini bahagia? Ia sendiri tak tahu, Ia hanya mencoba memberikan semua perhatian dan  cintanya pada Kevin, sementara untuk dirinya sendiri, hanya siksaan yang layak untuk ia dapatkan.


Kenangannya bersama Stella dahulu masih sangat membekas, bagaimana hari hari mereka yang penuh tawa bahagia, ketika merawat si kembar yang masih bayi, menemani mereka hingga terlelap, kadang kala hanya memandikan mereka pun sudah membuatnya bahagia, lalu bagaimana mungkin saat itu ia tidak merasakan bahwa ia memiliki cinta yang begitu besar pada istrinya?, bahkan hidupnya kala itu sangat sempurna, ia justru masih berfikir bahwa cintanya hanya untuk Anindita.


"Bodoh!!!" Umpat nya pada diri sendiri.


.


.


.


.


.


.


Itulah bos, kan othor sudah bilang, bersyukur, maka nikmatmu akan bertambah, gak nurut sih, ayo sekarang berjuang, gimana caranya biar mantan bini mau diajak balikan.😆💪


.


.


.


.


.


next eps mereka ketemu, othor janji ... 🥰🥰💃💃

__ADS_1


__ADS_2