
Hari itu, sesuai janjinya pada Kevin, Stella mendatangi sekolah untuk secara resmi mendaftarkan Andre di Junior High School Jakarta.
Baru saja menjejakkan kaki nya di gerbang Stella merasa seperti dejavu, dulu ia yang menempuh pendidikan nya di sini, sekarang ia kembali lagi membawa serta dua orang putranya.
"Mom katakan pada Mrs. Fira agar Andre sekelas denganku," Kevin pun berlari menuju kelasnya.
Stella menatap bangunan International School Jakarta, banyak sekali perubahan, setelah ia lulus dari sana.
Lapangan Basket ini adalah tempat ia berkenalan dengan Alan, dengan Alex sebagai perantara, tapi setiap kali ke lapangan ia memberi semangat pada Alex, sungguh konyol.
Tiba tiba.
Brug … seorang gadis berambut hitam berparas Ayu menabrak Stella, sepertinya ia terburu buru karena terlambat sekolah.
Stella menunduk membantu memunguti buku dan peralatan milik gadis itu, setelah selesai gadis itu dengan sopan membungkuk mengucapkan terima kasih.
"Gadisyaaaaa … " dari ujung lorong teman dari gadis itu memanggil, "Ayo cepat, sebentar lagi presentasi di mulai."
(Jiaaaaahhh Stella kenalan sama calon menantu 😁)
Gadis yang dipanggil Gadisya itu pun berlalu. Stella hanya tersenyum.
"Senangnya masih menjadi anak sekolah," gumamnya, mengingat ia dulu juga seperti gadis itu, selalu terburu buru ingin segera sampai di kelas dan belajar lagi.
Stella pun berbelok menuju ruang tata usaha sekolah, disana ia disambut oleh guru yang bertugas.
Karena Andre juga berasal dari International School Singapura maka proses pemindahan sekolahnya pun lebih mudah, mengingat kedua sekolah memang menjalin kerjasama, jadi berkas berkas Andre pun bisa langsung dikirim dari Singapura.
Usai menyelesaikan Administrasi Sekolah, Stella, berjalan kembali menyusuri tiap lorong sekolah, seakan masih ingin berlama lama disana, mengingat masa mudanya yang telah lama berlalu.
Stella duduk di bangku taman, menunggu sang putra mahkota, ia sudah berjanji pada Kevin untuk menunggu, karena Kevin ingin mengenalkannya pada teman teman dan gurunya.
Seorang Guru wanita datang menghampirinya, ia memakai rok span berwarna biru dan kemeja dengan warna senada.
"Ternyata benar sekali dugaanku, " sapa sang guru.
Stella menoleh ke arah datangnya suara.
Fira tersenyum, manakala Stella menatap wajahnya. "Apa kabar Stella?" Siapa Fira.
"Apa kabar kak Fira," Stella bertanya kembali.
__ADS_1
Fira mengangguk, "oh akhirnya aku mendapat sapaan lembut nan santun dari orang tua Kevin,"
"Maksud nya?"
"Alex tidak pernah bersikap sopan padaku, ingin kuhajar saja rasanya."
Stella tertawa keras mendengar pengakuan Fira.
"Jadi?? Apa kalian berbaikan? Atau masih dengan hidup masing masing?"
Kini mereka duduk berdampingan, "Apa papi nya si kembar yang cerita?" Tanya Stella.
Fira menggeleng, "tidak, dia penjaga rahasia yang baik, tapi aku yang tak sengaja mengetahui rahasia kalian."
Akhirnya mengalirlah kisah dari bibir Fira, Berawal dari ketidaksengajaannya ketika melihat Andre mengambil gambar Stella di ruang arsip, akhirnya semua teka teki terhubung, hingga ia yang memberitahukan Alex perihal keberadaan saudara kembar Kevin.
"Terima kasih," ucap Stella.
"Untuk?"
"Semua nya, termasuk kesabaranmu menghadapi para pria pria ku."
"Hahahaha … waaahhh sinbren953k Alexander itu bahkan tak pernah sopan padaku, bagaimana bisa dia mendapatkan wanita santun seperti mu, kapan kalian menikah lagi, jangan lupa mengundangku."
"Ayo ke kelas ku, Seperti nya Kevin sangat ingin memamerkan mu pada teman temannya."
"Bisakah kakak menceritakan padaku seperti apa Kevin ketika di sekolah?"
Fira tersenyum lembut, lalu mengalirlah kisah Kevin dari bibir nya.
✨✨✨
Usai menyelesaikan urusannya di Junior High School, Stella kini berada di rumah sakit, ini baru hari pertama ia menggantikan praktek rawat jalan dokter Han, namun ia sudah dihadapkan dengan operasi darurat.
Bahkan ia harus beberapa kali meninggalkan ruang praktek, karena harus mengoperasi beberapa pasien yang sedang dalam kondisi darurat.
Setelah menyelesaikan operasi ke tiga nya, Stella berjalan hendak kembali menuju ruang praktek nya, ketika seseorang memanggil namanya, "dokter Risa…"
Stella menghentikan langkahnya, "iya?"
"Maaf mengganggu, tapi kami perlu tanda tangan anda," jawab perawat tersebut.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Stella, ia pun membubuhkan tanda tangannya, di lembaran berkas berkas pasien tersebut. "Maaf, dengan suster siapa yah?" Tanya Stella di tengah aktivitasnya.
"Oh saya suster Anin dok,"
"Oh yang waktu itu bersama dokter Steven yah,"
"Benar dok, saya bertanggung jawab, pada berkas berkas yang berkaitan dengan pasien di kamar operasi."
"Nama lengkap suster?" Tanya Stella lagi setelah ia menyerahkan berkas tersebut ke tangan Suster Anin.
"Anindita Prameswari." Jawab suster Anin, "terima kasih dok," ujar nya sebelum pergi.
Stella terdiam.
Ia tak tahu harus bersikap seperti apa, ia sudah berjanji akan melupakan semuanya, melupakan masa lalu Alex dan Anindita, tapi bertemu secara langsung dengan orangnya, ternyata sesuatu yang berbeda.
Apa Alex tahu, jika Anindita bekerja di William Medical Center? Ah Stella merasa saat ini mood nya begitu buruk.
Entah kenapa, setelah bertemu langsung dengan Anindita membuat pikiran Stella jadi tak karuan, padahal jelas jelas Alex sudah memilihnya, bahkan merelakan dirinya menduda selama belasan tahun.
✨✨✨
Pria muda itu menatap nanar pada layar ponselnya, wajah cantik seorang wanita tengah tersenyum padanya, gadis itu cantik menurutnya, ia sederhana dengan keanggunannya, seorang calon dokter pada masa itu.
5 tahun yang lalu, awal mula perkenalan nya dengan Rebecca, ia masih mahasiswi tingkat akhir di salah satu fakultas kedokteran di Italia, gadis itu mengisi waktu kosongnya sebagai pekerja paruh waktu, bekerja di salah satu gerai penjual bunga, menurutnya Rebecca memang anggun seperti bunga, dan bahkan rambut pirangnya selalu beraroma bunga.
Kala itu Rebecca bagai magnet dalam hidupnya, gadis itu benar benar membuatnya terpesona, ia bahkan rela berjam jam duduk di Cafe tak jauh dari gerai penjual bunga, demi melihat wajah Rebeca yang tampak berseri seri ketika merawat bunga.
Namun sayangnya, apa yang ia lakukan ternyata diketahui ayah angkat nya, Sergio Fernandez begitu murka, karena Abimana telah berani jatuh cinta. Trauma yang ia alami di masa lalu bersama istrinya, membuat Sergio Fernandez begitu mendendam pada setiap wanita.
Dan kini semuanya sirna, Gadis itu meninggal karena kecelakaan, sangat sakit bila harus memikirkan akhir kisahnya bersama Rebecca, kini haruskah ia berpaling, setelah sekian lama ia menjaga perasaannya hanya untuk Rebecca.
Abimana mengusap air matanya, haruskah? Haruskah ia mulai melupakan Rebecca? Sungguh ia belum rela, tapi kini wajah dokter Risa senantiasa mewarnai hari hari nya, anggun, santun, percaya diri, sekaligus pemberani menyatu jadi satu dalam dirinya, membuatnya terlihat semakin mempesona dengan karisma yang ada pada dirinya.
Tapi bisakah dokter Risa menerima dirinya yang penuh noda? Pengedar narkoba, bahkan membunuh pun pernah ia lakukan demi memuluskan bisnis nya.
.
.
.
__ADS_1
.
sedikit membahas masa lalu Abimana.