
Oh, Dimas.
Stella membeku di tempatnya, ia masih berada di lobi utama usai mengantarkan bu Tyas ke ruangan dokter Elga, matanya menatap tajam ke arah TV layar lebar yang di peruntukkan untuk ruang tunggu antrian, sebuah berita yang cukup membuat jantung berdetak tak karuan.
"Ini bahkan belum genap sebulan" desisnya dengan wajah tak bisa ditebak.
Berita tentang artis Meta Permana kini mulai beredar luas di media, bukan Meta yang menjadi buah bibir utama, melainkan ada seseorang yang menghadiahkan gaun senilai 100 juta untuk sang Artis, dan orang itu adalah Alexander Geraldy.
Stella mengepalkan jemarinya, "tidak aku bukan lagi anak kemarin sore yang begitu mudah percaya pada berita sampah semacam itu,"
Kini Stella berjalan menuju ruangan pribadinya, sesekali ia mengumpat tak jelas, namun kemudian dia kembali menetralkan wajahnya, yah kini ia tengah dikuasai rasa cemburu, bagaimana bisa, pria yang berkata mencintai dan menunggunya selama empat belas tahun, kini dengan mudahnya mulai bermain main dengan pernikahan mereka yang bahkan belum seumur jagung.
"Dimas … mana bos mu?"
Tak tahan lagi akhirnya Stella menghubungi Alex demi menenangkan hati dan perasaannya.
"Bos sedang rapat nyonya," jawab Dimas.
"Apa kamu sudah melihat berita di TV?"
"Belum nyonya, ada apa?"
"Periksalah sendiri, dan katakan pada bosmu, kalau sampai berita itu benar adanya, aku pastikan dia pasti segera tahu konsekuensinya."
Stella mengakhiri panggilannya.
Tak lama ponselnya kembali berdering.
"Alan" desisnya.
"Iya kak?"
"Stella apa siang ini kamu ada jadwal praktek?"
__ADS_1
"Tidak ada kak, ada apa?
"Tolong gantikan aku di acara 'Doctor Talk' di stasiun TV xx."
"Memang kakak mau ke mana?"
"Ada hal gawat, dan sekarang aku harus menenangkan ibuku, nanti aku ceritakan." Jawab Alan.
Begitulah, hubungan Alex dan Alan kembali membaik, dan Kini Stella dan Alan juga sudah bersikap layaknya teman yang saling berbagi cerita.
"Aku harus gimana? Aku bahkan belum pernah tampil di TV." Panik, tentu saja itu lah yang dirasakan Stella.
"Santai saja, mereka gak akan tanya hal pribadi, yang mereka tanya hanya seputar masalah kesehatan." Jawab Alan agar Stella tenang.
"Benar yah, hanya masalah kesehatan."
"Iya … oh iya aku kirim formulir CV, nanti kamu isi yah, untuk konfirmasi ke pihak TV."
"Baiklah … " jawab Stella.
✨✨✨
Tapi walau takut, ia harus tetap menghampiri sang atasan.
Dimas kini berada di dekat Alex, dengan tablet di tangannya.
"Permisi bos, ada yang harus anda lihat,"
Dimas menyodorkan tablet di tangannya, Alex terdiam sesaat mengamati apa yang ada di hadapannya.
Braaaak …
Alex berdiri mendadak, hingga kursi yang ia duduki roboh ke belakang.
Sraaaak…
Berikutnya, kertas kertas di hadapannya kini berhamburan.
__ADS_1
"Rapat berhenti," pungkasnya, kemudian keluar dari ruangan rapat, dengan diiringi tatapan heran dari para karyawan dan Staf petinggi Twenty Five Hotel.
Dimas yang ada di belakangnya tergopoh-gopoh membereskan ponsel, tablet dan laptop milik sang atasan, kemudian berlari menyusul Alex.
Alex sama sekali tak bersuara sebelum tiba di ruangannya, dengan kasar ia melepas jas dan melonggarkan dasinya, otot wajahnya kini mulai menyembul di permukaan kulit, pertanda ia tengah menahan amarahnya.
'murahan' desis Alex, hanya berita seperti ini saja dibesar besarkan.
Ia marah bukan karena harus berhadapan dengan sang artis, Alex marah justru karena mengkhawatirkan perasaan istrinya, wanita yang susah payah ia bawa kembali ke pelukannya, bahkan belum sebulan ia menikmati kebahagiaan nya bersama Stella, dan kini ada be re itak tak menyenangkan.
"Sudah kamu temukan gadis itu?" Bentak Alex ketika Dimas tiba di ruangannya.
"Saya tahu rumahnya bos, tapi hanya itu saja, selain itu saya tidak tahu," jawab Dimas takut
"Dan sekarang ada berita seperti ini, aku harus bagaimana?" Kamu pikir istriku akan diam saja? Sudah pasti dia … dia …" Alex menggantung kalimatnya, tak mungkin dia menceritakan apa yang akan ia alami jika singa betina yang baru saja berhasil ia jinakkan kembali mengamuk.
Alex tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Stella, jika mendengar kabar ini, frustasi? Tentu saja, bayangan ia kembali sendirian di malam dingin kini tengah menghantuinya, "bisa hilang jatah malamku" gumamnya.
"Justru saya mendengar berita ini dari nyonya bos," Dimas menambahkan.
"Apa!!???" Lagi lagi Alex dibuat terkejut dengan laporan yang diberikan Dimas. "Kenapa tidak bilang sejak tadi." Pekik Alex, kemudian ia buru buru keluar dari ruangannya, penampilannya jangan lagi ditanya, perjuangan dan pengorbanan nya sedang dipertaruhkan mana sempat ia memikirkan penampilannya, kemeja dan dasinya entah sudah seperti apa bentuknya, ia benar benar tak peduli, yang ada di pikirannya hanyalah kemarahan sang wanita kesayangannya.
"Bos tunggu, jas anda ketinggalan," Dimas berlari mengejar Alex yang terburu buru.
Alex berhenti sesaat, "aku tak butuh jas, mana ponselku?" Pinta Alex.
Dimas mengulurkan ponsel milik Alex.
Karena panik, Alex jadi melupakan hal penting dan paling utama dalam sebuah hubungan, yakni berkomunikasi, "Halo … sayang kamu dimana? Masih di rumah sakit, aku susul kesana yah, tolong dengarkan aku dulu, bukan aku yang membeli gaun itu, aku akan jelaskan semuanya, bahkan membawa tersangka utamanya sekaligus kehadapanmu." Tanya Alex tanpa jeda dan tanpa basa basi, pandangannya nampak penuh ancaman ketika menatap Dimas, dan Dimas hanya bisa menunduk sedih karena dia adalah penyebab semua masalah ini.
"Aku sibuk, nanti saja kita bicara," tolak Stella, bukan ia tak ingin mendengarkan penjelasan Alex, hanya saja saat ini ia tengah bersiap di ruang make up, untuk acara 'Doctor Talk'. jadi sungguh tak mungkin jika ia harus beradu pendapat di hadapan MUA.
"Tuh kan kamu marah, tolong dengarkan aku,"
"Iya akan ku dengarkan tapi nanti, aku sedang tidak bisa bicara sekarang."
Alex lemas tak bertenaga, penolakan Stella benar benar membuatnya lemah.
__ADS_1
"Dimas, rumah tanggaku sedang dipertaruhkan, jika besok kamu tidak berhasil membawa gadis itu ke hadapanku, tamatlah sudah riwayat ku," desis Alex. "Pergilah kamu boleh libur sampai besok, dan besok malam bawa gadis itu ke hadapanku."
Alex menyambar jas yang berada di genggaman Dimas, ia kembali melangkahkan kaki nya, tujuannya tentu saja menghampiri istrinya, sudah cukup sekali ia gagal, kini ia tak akan berhenti sampai Stella benar benar mendengarkan kata katanya.