Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
97. Oh, Dimas.


__ADS_3


Oh, Dimas.



pukul sebelas lebih tiga puluh menit, Alex dan Stella tiba di airport.


Dengan susah payah, Stella membuat Alex bersedia keluar Hotel, karena Alex terus menempel padanya seperti lem super.


Kini mereka sudah di Airport menunggu Dimas mengantar si kembar ke airport, Alex yang meminta Dimas mengantar Kevin dan Andre, karena Stella ingin berpamitan sebelum perjalanan bulan madu mereka.


Stella nampak resah menanti kedatangan kedua putranya, Alex yang membaca kegelisahan tersebut nampak tersenyum samar, ia heran kenapa juga Stella harus gelisah, sementara mereka akan pergi menggunakan pesawat pribadi nya, jadi tak perlu khawatir tertinggal.


“Duduklh sayang, kamu tidak lelah, sejak tadi berdiri?” Alex menarik Stella agar duduk di sisinya.


“Entahlah, aku tak tahu kenapa seperti ini, padahal ini bukan kali pertama aku berpisah dengan mereka.”


Alex, memeluk pundak Stella, agar istrinya merasa tenang sesaat. “mungkin karena ini pertama kalinya kamu meninggalkan mereka bersama orang lain, selain aku.”


“Iya, mungkin saja begitu.” 


Tak lama berselang, Dimas datang bersama si kembar.


“Mom … dad …” 


Seperti biasa, andre langsung memeluk Alex, sementara Kevin memeluk Stella.


“Baik baik bersama Om Dimas yah?” pesan Stella yang mulai cemas berlebihan, padahal di jakarta, sungguh banyak orang orang yang kan menjaga kedua putra mereka, bahkan Kevin dan Andre akan tetap pergi ke sekolah seperti biasa.


“Bos, anda terlihat bugar, apa semalam anda cukup beristirahat?” tanya Dimas. ketika ia dan Alex mengamati Stella yang masih ingin berpelukan dengan kedua putranya.


“Tentu saja, aku cukup istirahat, dan lagi nanti …” Alex tiba tiba melotot menatap Dimas. “apa maksud pertanyaanmu? kamu mau mengorek apa yang terjadi semalam, antara aku dan istriku?” 


Dimas mendadak gugup, karena rencananya keburu terbaca oleh Alex. “ti … ti … tidak bos, mana berani saya melakukan itu.” elaknya gugup.


“Kalau tidak, kenapa kamu mendadak gugup?” 


“Eh itu karena …” kalimat Dimas menggantung, karena ia tak tahu harus mengatakan apa pada sang atasan.


“Oh iya, satu lagi, tadi pagi aku melihat laporan penggunaan kartu kredit, dan kulihat ada pengeluaran mencurigakan dalam jumlah yang tidak wajar, terlebih pengeluaran itu di luar persetujuanku.”


Dimas mendadak resah, dahi dan punggungnya mulai berkeringat dingin, ‘gawat, semalam aku tak menanyakan harga gaun nya, dan sekarang aku lupa, dimana meletakkan kertas bukti pembayaran tersebut’ Dimasa bermonolog.

__ADS_1


Tak Lama Stella mengakhiri pelukannya, kini berganti Alex yang memeluk Kevin dan Andre, tanpa segan ia mendaratkan kecupan di puncak kepala mereka, “Jika ingin menyusul, katakan saja pada Om Dimas, dia akan mengantar dan memesan tiket untuk kalian.”


“No dad, kami tidak akan mengganggu kalian,”


"Benar papi, berhentilah mengkhawatirkan kami,”


“Ya sudah, daddy percaya, kalian anak anak hebat,” puji Alex pada Kevin dan Andre.


“Dimas, sebaiknya kamu punya jawaban bagus untuk pertanyaanku tadi.” 


Dimas menelan ludah, “iya bos,” hanya itu yang mampu Dimas katakan. 


Dimas kembali membawa si kembar pulang setelah menyaksikan sendiri keberangkatan Bos dan istri barunya.


"Om … aku penasaran dengan wanita yang semalam kita antar pulang,"


Ucapan Andre membuyarkan lamunan Dimas, "kenapa?" 


"Memangnya dia siapa? Sampai sampai Om Dimas mengantarnya pulang," 


"Entar, aku juga tak tahu,"


tik tok tik tok krik krik…


Andre dan Kevin saling pandang, "kalau om Dimas tak tahu, kenapa kemarin kami lihat adegan 21+ di toilet tersebut?" Tanya Kevin dengan wajah polosnya. "Bukankah agak keterlaluan, om Dimas bilang, tidak tahu menahu tentang gadis itu, tapi yang terjadi kemarin, sedikit banyak membuat penglihatan kami ternoda." Kevin dan Andre terkikik geli, melihat kebingungan yang kini melanda Dimas.


Dimas baru menyadari ketika tadi Alex menanyakan pengeluaran mencurigakan dari tagihan kartu kreditnya, Dimas tahu Alex bukan seseorang yang mudah curiga hanya untuk rupiah yang nilainya tak seberapa, jika Alex menanyakannya, itu artinya pengeluaran tersebut benar benar tak terduga jumlahnya.


"Iya aku tahu, maaf sudah membuat kalian melihat hal hal yang tak seharusnya, tapi percayalah, semalam aku terpeleset karena jalan terburu buru," Dimas tak ingin beralasan apalagi berbohong, karena keduanya justru akan semakin membuat nya terperosok semakin dalam kelubang dusta.


"Lalu setelah mengantarnya pulang, apa setidaknya om Dimas sudah menanyakan siapa namanya?" Andre menanyakan kecurigaan nya.


Ciiiittt …. Tiba tiba Dimas menginjak pedal rem, hingga membuat Mereka bertiga terdorong kedepan secara mendadak.


"Om … ada apa? Kenapa tiba tiba berhenti mendadak?" Tanya Kevin yang kini duduk di belakang, keningnya membentur sandaran kursi di depannya,


"Oh maaf, aku tidak sengaja." 


tiiiin tiiiin… suara klakson yang berasal dari kendaraan di sekitar mereka mulai, melengking memekakan telinga, Dimas pun kembali melajukan mobil yang ia kemudikan.


Dimas kembali tenggelam dalam lamunannya, entah hal apa yang menguasai pikirannya, padahal dua kali ia mengalami kejadian serupa bersama gadis itu, entah mungkin efek panik, kaget, marah dan yang terakhir ia agak gelisah melihat gadis itu meneteskan air matanya, tapi rasa rasanya wajar bagi seorang lelaki, jika ia mencemaskan seorang gadis yang tiba tiba menatapnya dengan tangisan sedihnya, terlebih ia juga ikut andil di dalamnya.


'Jadi Siapa nama gadis itu yah?' tanya Dimas dalam hati.

__ADS_1


Ah … entahlah


Akhirnya Dimas memilih menyudahi lamunannya, yang nanti biarlah nanti terjadi, sekarang tugasku membuat kedua ini nyaman berada di dekatku, pikir Dimas dengan senyum di wajahnya.


✨✨✨


Tiga minggu kemudian.


"Sayaaaaang … mana dasi ku?" teriak Alex, ketika ia tengah memulai aktivitas paginya sebelum kembali bekerja.


Stella yang juga baru selesai bersiap dengan pakaian kerja nya, nampak keluar dari walk in closet, dengan dasi dan jam tangan untuk suaminya.


"Ih … manjanya ini loh, sudah pernah 14 tahun menduda, masa hal seperti ini saja harus kamu hebohkan." Dengan telaten, Stella memasangkan dasi suaminya, sementara bibirnya terus mengeluarkan omelan khas ibu ibu, namun bagi Alex ini pemandangan indah, dan omelan Stella seperti nyanyian merdu di telinga nya.


Stella yang sejak tadi mengomel, tiba tiba menghentikan kalimat nya, manakala menyadari bahwa sejak tadi Alex hanya diam mendengarkan setiap ucapannya.


"Kenapa senyum, ada yang lucu?" Tanya Stella ketika menatap senyuman di wajah Alex.


"Iya, istriku sungguh lucu … omelan nya saja terdengar merdu, bagaimana jika sedang menyanyi … pasti burung burung yang terbang di angkasa, akan berbalik dan mengerumuninya."


Blush … 


Seketika rona merah menyembul dari kedua pipi Stella.


"Gombal …" Stella berlanjut memasang jam tangan di pergelangan suaminya.


.


.


.


.


.


Dimas, kamu memang menggemaskan, tunggu apa yang akan terjadi beberapa hari ke depan, kamu akan membuat bos mu sakit kepala, karena kamu, ia harus berurusan istri barunya yang mulai menunjukkan tanda tanda cemburu buta ... wkwkwkwk ... 🤪🤪💃💃


.


.


.

__ADS_1


.


Dimas belum tahu saja macam mana dokter Risa bila sedang mode cemburu buta ... 😅🤣


__ADS_2