
Tak lama kemudian pintu lift terbuka, beberapa staf yang berada di lantai 17 tampak mengangguk hormat melihat kedatangan presiden direktur mereka.
Stella hanya menyembunyikan wajahnya di lengan Alex, hingga membuat Alex semakin gemas.
"Selamat pagi bu Wanda."
"Selamat pagi bos … " jawab bu Wanda.
Pagi ini, bu Wanda pun dibuat heran dengan kehadiran Alex yang membawa serta seorang wanita masuk ke ruangannya, namun belum sempat ia berbicara pintu ruangan bos nya sudah tertutup.
Bu Wanda tercengang, baru saja ia hendak melaporkan bahwa hari ini nona Isabela akan datang, sepanjang dirinya bekerja menjadi sekertaris, ini pertama kalinya ia melihat Alex dengan sukarela membawa seorang wanita ke ruangannya.
Bu Wanda melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat dari mata sang Bos, cinta, selama ini tatapan Alex selalu dingin, tapi tadi ketika bersama wanita itu, tatapannya nampak berbeda, rindu, cinta dan bahagia bercampur jadi satu, Bu Wanda hanya tersenyum simpul, "semoga anda bahagia bos, saya ikut senang." Ujar bu Wanda, ia pun kembali duduk dan urung memberikan laporan, pastilah sang atasan sedang tak ingin di ganggu.
Sementara itu, di dalam ruangan, dua orang yang saling merindukan itu masih berpelukan erat dan saling mencecap seolah tak ingin terlepas lagi, Alex membimbing tangan Stella dan melingkarkannya di lehernya, sementara tangannya sendiri memeluk erat wanita yang telah memberinya 2 orang putra.
Entah sudah berapa lama mereka saling menempel, menikmati sensasi baru, mencoba kembali menumbuhkan getaran cinta diantara mereka, hingga terpaksa lepas karena keduanya kehabisan nafas, Alex menempelkan kening mereka, nafas keduanya naik turun tak beraturan, "morning kiss, rasanya masih sama seperti dulu," ucap Alex dengan senyum di wajahnya, yang kemudian membuat pipi Stella memerah dan jantungnya berdegup kencang.
Stella tertunduk malu, rasanya sungguh tak disangka ia bisa kembali seperti ini dengan mantan suaminya, tangannya kini tertahan di dada, bahkan wajahnya pun bersembunyi di dada Alex, "Aku mencintaimu" bisik Alex, tak bisa dipungkiri, Stella bahagia mendengarnya, kini ia semakin tersipu, "kamu tak ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Alex masih memandang wajah Stella yang bersembunyi di pelukannya.
Stella menggeleng "aku malu" ucap Stella lirih.
Alex menahan senyumnya, ternyata se menggemaskan inilah mantan istrinya, wanita dingin yang ia temui 3 minggu yang lalu seolah hilang entah kemana, Stella seperti kembali menjadi Stella yang pemalu seperti ketika mereka pertama kali mereka menikah.
Masih saling berpelukan, "jadi katakan padaku apa yang terjadi? Kenapa kamu masih di Jakarta, bukannya semalam kita berpamitan di airport?"
Stella masih diam, jemari tangannya nampak memainkan kancing kemeja Alex.
"Tidak mau jawab? Baiklah kalau kamu tidak mau jawab, aku akan mengurungmu di ruangan ini seharian."
__ADS_1
Stella terkejut, ia pun mendongakkan kepalanya, "apa salahku? Kenapa aku harus dikurung seperti penjahat?" Tanya Stella tak terima.
"Salahmu?"
Stella mengangguk.
"Karena kamu sudah berani membuat ku berdebar debar hanya dengan melihat aksi barbarmu beberapa saat yang lalu."
Stella tertawa, "maaf kalau aku sudah membuat keributan."
"Jika kamu laki laki aku pasti sudah menjadikanmu pelatih bela diri untuk petugas keamanan hotel, sayang nya kamu ditakdirkan menjadi Nyonya Geraldy, jadi aku tak akan mengizinkanmu melakukan aksi barbar itu lagi di depan karyawanku." Aku Alex.
Ada nada posesif di sana, namun juga terdengar penuh kekhawatiran.
"Aku belum pernah melihatmu cemburu padaku," ledek Stella.
"Jadi jangan coba coba memancing kecemburuan ku, aku bahkan bisa lebih gila lagi jika sedang cemburu."
Alex semakin mengeratkan pelukannya, "aku hanya manusia biasa, karena itulah aku bisa berbuat salah, aku bahkan tak menyadari perasaan ku padamu, maafkan aku."
Telapak tangan Stella terulur mengusap rambut dan pipi Alex, "Aku sudah memutuskan menerimamu kembali, maka aku pun harus memaafkan masa lalu kita, masa lalumu, serta semua hal yang menyakiti perasaanku, aku ingin hidup untuk masa depan, tak ingin lagi melihat masa lalu, jika aku tetap melihat masa lalu, aku yakin, sampai kapanpun aku tak akan bahagia walau berada di sisimu."
Kata kata itu begitu menyejukkan hati nya.
Stella melirik jam di pergelangan tangannya, "sekarang aku harus pergi, ada acara yang harus ku hadiri, karena itulah aku masih di sini." Stella melepaskan diri dari pelukan Alex.
"Aku antar ke bawah," Alex menawarkan diri.
"Aku punya kaki untuk melangkah, tak ada yang berani mengusik selama aku di sini kan??" Tanya Stella penuh percaya diri.
__ADS_1
Alex hanya tersenyum.
"Oh iya, Andre ada di rumah keluargaku, kirimkan sopir untuk menjemputnya,"
Stella melangkahkan kakinya menuju pintu.
Dan ternyata Dimas sudah menanti di luar ruangan, bersama Isabela, wanita yang tadi ia tolong.
Wanita itu nampak menatap tajam ke arahnya, wajahnya benar benar menunjukkan rasa tak suka manakala melihat Stella keluar dari ruangan pria yang sejak lama ia incar.
"Selamat pagi Dimas…" sapa Stella pada Dimas.
Tak lupa Stella mengangguk pada bu Wanda dan Isabella.
"Selamat pagi nyonya …" Balas Dimas dengan senyum tertahan dan seringai jahil, ia tahu benar apa yang baru saja terjadi didalam sana.
Tentu saja hal itu tak luput dari pengamatan Dimas. "Nyonya berapa lama anda akan menginap disini?" Tanya Dimas. "Dan izinkan saya memindahkan kamar anda di lantai paling atas.
"Tidak perlu, Panitia memberikan fasilitas satu minggu sampai acara berakhir, dan mungkin aku juga akan ke rumah sakit menggantikan jadwal praktek dokter Han, jadi percuma juga kamarku pindah ke lantai atas,"
"Baiklah nyonya jika itu keinginan anda."
Stella pun berlalu menuju lift khusus milik Alex.
Setelah bayangan Stella menghilang di balik pintu, Isabela tak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.
"Maaf, siapa wanita tadi, dan kenapa ia bisa keluar dari ruangan tuan Alex, anda bahkan mengizinkannya memakai lift khusus milik tuan Alex?" Isabella memborong semua pertanyaan.
Dimas tersenyum puas melihat reaksi Isabela, selama ini ia juga muak melihat Isabella yang terus terusan mencari perhatian bos nya. "Untuk anda ketahui nona, wanita tadi adalah dokter Stella Marisa William, mantan istri bos Alex, sekaligus ibu dari si kembar tuan Kevin dan tuan Andre, dan sepertinya sebentar lagi mereka akan kembali rujuk, apa informasi itu cukup untuk menjawab rasa penasaran anda?"
__ADS_1
Jawaban Dimas membuat Isabela semakin marah, gagal total semua rencana yang ia susun, ingin rasanya ia menghancurkan Alex saat ini juga.
'dah nangis nangis deh, emang enak, pdkt belom jalan malah saingan terkuat yang jadi pemenang, hahaha … ' Dimas tertawa keras dalam hati.