Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
78.


__ADS_3

Akhirnya dengan motor Dimas membawa gadis itu ke butik terdekat, syukurlah Tak jauh dari Diamond Hotel, ada sebuah butik ternama yang masih buka, walau saat ini adalah hari libur, dan waktu sudah menunjukkan jam 9 malam.


Dimas membiarkan gadis itu memilih gaun yang ia inginkan, karena Dimas pun melakukan hal yang sama, ia memilih tuxedo baru untuknya, sebagai ganti tuxedo nya yang kotor karena noda makanan.


Ketika Dimas sudah menyelesaikan urusannya, ia pun menunggu di ruang utama, sambil memeriksa ponsel nya, Syukurlah Alex belum menghubunginya, jadi ia masih punya sedikit waktu meladeni gadis garang yang hampir membuat kepala nya pecah akibat omelan pedas nya.


Tak lama kemudian, pegawai butik membuka tirai, dari balik tirai wajah gadis garang itu terlihat, Dimas nyaris kehilangan jantungnya, karena gadis itu nampak jauh berbeda dari pada penampilannya sebelum mengganti gaun.


Gaun umbrella berwarna putih itu, nampak cantik membungkus tubuh mungilnya, bahkan gadis itu sudah meminta tolong pegawai butik untuk menata ulang rambut nya, kini rambutnya hanya di kepang pinggir pinggirnya saja, sementra bagian tengah dibiarkan terurai, dengan aksesoris bunga yang sungguh manis. 


Dimas reflek berdiri, layaknya calon mempelai pria yang tengah terpesona menatap calon mempelai wanita nya. 


"Silahkan nona, calon suami anda sudah menunggu." 


Tenggorokan Dimas tiba tiba terasa tercekat, tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut pegawai butik, gadis itu pun tak memprotes, apalagi menyalahkan, ajaibnya ia pun hanya diam seolah menikmati suasana. 


Dimas pun reflek mengeluarkan kartu kredit yang diberikan Alex padanya, setelah menyelesaikan proses pembayaran, mereka pun meninggalkan Butik, kembali ke Ballroom Diamond hotel, sunyi sama sama diam, tak ada lagi perdebatan seperti sebelumnya, setelah sebelumnya pegawai butik meminta nomor telepon mereka, karena mereka menyediakan jasa laundry khusus untuk gaun dan tuxedo. 


Motor yang mereka kendarai berhenti manis di tempat parkir, seperti sebelumnya. 


Dimas segera menyerahkan kunci motor matic milik gadis itu, "kelar yah urusan kita," ujar Dimas dingin.


(Itu menurutmu 🤭 bukan othor loh yah yang mau 🤓 kisah cintamu baru akan dimulai 💃)


Sementara gadis itu nampak hanya mengangguk, tapi tadi, ketika mata pria itu terpesona karena menatapnya, sungguh membuat kejudesan yang ia miliki sejak lahir, tiba tiba menguap, berganti dengan sikap diam dan malu malu. 


(Dimas sini sungkem dulu sama othor 😁 mau cari pacar dulu atau mau langsung menyusul bos Alex?😋)


✨✨✨


Beberapa jam sebelum Alex menghadiri pesta pernikahan.


Hari itu banyak peristiwa yang terjadi, diantaranya ada satu hati yang kini terkoyak sembilu, bunga bunga cinta yang baru saja coba ia tanam, tiba tiba layu dan mati begitu saja.


Abimana menatap sendu pada sepasang kekasih yang kini tengah bergandengan tangan mesra menuju breakfast room, menatap kedua insan yang tengah dimabuk asmara, membuat nya semakin terbakar rasa cemburu.

__ADS_1


Tak berhenti sampai disitu, informasi yang ia dapat dari orang kepercayaan nya, mereka adalah sepasang mantan suami istri yang mungkin saja akan segera berbaikan. 


(Versi mata mata loh yah👀, bukan versi othor🤓, apalagi versi harapan para readers🤭) 


Semangat nya musnah seketika, dan kembali berganti selimut duka, rasanya kini ia merasa hidup nya kembali sia sia, karena lagi lagi harus menerima pahitnya kehilangan cinta, ia bukanlah seseorang yang mudah jatuh cinta pada sembarang wanita, sekali ia mencintai itu akan melekat kuat, bahkan setelah tahun tahun yang lalu, ia baru bisa mulai membuka diri pada seorang wanita.


Dengan malas ia beranjak, dan rasa laparnya menguap seketika.


Sementra itu, tanpa sepengetahuan Stella, salah seorang anak buah Abimana, nampak bertukar tatapan dengan Alex, dialah sang informan, yang selama ini disusupkan Alex di antara anak buah Abimana.


✨✨✨


William Medical Center Jakarta


Hari ini lagi lagi Stella kebanjiran pasien dokter Han, sudah lebih dari setengah Hari ia duduk di ruang praktek dokter Han.


Dan satu jam kemudian, Stella bisa bernafas lega karena rawat jalan sudah berakhir.


Stella memeriksa ponselnya, ia tersenyum sendiri mengingat ponsel tersebut adalah Hadiah dari sang mantan, bahkan Alex sudah memasang Wallpaper nya, itu adalah foto mereka di awal menikah dahulu, hahaha Stella benar benar tidak menyangka, Alex masih menyimpan foto mereka kala itu, ternyata waktu sudah lama berlalu, menggilas seluruh kenangan indah mereka, 2 tahun yang singkat, 2 tahun yang berlalu begitu saja, 2 tahun yang membuat mereka akhirnya terpisah belasan tahun, menyesalkah Stella? tidak, karena dari sana ia belajar, dari sana ia menempa pengalaman hidupnya, dari sana ia belajar menerima luka, bahwa hidup tak selamanya berakhir manis, adakalanya kita harus melewati semak berduri, walau bukan sesuatu yang mudah, tapi pada akhirnya kita akan bertemu dengan jalan yang mulus dan rata.


Stella terus menatap ponselnya hingga tiba di Cafe rumah sakit, seperti layaknya Cafe rumah sakit pada umumnya, cafe itu nampak ramai di jam jam para dokter selesai dengan praktek rawat jalan, dan Stella sudah terbiasa tidak mendapatkan perlakuan istimewa, jadi dia pun mengantri seperti para dokter yang lain.


Stella berkeliling mencari meja kosong, namun semua meja terisi pengunjung, dan sudut matanya menangkap seseorang yang baru beberapa hari yang lalu ia kenal, Stella berjalan mendekati mejanya, "Suster Anin, boleh bergabung? Meja yang lain sudah terisi penuh, sementara aku belum banyak mengenal dokter dokter di sini."


Anin tersenyum ramah, "tentu dok, anda tak perlu bertanya, silahkan," Anin mempersilahkan Stella duduk di hadapannya.


"Sendiri saja?" Tanya Stella berbasa basi.


"Iya, kami bergantian makan siang, takut ada keadaan darurat dok," jawab Anin.


Obrolan pun mengalir begitu saja, setelah kejadian ia mabuk beberapa hari lalu, kini ia mulai bisa pelan pelan menghilangkan rasa cemburunya, pada Anindita, wanita yang kini makan satu meja dengannya.


Mereka berdua makan dengan tenang, sesekali di selingi obrolan. 


"Dokter, sudah berkeluarga?" Tanya Anin.

__ADS_1


"Lebih tepatnya kami sudah bercerai 14 tahun yang lalu."


Anindita terbelalak, "itu waktu yang sangat lama dok, anda tidak ingin mencari pria lain?" Tanya Anindita lagi.


"Sayang nya tidak," jawab Stella ringan tanpa beban. "Aku terlalu nyaman sendiri, jadi bersama putraku saja sudah cukup, karena aku nyaris menghabiskan sepanjang hari di rumah sakit." 


"Berapa usia putra anda dok?" 


"Saat ini 15 tahun." 


"Putri saya baru 13 tahun." Anindita menambahkan.


"Loh suster Anin punya seorang putri?"


"Iya dok, saya single mother, setelah suami saya meninggal 5 tahun yang lalu, mendengar anda sudah menyendiri selama 14 tahun, saya jadi merasa tidak ada apa apanya dibandingkan anda." Puji Anindita pada Stella.


"Jangan seperti itu, kamu juga pasti seorang ibu yang hebat, untuk putrimu." 


.


.


.


.


.


monggo ... silahkan komentar sebanyak banyaknya 😁


.


.


.

__ADS_1


.


jangan lupa amunisi, untuk bekal othor semedi.🧘


__ADS_2