Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
56. Kevin Sakit.


__ADS_3

Jalanan ibu kota nampak basah usai hujan deras mengguyur, menyejukkan  semesta yang sejak pagi ditemani sang mentari.


Namun tidak demikian dengan dua hati yang tengah di patahkan, rasanya untuk sesaat hilang sudah penyemangat hidup mereka, padahal baru beberapa saat mereka merasakan bahagia.


Alex menatap kosong ke jalanan yang basah. Beberapa jam yang lalu ia kecewa, tapi kini ia menyadari bahwa semuanya telah berubah, lamanya sang waktu membuat hati dan perasaan seseorang pun berbeda, tapi tak bisakah ia egois? Alex mengakui bahwa 14 tahun yang lalu, dialah yang menyebabkan perpisahan mereka, tapi bahkan Tuhan pun maha pengampun dan pemaaf, tak bisakah Stella menghapus catatan buruk nya dahulu? Alex sungguh sungguh ingin memperbaiki pernikahan mereka, tapi meluluhkan hati Stella ternyata tak semudah yang ia bayangkan.


Stella jauh berbeda dengan yang dahulu, sorot matanya, kata katanya, bahkan sikapnya, kemanakah perginya Stella yang dahulu ceria, hangat dan selalu teduh bila menatap, tiba tiba alex merasakan nyeri di dadanya? Ternyata luka 14 tahun lalu masih belum sembuh.


"Aku diam bukan bermaksud memberimu harapan kak, tapi aku bingung harus bersikap seperti apa padamu, karena kisah kita sudah berakhir 14 tahun yang lalu, menangis pun sudah tak bisa, biar bagaimanapun aku masihlah wanita biasa penuh luka, jadi ku mohon jangan memaksaku untuk memikirkan pertanyaanmu tempo hari." 


Stella terdiam sesaat, dia mengalihkan pandangannya, terlalu lama menatap wajah Alex membuat jantungnya semakin tidak sehat.


"Biarkan semuanya mengalir dan berjalan dengan sendirinya, maaf aku tak bisa memberimu harapan, sama seperti dulu, aku tak ingin jadi penghalang kebahagiaan mu, jadi berhentilah menungguku." Ucapan Stella seolah mampu menghancurkan kepercayaan diri yang sudah Alex siapkan beberapa hari ini, tatapan mata Stella nampak seperti 14 tahun lalu ketika memutuskan untuk berpisah dari nya, begitu tajam menusuk.


Yah dan sekarang, Stella kembali berhasil mematahkan hatinya.


Jika diluar sana banyak wanita memimpikan tempat di sisi Alexander, tapi tidak dengan Stella yang justru menyia nyiakan tempat di sisi pria Alex, bahkan membuangnya.


Alex mengusap wajahnya, ia menoleh ke sisi kanan nya, menatap Kevin yang wajah dan sikapnya masih tak berubah sejak terakhir kali ia melambaikan tangan pada Stella, Alex sungguh merasa bersalah pada Kevin, terlebih kini ia pun mulai merindukan Andre juga.


Alex mengusap kepala Kevin dengan lembut.


Tiba tiba Kevin berbalik, menangis dan memeluknya dengan erat, "Hei kenapa menangis?" Tanya Alex.


Namun kevin tak kunjung bicara, "papi … " ucap nya ketika tangisnya mulai reda. 


Sebisa mungkin Alex mencoba untuk tersenyum ketika Kevin menatapnya, ia tak ingin Kevin mengetahui bahwa papinya sedang patah hati.


"Berjanjilah padaku, papi akan membawa mommy dan saudaraku pulang ke Jakarta, aku tak ingin yang lain, aku tak akan meminta hal lainnya, sejak dulu permintaan ku hanya satu, aku ingin mommy ku." 


Alex pun tidak bisa menahan tangisnya, haru menyelinap di bilik hatinya, perih bagai sayatan pisau, bagaimana tidak, anak seusia Kevin bisa merasakan sebuah kedekatan yang luar biasa dengan mommy nya, padahal sejak kecil Kevin selalu bersamanya.


"Baiklah, papi janji, kita akan membawa mommy pulang, jika mommy tak mau pulang, kita lah yang akan tinggal di dekat mommy, kamu setuju?" 


Kevin mengangguk cepat, ia kembali memeluk Alex dengan senyuman lebar di bibirnya.


✨✨✨

__ADS_1


Seminggu berlalu setelah Alex dan Kevin akhirnya kembali ke Jakarta.


Sama seperti Alex dan Kevin yang tengah patah hati, Stella dan Andre pun merasakan hal yang sama, hari hari mereka tak lagi sama seperti sebelum bertemu Alex dan Kevin.


Rasanya kini ada yang hilang di antara mereka.


Pagi ini Stella bangun tanpa semangat, ia segera mandi dan bersiap memulai hari dengan menyiapkan sarapan, entah kenapa ia ingin sup daging pagi ini.


Andre bergabung di meja makan, ia sudah rapi dengan seragam sekolahnya, bahkan sudah meminum susu yang Stella siapkan untuk nya.


"mom … aku berangkat," Andre berpamitan.


Stella berjalan ke meja makan membawa dua mangkuk sup panas untuk ia dan Andre sarapan. 


"Kenapa tidak sarapan dulu?" Tanya Stella lembut.


Andre menatap ke kursi kosong di sisinya, biasanya Kevin duduk di sana, kemudian beralih ke kursi kosong di sisi Stella, walau hanya sekali, tapi daddy Alex pernah ada duduk di sana.


"Entah lah mom, aku tidak lapar, nanti saja aku beli sandwich di perjalanan menuju sekolah." Tolak Andre halus, Andre tak ingin mengecewakan mommy nya, yang sudah bersusah payah memasak, tapi ia bahkan tak berselera untuk makan.


"Kenapa? Sejak keluar dari kamar wajahmu muram."  


"Tidak mom, aku sedang tak ingin makan sup pagi ini, melihat sup ini mengingatkanku pada Kevin." 


"Baiklah, tak apa kalau kamu tak ingin sarapan, nanti akan mommy berikan pada nona Betty, agar sup nya tidak terbuang." Stella mengusap tangan Kevin. "Tapi berjanjilah untuk membeli sarapan ketika di perjalanan," 


"Iya mom." 


Setelah kepergian Andre, Stella pun menatap hampa dua mangkuk sup di hadapannya, tiba tiba ia merasa sedih, benar kata Andre, Stella pun jadi teringat Kevin yang selalu menyantap habis masakan apapun yang Stella buat. 


Benarkah keputusan nya kali ini, jika dulu ia meninggalkan Alex karena terluka atas perselingkuhan Alex.


Tapi kini? Apa lagi yang membuat Stella enggan kembali pad Alex, Alex bahkan tak pernah menikah dengan siapapun setelah perceraian mereka, bahkan kembali pada Anindita pun tidak, haruskah ia tetap menjaga jarak dengan Alex, padahal setiap berdekatan dengan Alex, dada Stella seakan bergemuruh hebat, apalagi setelah kejadian dini hari itu, Stella bahkan membiarkan Alex menc umbu nya, membuat Stella terdiam, karena tak bisa melepaskan diri dari pelukan Alex, bahkan lama kelamaan tubuhnya bagai terhipnotis, hingga merespon sentuhan sang mantan.


Stella menepuk kedua pipi nya bersamaan, malu rasanya jika membayangkan kejadian dini hari tersebut. 


Dering ponsel membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


"Suami Kesayangku"


Stella menaikkan salah satu alisnya, sudah lama sekali nama ini tak menghiasi layar ponselnya. 


"Iya kak?" 


"Kevin sakit." 


Stella terperanjat, sontak ia berdiri hingga kursi di belakangnya pun terjerembab ke belakang.


"Kevin sakit?" Stella memastikan.


"Iya, sudah tiga hari, dan ia tak mau di bawa ke rumah sakit, ia hanya ingin didekatmu." 


Remuk rasanya hati Stella, di saat ia masih memikirkan perasaanya yang tersakiti, tanpa ia sadari ia juga melukai anak anaknya. 


"Baiklah aku pulang sekarang." Ujar Stella tanpa berpikir panjang.


"Bersiaplah, satu jam lagi pesawat pribadiku tiba," 


"Heem." 


Panggilan pun berakhir, Stella segera menelpon Mr. Tom memintanya agar membawa Andre kembali.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ayo mom … pulang yah … dianter sama para readers 🤗 jangan khawatir, kalo bos duda berani selingkuh lagi, mari kita santet ramai ramai ☠️☠️☠️


__ADS_2