Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
49. Sama Sama Canggung


__ADS_3

Setelah sehari sebelumnya  menguntit Stella, dan melihat bagaimana ia kini, membuat dada Alex kembali berdebar, orang yang selama ini ia cari, dan sangat ia rindukan tampak dari luar sangat baik baik saja, namun siapa yang tahu apa yang ia rasakan. 


Ingin rasanya ia berlari memeluk wanita yang kini diam mematung di hadapannya. 


Namun Stella bukan lagi istrinya, lagi pula ada anak anak mereka yang sudah remaja, apa yang nanti mereka pikirkan tentang kedua orang tuanya?.


Padahal Alex sudah berencana menemui Stella tanpa di ketahui anak anak mereka, tapi sepertinya, si Kembarlah yang sudah merencanakan pertemuan ini.


Alex hanya mampu tersenyum canggung.


Ia pun berjalan mendekati Stella.


Sama seperti Alex, Stella pun nampak memaksakan senyumnya, "Hai … " sapa Alex canggung.


"Hai juga," balas Stella, tak kalah canggung.


Stella sungguh benci dengan suasana canggung, membuatnya tak bisa berbuat apa apa.


Namun di situasi yang sama, anak anak mereka menampilkan ekspresi berbeda, wajah si kembar nampak cerah berseri.


Alex memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Anak anak, apa ini rencana kalian?" Tanya Alex sepelan mungkin, namun masih bisa didengar oleh ketiga orang di hadapannya.


Kevin dan Andre mengangguk bersama, kemudian tersenyum menampakkan barusan gigi mereka.


Stella yang masih gugup, sama sekali tak berbicara, karena apa yang ingin ia tanyakan, sudah ditanyakan oleh Alex.


"Maaf mom dad, kami hanya ingin merasakan apa yang dirasakan anak anak lain, yang bisa pergi bersama kedua orang tuanya." Ujar Andre, ketika kini mereka berempat duduk di salah satu gerai fast food.


Stella tak ingin memarahi anak anaknya, bagaimanapun ini hanya ungkapan tulus mereka yang ingin merasakan hal yang sama seperti teman teman mereka.


"Baiklah, karena kita sudah di sini, mommy ingin minta maaf pada kalian, maafkan keegoisan mommy, yang membuat kita tak pernah bertemu, mommy sangat merindukanmu," ucap Stella yang kini menggenggam lengan Kevin, "dan Andre tak pernah bertemu papi." Kini Stella berganti menggenggam tangan Andre.


"Jika saja hari itu kamu tak meminum susu coklat, mungkin sampai hari ini mommy tak mengenalimu," mata Stella berembun.


Alex sedikit terkejut, kini barulah Alex tahu alasan Kevin menghuni ruang VVIP di rumah sakit tempo hari.


"Tak apa mom, setidaknya mommy juga merasakan perasaan yang sama denganku, itu sudah cukup." Balas Kevin.


...🌻🌻🌻...


Suasana canggung kembali tercipta, sepasang mantan suami istri itu duduk berdampingan namun sama sama tak ingin buka suara.


Sesekali Stella melambaikan tangan ketika anak anaknya melambai dan berteriak memanggilnya.


Saat ini si kembar tengah tertawa bahagia, meluncur di tengah tengah arena ice skating.


Ini bahkan lebih canggung daripada ketika malam pertama mereka sebagai suami istri.


Malam itu, hari pertama Stella datang bulan, ia mengunci diri di kamar mandi mereka, padahal malam itu mereka sedang berada di presidential suite room Twenty Five Hotel.


Hampir satu jam Stella di kamar mandi, Alex yang kala itu juga merasa gugup, mulai resah dan mengetuk pintu kamar mandi.


Namun Stella yang masih canggung tak memberikan jawaban yang jelas, justru membuat Alex makin panik ketakutan, mengira Stella tengah mengalami sesuatu yang membahayakan.


Setelah 30 menit di bujuk, barulah Stella berani membuka pintu, "Kak, aku butuh pembalut dan obat pereda nyeri," itu ucapan pertamanya ketika akhirnya ia mau membuka pintu. 

__ADS_1


Kemudian Stella kembali menutup pintu kamar mandi.


Alex yang baru saja keluar dari mode panik, kini menjadi semakin panik, dia mulai pusing kemana harus mencari barang barang yang diminta istrinya.


Satu satu nya yang ia pikirkan adalah menelepon kakak perempuannya, tapi Alex justru ditertawakan oleh nya.


Akhirnya ia pun keluar hotel malam itu, dan membeli barang barang yang dibutuhkan Stella, karena tak tahu biasanya Stella memakai pembalut yang mana dan merk nya apa, akhirnya Alex memborong lebih dari 10 merk berbeda, dengan bermacam spesifikasi, yang bersayap, yang untuk malam hari, yang memiliki daya serap tinggi, dan entah apa lagi.


Sungguh pengalaman tak menyenangkan, ia benar benar menahan malu, kenapa justru di malam pengantinnya ia membeli barang barang pribadi perempuan, tapi hingga saat ini, pengalaman itu menjadi pengalaman pertama sekaligus pengalaman terakhirnya, karena di bulan berikutnya Stella positif mengandung anak pertama mereka, dan setahun setelah si kembar lahir, mereka bercerai.


Sungguh kehidupan pernikahan yang teramat  singkat.


Tiba tiba kedua mata Alex berembun, ia sendirilah yang membuat pernikahan mereka hancur.


Dengan kasar Alex menghapus air matanya agar tak terlihat oleh Stella.


"Kenapa tidak pernah kembali ke Indonesia?"


"Aku sibuk."


"Sibuk atau ingin menghindar dariku?" 


"Keduanya, karena aku bahkan tak ingin lagi mengingatmu." 


"Kenapa? Kamu masih membeciku?"


"Ya … sangat." 


Alex memejamkan mata sesaat, sudah ia duga jawaban Stella akan semenyakitkan ini, tapi dia masih ingin bertanya.


"Begitu benci nya, sampai kamu bahkan mengganti namamu? agar aku tak menemukanmu?"


Suara ponsel membuyarkan kecanggungan diantara mereka, dengan cepat Stella merogoh tas, benar saja itu telepon dari rumah sakit.


"Dokter Anthony," gumam Stella, "Iya dok,?" 


"Dokter Risa, tuan Yoseob, mendapatkan donor hati, pendonor berusia 27 tahun, petugas keamanan, yang mengalami kekerasan saat bertugas, dan kini keputusan mati otak akan segera dilakukan."


"Oh benarkah?" Jawab Stella dengan wajah berbinar.


"Tapi ada sedikit masalah dok,"


"Apa?"


"Pebedaan ukuran liver tuan Yoseob, dan liver pendonor," 


"Tak masalah, kita ambil, nanti kita sesuaikan ukurannya di meja operasi, aku takut tak akan lagi ada kesempatan untuk tuan Yoseob,"


"Baik dok, saya akan memerintahkan dokter Gina unyuk menjemput liver dari pendonor." 


Panggilan pun berakhir, Stella buru buru berdiri, tentu saja hal itu membuat Alex kaget. 


Dengan cepat Alex menahan lengan Stella, namun Stella menatap tajam ke arahnya, buru buru Alex melepaskan genggamannya, "oh maaf, tapi kamu mau kemana?" 


"Aku harus kembali ke rumah sakit, Ada operasi yang harus segera kulakukan."


"Aku antar, tadi aku bawa mobil." Alex mencoba mengambil hati Stella.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku datang bersama sopir," jawab Stella, "lagi pula operasiku akan berlangsung lama," 


"Tak masalah, aku akan menunggu sampai selesai." Alex mencoba lagi.


"12 jam, kali ini operasiku berlangsung selama 12 jam, yakin akan menunggu?"


Alex tercengang, belum pernah ia mendengar ada operasi yang berlangsung selama itu.


"Jika di mulai 30 menit lagi, kira kira baru akan selesai tengah malam nanti." Stella melemparkan senyumnya, entah apakah itu layak di sebut senyum manis atau senyum terpaksa, "jaga anak anak, jika sudah selesai aku akan menelpon Andre atau Kevin."


"Kenapa tidak menelepon ku?" 


"Aku tak lagi menyimpan nomor mu." Kalimat Stella bagaikan sebuah tamparan keras.


"Aku bahkan tak pernah mengganti, no ponselku," ucap Alex lirih, di wajahnya kini jelas tergambar kekecewaan.


Namun Stella mengacuhkannya.


Ia pun berlalu pergi Alex hanya menatap mantan istrinya yang berjalan menjauh dengan pandang sedih.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bos, othor mewek bos 😭


.


.


.


.


Besok coba dideketin lagi yah 💪


.


.


.


.


.

__ADS_1


di eps ini, othor agak bingung mendefinisikan perasaan Stella, antara Marah tapi rindu🤭 antara benci tapi cinta 🥰


__ADS_2