Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
99. Oh, Dimas.


__ADS_3


Oh, Dimas.



Ke empat nya sarapan di selingi obrolan ringan penuh canda tawa, dari balik jendela dapur, Ima sang pengasuh Kevin ikut menitikkan air mata, ia adalah salah satu saksi hidup bagaimana keluarga kecil majikannya porak poranda di terpa badai perceraian, puluhan tahun tak ada kabar, tiba tiba tuhan mengirimkan selaksa harapan dengan bertukarnya si kembar, dan sungguh ajaib, tak lama sesudahnya tuhan mengizinkan keluarga ini kembali merapikan puzzle kehidupan mereka, hingga utuh seperti sedia kala.


Tiga puluh menit kemudian tiga mobil mewah keluar dari pekarangan rumah keluarga geraldy, Alex langsung ke tempat kerja nya seperti biasa didampingi Dimas, si kembar diantar sopir ke sekolah mereka, dan Stella pun demikian ia menuju rumah sakit bersama sopir, sebenarnya Alex tak keberatan mengantarkan nya ke rumah sakit, namun Stella menolak, karena tak ingin membuang banyak waktu di jalan, mengingat rumah sakit dan Twenty Five Hotel berlawanan arah.


"Dimas sudah siap dengan jawabanmu?" Tanya Alex di tengah kegiatannya memeriksa dokumen pekerjaan yang masih menumpuk usai ia pergi berbulan madu.


Deg ..


Dimas terkejut, ia sama sekali tak memikirkan pertanyaan Alex, karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan Alex, belum lagi waktunya bersama si kembar, membuat nya benar benar lupa. "Jawaban apa ya bos?" Tanya Dimas pura pura tak paham.


"Perlu aku minta salinan tertulis dari pihak bank, agar kamu bisa melihat dengan jelas?" Hardik Alex.


Alex tak pernah mempermasalahkan besarnya uang yang ia berikan pada Dimas, yang kadang Dimas gunakan untuk membeli sesuatu, dan sejauh ini Dimas selalu memberitahunya, hanya saja transaksi terakhir nya kali ini, terlihat mencurigakan, dengan nominal yang terbilang fantastis, Alex hanya ingin tahu apa yang Dimas beli hingga mengeluarkan nominal sedemikian rupa.


“sebelumnya saya minta maaf bos, ini sudah dua kali saya memakai kartu kredit anda,” aku Dimas.


Alex menaikan alisnya, “hmmmm … lalu?”


“Dan, maaf untuk transaksi terakhir saya benar benar tidak tahu berapa nominalnya, karena saya … saya … lupa meletakkan struk pembeliannya,” jawab Dimas gugup.


“Apa yang kamu beli dengan nominal sebesar itu?” tanya Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen pekerjaan yang   tengah ia baca.


“Dua kali transaksi, dan keduanya digunakan untuk membeli gaun.” jawab Dimas pelan.

__ADS_1


kali ini Alex menghentikan kegiatannya, “gaun? sekarang kamu juga memakai gaun?”


Dimas kembali kebingungan, “ti … ti … tidak bos, tentu saja tidak,” jawab Dimas tak terima.


“Lalu?”


Kedua tangan Dimas mulai berkeringat karena gugup, “aku  membelinya untuk mengganti gaun seorang gadis,” akhirnya terlontar juga jawaban itu, kini bukan hanya tangannya yang berkeringat, punggung dan pelipisnya pun sama, padahal pendingin udara di dalam mobil bekerja maksimal. “kali pertama ketika kita menghadiri pesta pernikahan nona Elena, dan kali kedua ketika pesta pernikahan anda, dua kali juga saya membuat gaun gadis itu ternoda oleh makanan, dan sialnya noda tersebut tidak bisa dibersihkan, jadi saya mengambil cara tercepat, mengganti kedua gaun tersebut, tapi yang kedua, kami terburu buru karena sudah larut dan butik akan segera tutup, jadi saya tidak memastikan berapa berapa harga gaun tersebut.”


“Siapa gadis itu?”


Dimas kembali dibuat terkesiap, pasalnya lagi lagi ia tak bisa menjawab, “entah lah bos, saya lupa menanyakan namanya,” jawab Dimas Lesu.


“ckckckck …  sebenarnya kamu ini bodoh atau apa hah?” Alex sebenarnya sangat ingin marah bahkan membentak Dimas, namun ia tak tega manakala mengingat Dimas sudah banyak berjasa pada dirinya dan juga keluarganya. “apa kamu ingin tahu berapa harga gaun itu?” tanya Alex dengan nada sepelan mungkin.


Dimas hanya diam.


ciiiittttt …


Tiba tiba dimas menghentikan laju mobil yang ia kendarai, kontan terdengar suara klakson bersahutan, bahkan kepala Alex terbentur  membentur kaca mobil, “hei … kamu ingin membuatku mati muda, aku baru saja menikah, jika sampai wanitaku menjanda kembali, aku pastikan akan menghantuimu seumur hidupmu…” akhirnya Alex berteriak keras karena ulah Dimas, yang hampir membuat mereka celaka.


“mmmm maaf bos, sungguh saya tidak sengaja, saya hanya terkejut bos,” jawab Dimas dengan suara memelas, hanya mendengarnya saja Alex tak tega.


Alex hanya mendengus kesal, tak sampai hati ia melanjutkan amarahnya. 


“Cari tahu siapa gadis itu, latar belakang keluarganya, apa pekerjaannya, pokoknya semuanya …” perintah Alex, “aku beri waktu dua hari, jika tidak berhasil, kamu harus bersiap hanya menerima 50% gaji sampai seluruh hutangmu lunas.”


Dimas sudah sangat hafal, jika Alex memberinya perintah beserta ancaman, artinya ia sedang tak ingin di bantah.


***

__ADS_1


Sementara itu, kehebohan tengah terjadi di sebuah butik ternama ibu kota.


Yuna’s Boutique. nama  butik tersebut, sesuai dengan nama sang pemilik, dan kini Yuna tengah dipusingkan masalah Gaun yang hilang, gaun itu bukan gaun biasa, gaun itu spesial, dan dibuat dengan bahan sangat spesial, di pesan langsung oleh seseorang yang spesial. 


“Nona, sekitar satu jam lagi, nona Meta Permana akan tiba.” ujar salah seorang pegawai Yuna.


Sekali lagi Yuna memijat keningnya, Tiga minggu yang lalu, ia mendapat laporan dari penjahit yang mengerjakan gaun spesial tersebut, dan ia senang sekali, karena butuh waktu satu tahun untuk mendapatkan kain sutra premium tersebut, benang sutra nya saja termasuk dalam kategori sutra langka  yang berasal dari cina.


Gaun sutra premium itu pesanan Khusus model dan artis ternama ibu kota, Meta Permana, artis yang kini sedang naik daun popularitasnya, Meta memesan Gaun tersebut untuk menghadiri acara awward, yang rutin diadakan setiap tahun oleh salah satu stasiun TV nasional.


Dan kini Yuna harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa gaun tersebut telah menghilang. 


“Panggil pegawai yang bertugas saat itu.” pinta Yuna pada Dora sekretarisnya.


“Baik nona.” jawab Dora.


Tak lama Dora kembali bersama dua orang gadis yang malam itu bertugas di shift terakhir, kedua  gadis itu juga nampak sangat pucat karena ketakutan, mereka adalah dua pegawai baru butik tersebut, malam itu mereka hanya diminta untuk menyimpan gaun tersebut tanpa di beri instruksi lebih lanjut,  sebenarnya kedua gadis itu sama sekali tak merugikan butik, karena gaun tersebut berstatus terjual, bukannya dicuri atau hilang, hanya saja gaun itu terjual pada seseorang yang tidak seharusnya, dan mengingat seperti apa tabiat Meta jika di belakang layar, sudah pasti sesaat lagi Meta akan mengamuk. 


“Apa kalian benar benar  tidak tahu, siapa pembeli gaun itu?” Yuna langsung bertanya tanpa basa basi.


Kedua gadis itu menggeleng, pertanda mereka benar benar tidak tahu apapun.


“Nona … ini baru saja tiba, rekapitulasi data siapa saja yang membayar menggunakan kartu Kredit hari itu.” Dora menyodorkan tablet berisi laporan rekapitulasi dari pihak bank.


Yuna melihat satu persatu deretan nama customer nya yang membayar menggunakan kartu kredit. 


Dan di deretan tanggal dan jam tersebut, tertulis sebuah nama yang sudah sangat familiar, karena ia juga kerap menyambangi butik untuk memesan puluhan setelan kerja baru.


Alexander Geraldy.

__ADS_1


__ADS_2