
Pagi itu dia mendatangi cafe rumah sakit, bermaksud membeli stok camilan untuk si kembar, cappuccino untuk dirinya sendiri, dan juice buah untuk Alex.
Rasanya beberapa hari ini dia begitu santai, tak banyak yang ia kerjakan, hanya menemani si kembar di rumah sakit, karena sedang dalam masa cuti, dan jadwal praktek nya sedang dialihkan ke dokter Anthony.
William Medical Center Jakarta, banyak sekali perubahan di sisi infrastruktur nya, pelayanan untuk pasien juga sudah tersistem dengan baik, walaupun jumlah pasien membludak, tapi tak terlalu banyak antrian di sana sini, pasti nya Richard bekerja dengan keras untuk memperbaiki semua ini.
Ia jadi teringat Richard, ia bahkan belum menelepon kakaknya, tapi sepertinya Richard sudah tahu jika ia sedang di Indonesia sekarang, karena kemarin siang mama Anna sudah menemuinya di rumah sakit.
Setelah mendapatkan semua yang ia pesan, Stella memutuskan untuk kembali ke kamar Kevin, kamar yang kini jadi rumah singgah bagi Alex, dirinya, dan anak anak.
Stella sengaja mengambil jalan memutar, agar bisa sekalian berolahraga ringan, namun sepertinya ia merasa salah jalan, karena jalan yang ia lewati ini adalah jalur khusus menuju kantor direktur rumah sakit, ruangan Richard kakak nya.
Stella pun berbalik, hendak mencari jalan lainnya, tapi langkahnya terhenti, manakala melihat Richard berdiri di ujung lorong, Stella yang terkejut, langsung menghentikan langkahnya.
Richard berjalan mendekatinya, ia berhenti manakala jarak mereka sudah dekat.
"Kenapa berbalik?"
"Maaf kak, sepertinya aku salah jalan."
"Masuklah, kita bicara di dalam,"
"Di taman saja kak, udaranya lebih segar."
"Baiklah, ayo ke taman."
Mereka duduk di bangku taman, menikmati semilir angin pagi dan sinar matahari yang masih terasa hangat di kulit.
"Bagaimana keadaan Kevin?"
"Sudah lebih baik kak, ia juga sudah bisa leluasa bergerak, jika dibandingkan kemarin."
"Syukurlah." Richard menarik nafas lega. "Bagaimana keadaanmu? Apa kamu juga baik baik saja?"
"Iya kak, aku baik baik saja."
"Apa kamu juga bahagia sekarang? Karena Bisa kembali memeluk si kembar?"
__ADS_1
Stella mengangguk.
"Alex sudah mulai bertindak."
"Maksudnya kak?"
"Alex tidak memberitahumu?"
Stella menggeleng menatap Richard.
"Dia sudah memulihkan nama Andre, anakmu kembali menjadi Geraldy."
Stella tersenyum kecil, "sejak awal mereka memang milik keluarga Geraldy."
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu juga akan kembali padanya?"
"Aku belum memutuskan kak, aku masih berusaha meyakinkan hatiku, aku rasa aku masih takut di sakiti kak."
"Itulah salah satu alasan kakak menjauhkanmu darinya, termasuk mengganti identitas mu."
Stella membelalakkan matanya. "Jadi selama ini?"
Kedua mata Stella berembun menatap wajah kakak sulungnya, terlahir sebagai bungsu di keluarganya, membuat Stella menerima begitu banyak cinta dari orang tua dan kedua kakak nya.
"Kamu tahu, papa sangat menyayangi mu, aku rasa itulah alasan papa memintamu berlatih taekwondo, agar kamu bisa menjaga dirimu sendiri, jika ada lelaki yang menyakitimu, kamu bisa bangkit dan melawan, bukannya diam menangis di sudut ruangan, karena disitulah harga dirimu dipertaruhkan."
Stella kembali menatap Richard dengan pandangan nanar, "kakak … "
"Jika kamu siap katakan pada ku, aku akan segera memulihkan identitas mu, kembalilah pada Alex jika kamu masih mencintai dan mengharapkan nya, tapi ingat satu hal, jika Alex menyakitimu lagi, jangan lemah dan diam, kamu harus melawan."
Stella menghapus air matanya, ia terharu ternyata selama ini ia sudah berburuk sangka pada kakak nya, lalu Stella memeluk erat Richard dan menangis di dada kakak sulungnya tersebut.
"Terima kasih karena telah membuatku jadi Stella saat ini,"
Richard pun balas memeluk adik perempuan satu satunya tersebut.
"Kenapa kalian reuni keluarga tanpa mengajakku?" Tiba tiba sebuah suara mengejutkan mereka.
__ADS_1
Stella menoleh, "sejak kapan kamu bekerja disini? Bukannya kamu ingin tetap di London demi menunggu gadis yang kamu cintai?" Tegur Stella pada saudara kembarnya, Steven.
"Apa boleh buat, kakak menyuruhku pulang, karena jika aku terus di sana mama juga akan terus menetap di sana, lagi pula kasihan mama karena harus jauh dari kedua cucu nya." Steven dengan santai mengobrak abrik isi kantong plastik milik Stella, dia memilih beberapa roti lalu mulai memakannya.
"Hei … itu milik si kembar, kenapa kamu memakannya?" Tegur Stella.
"Kenapa kamu jadi pelit, aku lapar, tadi belum sempat sarapan, lagi pula mereka bukan bayi yang akan menangis seharian."
Akhirnya Stella pun merelakan camilan si kembar di habiskan oleh Steven, bahkan juice milik Alex pun di minumnya, biarlah nanti ia bisa membelinya lagi.
Jika dipikir pikir lagi, Stella jadi teringat ketika ia dan Steven masih di primary school, Steven lebih suka memakan bekal dari kotak makan siang milik Stella, dari pada dari kotak makan siang miliknya sendiri, padahal mama Anna selalu memberi mereka bekal yang sama, karena itulah kini Stella hanya bisa pasrah manakala Steven kembali memakan roti dan beberapa camilan untuk si kembar.
"Kenapa sejak dulu kamu suka sekali memakan makanan ku?" Tanya Stella sengit.
"Entah, aku selalu merasa mama lebih menyayangi mu, jadi aku suka mengambil apapun yang disiapkan mama untukmu."
Stella menaikkan alisnya, sungguh heran ketika mendengar apa yang diucapkan kakak kembarnya tersebut, setelah menjadi seorang ibu, Stella selalu merasakan kasih sayang nya pada si kembar sama besarnya, tidak membedakan satu sama lain, jadi dari mana pikiran konyol itu berasal?, mana ada seorang ibu yang pilih kasih seperti itu.
"Ayolah, Aku ingin berkenalan dengan Kevin, 1 jam lagi aku ada operasi."
Stella pun bangkit, "Selama di jakarta, bisakah kamu membawa Kevin tinggal dirumah kita?" Tanya Richard, ada tatapan penuh kerinduan di sana, Stella tahu, Richard pasti sangat merindukan Kevin, dahulu pun Kevin sangat lengket pada kakak nya, terutama ketika Stella sibuk merawat Andre di rumah sakit.
"Baiklah, nanti aku tanyakan pada Kevin, semoga dia tak keberatan."
Stella membawa Steven kembali ke cafe, membeli lagi apa yang tadi di makan oleh saudara kembarnya.
Ketika hendak kembali ke kamar si kembar, seseorang menyapa mereka, "dokter Steven?"
"Oh suster Anin." Jawab Steven.
"Dokter, saya mau mengingatkan jadwal operasi anda, satu jam lagi."
"Baiklah, terima kasih sudah mengingatkan, aku mau mengunjungi keponakanku sebentar, sebelum ke kamar operasi,"
Suster Anim mengangguk, "baiklah dok, saya akan menelepon anda begitu ruang operasi siap, tolong tanda tangani berkas ini dulu dok," Suster Anin menyerahkan dokumen pasien yang harus segera di tanda tangani Steven.
"Oh iya suster, kenalkan ini adik kembarku, Dokter Risa."
__ADS_1
Suster Anin mengangguk ramah, ia mengulurkan tangan pada Stella, kedua nya saling berjabat tangan, sama sama tak mengetahui bahwa ada nama Alexander diantara mereka.