
Oh, Dimas.
Malam itu, Alex dan kedua putranya memakai batik dengan motif senada, begitu pun Stella yang memilih kebaya dan kain songket, untuk mengimbangi penampilan suami dan kedua putranya, penampilan mereka melambangkan penghormatan, keseriusan, dan kesungguhan untuk meminang seorang Gadis bagi salah satu anggota keluarga mereka.
Siang tadi Alex mendapatkan telepon dari Elena Sebastian, yang menanyakan perihal lamaran pada ipar sepupu nya, Alex Pun membenarkannya, dari Elena lah, Alex mengetahui siapa Hana sebenarnya, Alex jadi semakin yakin bahwa keputusan nya untuk meminta Dimas meminang Hana tidaklah salah, karena kini ia yakin Hana adalah Gadis baik yang sempurna untuk Dimas.
Alex dan Stella benar benar bersikap seperti seorang kakak kepada adik mereka, mengingat Dimas sudah begitu setia mendampingi Alex di tengah masa masa sulitnya, walaupun untuk mendampingi seorang Alex tidak semudah yang dibayangkan, tapi semua mampu ia lalui dengan baik, hingga kini Alex menjadi pebisnis yang disegani.
Dimas pun merasa benar benar bersyukur memiliki Alex disisinya, satu satunya keluarga yang ia miliki, dan ia hormati.
Dengan didampingi keluarga yang hangat, acara lamaran berlangsung lancar tanpa hambatan, bahkan Stella sendiri yang menyiapkan segala sesuatunya hingga hari pernikahan tiba, senyum bahagia mengembang di bibir kedua mempelai, usai acara pernikahan berlangsung.
Akhirnya gaun berharga fantastis itu tampil ke hadapan publik, karena di hari bahagia kedua mempelai, Stella secara khusus meminta Hana mengenakan gaun tersebut di pesta pernikahan mereka, itu semua untuk membuktikan kebenaran perkataan Alex.
Sementara itu di sebuah unit apartemen mewah milik Meta Permana, gadis itu sungguh meradang, ia mengamuk dan marah seorang diri, pasalnya ia mendapat ancaman dari semua pihak, termasuk dari pihak produk kosmetik yang memakai dirinya sebagai brand ambassador, jika Meta tak mengakhiri pemberitaan tersebut, ia terancam akan mendapat pemutusan kontrak kerja.
__ADS_1
Usai Alex mendeklarasikan ancamannya pada penyebar berita kala itu, kontroversi gaun bernilai 100 juta menghilang begitu saja seakan akan berita itu tidak pernah ada, pun juga Meta Permana yang seolah tak lagi berkutik, setelah mendapat ancaman dari berbagai pihak, ia tak berkutik, apalagi berani menunjukkan wajahnya di layar kaca.
Bukan hal yang sulit bagi Alex, karena ia nyaris sudah bertemu dengan banyak rekan bisnis, rata rata dari mereka saling mengenal, bahkan tak jarang saling membutuhkan.
✨✨✨
Stella tengah gelisah menanti, sang waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Alex belum menunjukkan tanda tanda akan pulang, beberapa saat yang lalu Stella menghubungi ponselnya, namun tak ada jawaban.
Ini sudah hari ke tiga sejak Alex bekerja seorang diri, karena Alex memberikan hari libur pada Dimas usai pria itu menikah.
Dan beginilah efeknya, Alex baru tiba di rumah setelah pukul sepuluh malam, bahkan di hari pertama nyaris jam dua belas malam baru tiba di rumah.
Tawa Alex melebar manakala ia melihat sang istri tengah gelisah menantikan kedatangannya, rasa lelah nya musnah seketika manakala menatap wajah lelah Stella, “Pasti dia juga lelah sekali, setelah seharian berada di rumah sakit,” gumam Alex.
“Terima kasih pak Wawan,” ucap Alex pada sopir pribadinya.
“Selamat istirahat tuan.” jawab pak wawan.
Alex berjalan menghampiri Stella, yang masih setia menantikannya, sebuah kecupan ia labuhkan di puncak kepala Stella, “kenapa tidak istirahat saja, pasti kamu juga lelah, setelah seharian berada di rumah sakit.”
__ADS_1
“Lelahku akan hilang ketika melihatmu sampai di rumah dengan selamat, ayo masuk, aku siapkan teh hangat.” balas Stella, karena jujur saja, sejak kembali menikah dengan Alex, Stella susah memejamkan mata jika Alex belum tiba di rumah.
“Tunggulah di kamar, aku akan siapkan teh hangat,”
Alex mengangguk sebelum menaiki tangga menuju kamar mereka, ia melepas jas dan dasinya, kemudian melemparkannya ke tempat baju kotor, ingin segera membersihkan diri sebelum beristirahat.
Tak perlu waktu lama, ia pun keluar dari walk in closet dengan piyama tidurnya, dan Stella sudah menantinya di sofa, sungguh pemandangan indah sebelum mengakhiri hari dengan beristirahat, menatap Stella yang tengah serius menyaksikan drama Action favoritnya, bertahun tahun ia tak pernah melihat pemandangan seorang wanita berada di dalam kamarnya, dan sekarang ia kembali menikmati momen tersebut, tentulah terasa sangat spesial.
Tiba tiba Alex teringat sesuatu, kemudian ia bergabung bersama Stella di sofa, “Selamat dua bulan pernikahan kita sayang.” ucapnya, disertai pelukan hangat.
Stella menoleh, “benarkah sudah selama itu kita menikah, aku masih berpikir baru kemarin.”
“mmmm aku jugaa berpikir begitu, rasanya jika bersamamu waktu seakan berhenti berputar," Balas Alex, yang sudah mulai menelusupkan wajahnya ke leher dan tengkuk Stella, menikmati aroma yang selalu membuatnya terbuai, nafas keduanya mulai memburu, sejalan dengan tangan keduanya yang kini menjelajah tak terkendali.
"Sepertinya ukuran mereka kini berbeda?" Bisik Alex ketika melihat pemandangan indah terpampang di depan matanya. "Seingatku ukuran mereka tak sebesar ini dua bulan yang lalu? Mungkinkah kamu sedang hamil?" Tebak Alex, ketika melihat perubahan ukuran dada sang istri.
Stella sendiri terkejut mendengar pengakuan Alex, apa semua pria memang selalu seperti suaminya, yang bahkaningat dengan jelas ukuran dada istri nya, tapi kemudian ia mulai memikirkan pertanyaan Alex.
"Bukankah terakhir kali kamu datang bulan ketika kita di raja ampat?" Tanya Alex lagi.
__ADS_1
"Iya yah seperti nya kakak benar, besok aku akan memastikannya."