
Lain si kembar, lain pula Alexander, semalam ia menginterogasi Andre, hatinya benar benar terasa diremas dengan kuat oleh fakta, bagaimana Stella menjalani hidup nya setelah mereka berpisah.
Dari pengakuan Andre, Alex jadi tahu bahwa yang mengasuh Andre sejak kecil adalah Anna Nathaniel, yang di bantu oleh seorang nanny, sementara Stella melanjutkan pendidikannya.
Bahkan Alex semakin ingin mengubur dirinya hidup hidup, ketika mengetahui bahwa selama menjalani masa pendidikannya, Stella nyaris selalu melewatkan hari ulang tahun Andre, karena selalu menghabiskan waktunya di rumah sakit, Stella baru benar benar bisa merayakan Ulang tahun Andre, setelah mereka tinggal di Singapura sejak 5 tahun yang lalu.
Dua tahun tinggal bersama menjalani pernikahan mereka yang teramat singkat, membuat Alex paham, bahwa Stella sebenarnya sosok yang lembut dan keibuan, namun dari luar dia juga bukan seseorang yang mudah ditindas secara fisik.
Lamunannya buyar, manakala seseorang yang ia tunggu berjalan memasuki cafe di lobby depan rumah sakit.
Pagi itu Stella memakai rok span berwarna hitam yang panjangnya Hingga di bawah lutut, dengan atasan kaos rajut berwarna coklat terang yang nampak membentuk tubuhnya, di tangannya dia membawa sebuah paper bag dengan ukuran besar.
Stella tersenyum ramah ketika beberapa staf rumah sakit menyapanya.
Stella memasuki cafe, memesan cappucino hangat, dan beberapa croissant untuk ia dan kevin sarapan.
Sambil menunggu pesanannya siap, Stella duduk di salah satu kursi, dia nampak mengeluarkan ponselnya, karena tidak ada hal yang penting, ia pun meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Alex menundukkan wajahnya dalam dalam, manakala Stella nampak mengedarkan pandangan ke seisi cafe, bagaimanapun ia belum ingin ketahuan, karena pengintaian baru saja dimulai.
Alex kembali mengangkat wajahnya, ia memakai masker hitam dan kaca mata hitam, hingga wajahnya nyaris tak terlihat, ponsel dan yang ia gunakan sebagai kamuflase tak mampu mengalihkan perhatiannya dari sang mantan istri.
Alex memegang dadanya yang berdenyut nyeri manakala ia kembali bisa menatap wajah Stella.
Stella nampak semakin mempesona, Stella yang telah menjelma menjadi wanita dewasa, wajahnya berseri seri walau hanya dihiasi make up tipis seadanya, rambut hitam kecoklatannya dibiarkan tergerai indah, kepalanya sedikit bergoyang menikmati alunan musik di cafe.
"Dokter Risa … silahkan pesanan anda,"
Stella berdiri menghampiri asal suara, kemudian menyerahkan bukti pembayaran sebelum ia mengambil pesanannya.
Alex terdiam, 'kenapa dia dipanggil dokter Risa', pikirnya.
Alex berjalan dengan jarak aman, mengikuti langkah Stella, masih memikirkan nama dokter Risa yang rasa rasanya pernah ia dengar dan ia baca, tapi entah kapan dan dimana, Alex membiarkan tanda tanya itu menggantung tanpa jawaban.
Stella terus berjalan hingga ia berhenti di sebuah ruangan.
Alex berjalan mendekati ruangan yang dimasuki Stella, sekilas ia membaca papan nama yang tertera di sana kemudian berlalu begitu saja.
Dokter Marisa Nathaniel
__ADS_1
Spesialis hepatobilier Pankreas.
Alex berdiri di salah satu sudut lorong, namun pandangannya tetap mengarah ke ruangan yang Stella masuki.
Tanda tanya di kepala Alex semakin besar, kenapa namanya Marisa Nathaniel??, Bukankah itu nama belakang mama Anna?, Tanya Alex dalam hati.
Stella kembali keluar dari ruangannya, kali ini ia sudah memakai jas dokter dan kacamata, rambutnya yang semula tergerai, kini sudah diikat tinggi, namun masih membawa paperbag dan sarapan yang ia pesan, Alex kembali bertanya, kenapa dia tidak memakannya? Jadi untuk siapa ia membeli semua itu?.
Stella kembali berjalan menyusuri lorong rumah sakit, ia melirik jam tangannya, jadwal praktek nya masih satu jam lagi, "aku bisa menemani Kevin sarapan." Ujar Stella riang.
"Selamat pagi dokter Risa, putra anda sudah menunggu." Sapa beberapa perawat ruang VVIP.
"Terima kasih suster Angel." Balas Stella.
Tentu saja Alex tak mendengar sapaan itu, karena jaraknya cukup jauh, Alex kembali berjalan mengikuti langkah Stella.
Stella memasuki salah satu ruangan itu dengan wajah riang, lama berada di dalam ruangan tersebut, 'siapa yang dia kunjungi, hingga begitu lama'. Alex mendesah kesal.
30 menit kemudian, Stella keluar, dia menghampiri meja perawat, kemudian seorang perawat dan dokter residen mengikutinya menuju kamar lain di ruangan VVIP tersebut.
Ruangan yang dijaga oleh beberapa pria berpakaian serba hitam di depan pintu, Alex membelalakkan netra nya, dia melihat mata mata yang ia utus untuk Abimana juga berada di sana, 'jangan jangan?' .
Alex kembali mengingat pesan singkat yang dikirim oleh mata matanya, bahwa Abimana masih ingin berada di rumah sakit, karena dia merasa nyaman dengan dokter yang menanganinya kali ini.
Alex kembali gelisah karena pemikirannya, apakah Abimana memiliki perasaan pada mantan istrinya? Atau hanya sekedar rasa hormat pada seseorang yang sudah menyelamatkan nyawanya?.
Ah entahlah, kini kepala Alex semakin dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, ingin rasanya segera ia lontarkan, namun tertahan.
Lagi lagi nama dokter Risa yang memenuhi pikirannya, rasa rasanya pernah ia dengar, tapi kapan?
Alex teringat Dimas … ah iya sepertinya Dimas tahu sesuatu.
Sepuluh menit kemudian Stella keluar dari ruangan Abimana, dan segera meninggalkan ruangan VVIP, dia memberikan anggukan pada beberapa perawat yang ia lewati.
Kali ini tujuannya adalah tempat praktek nya di ruang rawat jalan, namun sebelumnya stella kembali ke ruangannya, kemudian keluar lagi dengan baju yang berbeda, walau masih mengenakan jas dokternya, kali ini ia memakai seragam dokter di William Medical Center, berwarna hijau tosca, baju dan celana berbahan katun itu tampak nyaman dipakai oleh para dokter yang bekerja di sana, sepatu heels yang tadi ia kenakan, kini sudah berganti dengan sandal karet.
Stella berjalan menuju ruang praktek nya, beberapa pasien tampak berseri melihat kedatangannya.
Setelah Stella memasuki ruang praktek nya, Alex mendekati meja perawat, dan bertanya berapa lama Stella waktu praktek nya.
__ADS_1
"Kurang lebih 3 sampai 4 jam, jika tidak ada operasi darurat." Jawab perawat dengan sopan.
Setelah mengucapkan terima kasih Alex pun berlalu, ia kembali ke Twenty Five Hotel, berganti kostum penyamaran, tak lupa ia menelepon Andre menanyakan keadaan putranya yang berada di kamar seorang diri.
"Hei boy, kamu gak papa, sepertinya pekerjaan papi masih lama." Alex memberi alasan pekerjaan untuk menutupi kebohongannya.
"No problem dad, selesaikan saja pekerjaan daddy, aku sedang bertukar pesan dengan Kevin."
"Ingat pesan papi."
"Daddy tenang saja, aku ingat semuanya." Andre berbohong.
Dua orang yang sama sama saling berbohong itu tersenyum simpul setelah panggilan mereka berakhir.
"Sorry dad … kali ini aku berbohong lagi tapi kami ingin daddy dan mommy bertemu, kami menginginkan keluarga yang utuh."
.
.
.
.
.
.
.
.
benar nak, daddy kelamaan actionnya, keburu di gaet rival ... 🔥🔥🔥
.
.
.
__ADS_1
.
ayooo absen, siapa yang pernah menguntit mantan 😁😁😁💃💃💃🤪🤪🤪