Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
84.


__ADS_3

Sejak satu jam yang lalu Andre terus menerus memeluk Stella, sama seperti Stella, air matanya bahkan tak berhenti mengalir, memikirkan Kevin yang entah saat ini di mana keberadaannya.


Stella benar benar tidak menyangka, kini ia benar benar melihat perubahan besar dalam diri Alex, Tak ada lagi Alex yang dulu, Alex yang kini benar benar memanfaatkan kekayaannya dengan baik, bahkan berani membayar mahal demi memiliki pengawal khusus untuk anak anak nya, bukan pengawal sembarangan, mereka benar benar para ahli bela diri profesional.


Mereka kini ada di markas Alex dan anak buahnya, sejak siang Alex mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Kevin, bahkan orang orangnya sudah meminta rekaman CCTV di TKP, namun tidak ada hasil, karena mobil mobil tersebut menggunakan plat nomor yang sudah dipalsukan, bahkan orang orangnya pun tak ada yang dikenali.


Kini harapan Alex hanya dia, mata mata yang ia ditempatkan di antara anak buah Abimana, apakah ia mengetahui sesuatu, lama menunggu ternyata mata mata itu belum juga mengabarinya. 


Alex melirik Stella dan Andre yang masih menangis di sofa, karena panik, sejak tadi ia bahkan belum memeluk mereka, pasti mereka sangat ketakutan, bagi Stella ini pertama kalinya, tapi bagi Alex ini kedua kalinya ia kehilangan Kevin, pasti Stella sangat mengkhawatirkan kondisi Kevin.


Wajah Stella tampak lesu dan tak bersemangat, padahal beberapa hari ini ia terlihat berseri seri, apalagi ketika membicarakan persiapan pernikahan.


Alex mendekati Stella dan Andre yang nampak masih saling berpelukan, Alex pun memeluk dua orang yang sangat ia cintai, sama sama berbagi kesedihan dengan mereka. 


"Padahal aku sudah berjanji padamu, tak akan membuatmu menangis, tapi ternyata aku belum bisa menepati nya, maaf." Bisik Alex di telinga Stella, ketika ia menarik wanita itu ke pelukannya.


Stella mendongak menatap wajah Alex, "bukan salahmu, semua ini terjadi, aku yakin Kevin pun tak ingin mengalami hal ini, aku hanya membayangkan, saat ini ia pasti sangat ketakutan, sendirian, entah sudah makan atau belum, siang tadi ia bahkan tak menyentuh makanannya," Stella kembali berurai air mata, sementara Andre kini sudah pulas dalam dekapannya.


Benar apa yang Stella katakan, kini Alex hanya bisa diam, ia pun memiliki kesedihan yang sama, hanya tak menampakkan tangisan, apalagi Kevin marah karena mengetahui masa lalunya yang sudah egois tak segera menjatuhkan pilihan.


Hingga pagi datang, keberadaan Kevin belum juga diketahui, Stella pun akhirnya menyerah, dan memilih menunggu di salah satu kamar di lantai yang sama dengan markas rahasia Alex beserta anak buahnya.


Namun hingga pagi tiba, Stella sama sekali tak bisa memejamkan mata. 


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya.


Alangkah terkejutnya Stella, pesan tersebut memperlihatkan Kevin tengah tidur dengan kondisi kaki dan tangan terikat, sungguh bukan pemandangan yang ingin Stella lihat, tapi kini terpampang di depan matanya, salah satu putranya tengah dalam kondisi menyedihkan, dan ia tak bisa melakukan apa apa.

__ADS_1


Detik berikutnya sebuah pesan masuk ke ponselnya.


✨✨✨


"Tuan, ponsel Gerry terlacak," Andy refleks berteriak, setelah semalaman ia bahkan tak memejamkan mata, agar tak melewatkan sesuatu yang sedang ia tunggu.


Abimana pun sama dengan dirinya, padahal pria itu sama sekali tak ada sangkut paut dengan putra dokter Risa, entahlah, tapi Andy menebak, Abimana mulai merasakan sesuatu pada dokter Risa, hingga ia memiliki beban moral untuk ikut mencari keberadaan putra dokter Risa.


"Benarkah?" Tanya Abimana, yang kini ikut mengamati kelap kelip titik merah di layar Laptop yang ada di hadapan Andy.


"Tapi sinyalnya sangat lemah tuan, saya khawatir, sinyalnya akan segera hilang, sebelum sistem kita sempat melacak lokasi Gerry."


"Tak apa, walau sedikit, setidaknya kita mendapat kejelasan." 


Andy mengangguk patuh.


Beberapa saat Kemudian Ponsel Abimana berdering, Abimana tersenyum sesaat, melihat siapa yang kini tengah menunggu jawabannya.


"Bagaimana transaksi mu, kenapa belum juga kembali ke Italia?"  Tanya Gio.


"Tadinya aku berencana segera kembali ayah, tapi tiba tiba ada hal darurat yang tak bisa ku tinggalkan." Jawab Abimana apa adanya, sungguh sungguh walaupun tak mengatakan hal darurat apa yang kini menghalanginya kembali ke Italia.


"Apakah dokter itu yang menghalangimu datang kembali pada Ayah tua mu ini nak??" Tanya Gio dengan nada teramat posesif.


Abimana terkejut, ia tak menyangka Gio mengetahui sesuatu yang bahkan tak pernah ia ceritakan, ah iya teringatlah ia pada laporan Andy beberapa hari yang lalu.


"Tidak ayah, ini tak ada sangkut pautnya dengan dokter Risa." Jawab Abimana mencoba menyembunyikan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Aaahhh jadi benar, wanita itu yang menghalangimu kembali padaku," Gio kembali mengulang perkataannya.


"Bukan begitu ayah, percayalah padaku, Aku akan kembali ke Italia, setelah sedikit memberinya bantuan." 


"Kembalilah nak, Ayah akan membebaskan anak dari wanita itu, kamu ingin membantunya menemukan anaknya kan??" Kali ini Gio terang terangan mengatakan bahwa ia lah yang menculik anak dokter Risa.


"Apa maksud ayah?" 


Abimana sontak berdiri, ia tak percaya ayahnya bisa bertindak sejauh ini hanya karena menginginkan ia segera kembali ke Italia.


"Kenapa kamu tidak percaya perkataan Ayah, heem?" Gio kembali bersuara, nada suaranya benar benar lembut, terlihat sekali ia begitu menyayangi Abimana, namun ia melakukannya dengan cara yang salah, itulah yang tak bisa Abimana pahami.


"Tuan, lokasi Gerry berhasil ditemukan," teriak Andy, yang juga terdengar di telinga Gio.


"Ayah, ku mohon jangan bertindak gegabah," Abimana berusaha membujuk Gio, "aku mohon ayah, aku akan kembali, tapi tolong katakan pada Gerry agar ia melepaskan anak dokter Risa." Ucap Abimana dengan panik, ia tahu Gerry sangat sanggup berbuat kejam. 


"Ada hubungan apa kamu dan dokter itu? Hingga kamu begitu memohon agar anak dari dokter itu selamat, baiklah, akan ayah selamatkan anak itu, tapi tidak dengan dokter itu."


"Ayah!!!!" Reflek Abimana bersuara keras pada Gio.


"Wanita itu akan merebutmu dari ayah, ingat nak, semua wanita itu busuk, tak ada satupun wanita yang baik di dunia ini, hanya ayah yang tulus menyayangimu." 


Panggilan berakhir, Abimana sungguh tidak menyangka, ayahnya sanggup berbuat senekat ini, hanya karena ia mengendus sesuatu yang tidak pasti.


"Apa ponsel Gerry masih aktif?" 


"Baru saja ponselnya mati tuan." Jawab Andy.

__ADS_1


"Haaiiiiissttt … Gerry, dasar b495at s14l4n, aku pastikan tak akan mengampunimu, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Abimana bersumpah dengan tatapan penuh amarah.


"Hubungi Gerry, atau salah satu orangku yang kini ikut dengan Gerry, Kita kembali ke Italia setelah berhasil menghubungi Gerry."


__ADS_2