Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
77.


__ADS_3

Sementara itu, di tempat lokasi yang sama dan tempat yang berbeda, Dimas nampak tengah berkeliling, melihat lihat konsep pernikahan Elena Sebastian dan Haris Aditya, ia sudah harus mulai mempersiapkan diri, bukan tidak mungkin besok tiba tiba Alex memberinya tugas baru, yakni menyiapkan pesta pernikahan sang bos dan dan mantan istrinya.


"Oh … bos, akhirnya hari bahagia anda segera tiba, selesai sudah tugasku menjadi istri cadangan mu, hahaha" Dimas bermonolog, merasa geli dengan sebutan yang ia sematkan pada dirinya sendiri.


Sekali lagi ia melihat sekeliling, nampaknya Asisten Seno memang mempersiapkan semuanya dengan sempurna, terbukti dengan meriahnya pesta pernikahan nona Elena, bahkan yang menikmati pesta bukan hanya para undangan, para pers yang tak diizinkan meliput di dalam Ballroom pun tetap merasa ikut menikmati pesta, karena begitu banyaknya hidangan yang tersedia untuk mereka. 


Tengah asik mengamati dan melihat megahnya pesta pernikahan Haris dan Elena, tiba Dimas dikejutkan dengan suara jeritan disusul kemudian sensasi panas membakar di dada dan perutnya yang kemudian panas itu terus menjalar hingga ke paha.


"Aw … panas panas panas, pekik seorang gadis yang juga mengalami kondisi yang tak jauh berbeda dengan dirinya, bahkan gadis itu memakai gaun manis berwarna putih, yang kini kotor akibat tumpahan kuah panas dari makanan yang tadi ada di kedua telapak tangannya.


Dimas pun panik, "nona anda tidak apa apa?" Tanya nya.


Gadis itu mendongak, "heh tidak apa apa bagaimana? Anda tidak melihat kondisi saya, gaun kotor, belum lagi cairan panas yang tumpah beberapa saat yang lalu, kalau tadi kulit saya terbakar, anda mau membiayai operasi plastik nya, agar mulus lagi seperti semula!!!" Jawab gadis itu tak terima.


Dimas hanya menelan ludah nya mendengar semburan pedas gadis itu, 'nih perempuan di tanya baik baik, jawabannya malah, meluncur kaya tembakan beruntun, pedes bener, gak ada manis manisnya sama sekali.' 


"Kok jadi nyolot sih, kamu pikir cuma kamu aja, nih gak lihat baju ku? Hah? Kamu yang bawa makanan, kamu yang menabrakku, kenapa jadi marah, seharusnya kamu berterima kasih karena aku sudah minta maaf," balas Dimas tak kalah sengit.


"Eh ngaca yah, sejak beberapa meter didepan sana, aku sudah bilang, 'maaf, permisi, aku bawa makanan panas' dan semua orang yang kulewati, menyingkir baik baik, gak kaya situ, malah terus jalan gak lihat depan, jadilah seperti ini." 


Dimas terdiam sesaat, 'apa benar yang dikatakan gadis ini?' Pikir nya, yah memang Dimas akui tadi ia tengah melamunkan pesta pernikahan untuk si bos, jadi mungkin saja ketika melamun ia tak menyadari telah menabrak gadis ini, pantas saja ia marah, udah kaya naga menyemburkan api.


"Benarkah?" Tanya Dimas penuh selidik.


"Ya benar lah, aku gak mau tahu yah, ganti rugi, gaun ini mahal, kedua mempelai khusus memesankan ini untukku." Ujarnya.


"Cih, kamu pikir aku percaya?"

__ADS_1


"Harus!!"


Dimas tertawa sinis.


"Heh dengar yah, mempelai pria yang ada di altar pernikahan itu kakak ku, dan sekarang direktur utama hotel ini adalah kakak iparku, sudah puas?" 


"Dasar gadis ingusan, kalau cuma begitu saja, apa yang bisa.kamu banggakan, toh ini semua bukan milikmu, kalau kamu membeli gaun ini dengan hasil kerja kerasmu, dan hotel ini adalah milikmu, barulah kamu boleh berbangga."


Gadis itu semakin marah, tangannya sudah terkepal kuat, ingin rasanya ia menendang pria tua yang kini berdiri di hadapannya.


"Dasar pria tua," desis nya, namun hal itu terdengar jelas di telinga Dimas dan ia tak terima, bayangkan saja, jomblo mapan seperti dirinya di katakan sebagai pria tua, hahaha apa kata dunia.


"Kamu bilang apa tadi?" Dimas melotot.


"Pria tua." Gadis itu menjulurkan lidahnya.


"Nenek lampir." Balas Dimas.


"Apa? Kamu bilang?" Bentak gadis itu, ia sungguh tak terima, karena yang berhak menyebutnya demikian hanya lah kakak kesayangannya, walau mereka kerap kali bertengkar jika bertemu. "Asal kamu tahu yah, yang berhak menjuluki aku 'nenek lampir' hanya kakakku saja."


Dimas tersenyum smirk, kini merasa diatas angin. 


"Aaaaa jadi benar, bukan cuma aku yang memberimu julukan 'nenek lampir', aku rasa wajar karena mulutmu memang pedas seperti nenek lampir, aku yakin beberapa bulan kedepan wajahmu pasti akan langsung keriput, jika kamu tak merubah tabiatmu." 


Gadis itu terdiam, dia benar benar marah, pria tua di hadapannya ini nampaknya lawan yang cukup tangguh untuk diajak berdebat, sekelebat pikiran melintas, ah sepertinya satu satunya jalan terakhir hanya itu, 'awas kamu yah'. 


Gadis itu tiba tiba merobek salah satu lengan bajunya, namun Dimas bertindak cepat, karena merasa sebentar lagi ia pasti dalam masalah, segera ia membungkam mulut gadis itu, kemudian menyeret ya menjauh dari keramaian.

__ADS_1


"Apa kamu gila, di tengah keramaian, kamu merobek gaunmu?" 


"Kenapa, takut? Ganti rugi, atau aku akan kembali kedalam dan membuat kehebohan," ancam gadis itu, seraya menengadahkan tangannya.


Dimas menggaruk tengkuknya, ia dilema, jika pergi sekarang membawa mobil, ia takut nanti Alex akan mencarinya, tapi jika keinginan gadis tak waras ini tak ia kabulkan, ia pun akan dalam masalah.


"Apa ada kendaraan, semacam motor atau apa? Aku takut jika memakai mobil, kita tidak akan sempat kembali kemari."


"Ada, nih kita pakai motorku," gadis itu mengeluarkan kunci motor dari dalam sling bag mini milik nya.


"Baiklah, tunggu sebentar." Dimas pun menghampiri petugas valet parkir, dan menitipkan kunci mobil Alex, sebelumnya ia tak lupa mengirim pesan pada sang atasan.


Kemudian mereka menuju parkiran motor, Gadis itu menunjuk salah satu motor matic yang terparkir di ruang parkir karyawan.


"Nih kuncinya," gadis itu menyerahkan kunci motornya pada Dimas.


"Kenapa bukan kamu saja yang membawa motornya?" Ejek Dimas, memang sebenarnya ia juga bermaksud menggoda gadis galak itu.


Plak …


Tanpa diduga, gadis itu justru melayangkan pukulan di bahu belakang Dimas, "dasar mesum, apa yang sedang kamu pikirkan dan akan kamu lakukan?" Pekik gadis itu.


Dimas tertawa dalam hati, sekaligus meringis menahan sakit di bahunya, 'keras juga pukulannya,' batin Dimas.


Akhirnya dengan motor Dimas membawa gadis itu ke butik terdekat, syukurlah Tak jauh dari Diamond Hotel, ada sebuah butik ternama yang masih buka, walau saat ini adalah hari libur.


Dimas membiarkan gadis itu memilih gaun yang ia inginkan, karena Dimas pun melakukan hal yang sama, ia memilih tuxedo baru untuknya, sebagai ganti tuxedo nya yang kotor karena noda makanan.

__ADS_1


__ADS_2