
Stella melepas semua atribut pakaian operasi yang ia kenakan, setelah semua terlepas ia menyambar ponsel dan berjalan menuju pintu, "terima kasih semuanya," Stella berpamitan dan tak lupa mengucap terimakasih, pada seluruh kru yang membantunya selama berada di ruang operasi.
Ia berjalan melewati pintu utama ruang operasi dengan terburu buru, setelah memberi penjelasan pada keluarga pasien tentang hasil operasi nya, ia pun berlalu, tujuan utamanya adalah ruangan pribadinya, tempat dimana Andre sedang menunggu dirinya menyelesaikan tugas.
Dirinya sungguh merasa sangat bersalah pada Andre, pada awalnya ia ke rumah sakit hanya untuk memenuhi jadwal praktek rawat jalan dan kunjungan pasien, namun siapa sangka ada 3 operasi darurat yang harus ia jalani hari ini, dan kini sudah menunjukkan pukul delapan malam, sementara Andre sudah dengan sabar menunggunya sejak pagi, ah jagoan kecilnya itu layak mendapatkan hadiah karena sudah bersabar.
"Dokter Risaaaa ..." Terdengar suara seseorang tengah memanggilnya.
Stella menoleh ke kanan, ternyata suster Yuna yang memanggilnya, ia berlari hingga nafasnya tersengal.
ketika sudah berada di jarak dekat, Suster Yuna nampak masih kesulitan mengatur nafasnya, "Tenang ... atur nafas, baru bicara." ujar Stella lirih.
"Dok, putra anda," Suster Yuna melaporkan dengan perasaan takut.
"Andre kenapa?" Stella yang mulai panik pun bertanya.
"Maaf dok, maaf kan saya." Tiba tiba suster Yuna menangis.
"Kenapa, memangnya ada apa dengan anakku?!!" suara Stella makin keras, manakala Melihat Suster Yuna menangis.
"Saya tidak tahu kalau Andre memiliki alergi Coklat, tadi saya hanya membelikannya susu Coklat dan sandwich seperti pesan anda, tak lama setelah meminum susu nya ... dia ... dia ... "
Suster Yuna menggantung kalimatnya, belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Stella sudah berlari kencang menuju Emergency room, air matanya mengalir deras, dia begitu menyesali dirinya sendiri, ia benar benar merasa menjadi mommy yang buruk, bagaimana mungkin ia bisa tidak mengenali putra sulungnya sendiri.
Flash back on
Satu jam sebelum kejadian.
Kevin masih setia menanti Stella menyelesaikan operasi nya, ia menunggu dengan sabar di ruangan pribadi Stella, ia tengah berbaring di sofa, asik memainkan game dari Smartphone milik nya.
Kini perutnya mulai lapar, usai makan siang bersama Dimas, hingga kini perutnya belum terisi apapun, "Mommy juga belum makan malam, padahal tadi siang aku tak tahu, mommy sudah makan siang atau belum," Kevin berbicara sendiri.
"Apa setiap sibuk, mommy selalu melewatkan makannya, bagaimana jika mommy sakit, mommy tidak boleh sakit," Kevin mulai gelisah, manakala membayangkan hal itu. "Haruskah aku membujuk mommy agar kembali bersama papi? dengan begitu mommy tak perlu bekerja, mommy cukup di rumah menantikan kedatanganku." kata katanya terhenti, Kevin tertawa bahagia membayangkan nya. Bahagianya jika itu benar benar bukan sekedar angan, setiap ia bangun tidur, setiap pulang sekolah, bahkan kapan pun ia sedih ia bisa berlari ke pelukan mommy, malah mungkin ia bisa minta seorang adik perempuan, pasti akan cantik dan lucu sekali dia, Kevin terkikik sendiri membayangkannya.
tok tok tok
terdengar suara ketukan pintu.
Kevin menoleh, suster Yuna sedang berdiri di depan pintu, membawa kantong berisi makanan.
"Hai And," sapanya, "aku membawa makan malam mu, tadi sebelum masuk ruang operasi dokter Risa berpesan, untuk membelikan mu makan malam."
Suster Yuna meletakkan sandwich dan susu coklat di hadapan Kevin, serta beberapa camilan, yang semuanya terbuat dari coklat.
Kevin menelan ludahnya sendiri, habislah ia, sepertinya malam ini penyamarannya akan terbongkar, Kevin ingin menangis rasanya, tak bisa menghindar atau pun menolak, karena ternyata suster Yuna juga membeli sandwich untuk dirinya sendiri, Kevin menggigit sandwich nya perlahan, berharap suster yuna akan segera pergi, tapi ternyata Suster Yuna tetap duduk di hadapan Kevin dan dengan santai memakan sandwich miliknya.
__ADS_1
"Terima kasih, sudah membelikanku makan malam, berapa lam lagi mommy di ruang operasi?" Kevin mengurai suasana tegang yang ada dalam diri nya.
"Jika dokter lain yang melakukan nya bisa lebih dari 2 jam, tapi dokter Risa bisa melakukannya kurang dari 2 jam." Jawab Suster Yuna santai.
Suasana kembali hening, hanya suara kecapan yang tercipta manakala keduanya mengunyah makan malam yang berada di genggaman masing masing.
"Oh iya, aku benar benar penasaran dengan satu hal," suster Yuna melirik Kevin "Aku sungguh penasaran seperti apa mantan suami dokter Risa?"
"Jadi suster begitu penasaran dengan daddy ku?"
"Iya, biasa nya pasangan suami istri itu seperti cermin, aku sungguh merinding membayangkan nya, jika dokter Risa saja sungguh hebat ketika di meja operasi, bagaimana dengan mantan suaminya, pasti dia juga lelaki luar biasa dengan pekerjaan yang ia miliki." Suster Yuna menerawang membayangkan sosok pria misterius tersebut.
Kevin tersenyum samar, "jika aku beritahu kakak, aku yakin kakak akan pingsan," Kevin tersenyum.
"Aahhh benarkah, sudah ku duga, dokter Risa adalah wanita luar biasa, jadi mantan suaminya juga pasti lelaki luar biasa."
Kevin mengangguk setuju, papi Alex memang luar biasa, bagi Kevin, dia adalah papi dan juga seorang teman yang menyenangkan.
"Ah lupa, ayo di minum susu nya," Suster Yuna membuka kemasan susu coklat di hadapan Kevin, kini tangan Kevin bergetar ketika mengambil botol susu dari tangan suster Yuna.
Jika ia minum, ia akan ketahuan, tapi jika menolak minum, ini pun akan menimbulkan kecurigaan.
"Eh ... kak, boleh kah aku minta air putih saja?"
"I ... iiya ... tapi ... aku sedang ingin air putih."
Jawab Kevin gugup.
Suster Yuna menatap meja Stella, tidak ada air mineral, karena ini hari libur, pasti petugas juga tak memberinya air mineral baru. "Sayang nya tidak ada, aku harus ke bawah dulu, agak lama gak papa? aku akan membeli air mineral."
Kevin mendesah lemah, "Ya sudah lah kak, tidak usah," Kevin merasa tidak enak meminta tolong pada suster Yuna untuk membelikannya sebotol air mineral.
Entah dapat dorongan dari mana, Kevin akhirnya meminum susu coklat di tangannya.
Ketika cairan berwarna coklat itu menyentuh tenggorokannya, kevin mulai merasa tak nyaman, tenggorakan nya langsung terasa bengkak, dan ia mulai kesulitan bernafas, Kevin menjatuhkan botol susu yang baru berkurang sebagian, nafasnya mulai berat, wajahnya kini memerah, tangannya bergerak memegang tenggorokannya, bahkan ia mulai merasa berhalusinasi mendengar suster Yuna berteriak memanggil namanya, tak lama kemudian ia hanya melihat kegelapan , hingga akhirnya ia tak bisa melihat dan merasakan apapun.
Flash back end
Stella terus berlari, lelah dikaki akibat berdiri berjam jam di ruang operasi, tak lagi ia hiraukan, air matanya terus mengalir deras, tak mampu ia tahan, rasa rindu, bercampur perasaan bersalah yang telah menggunung selama puluhan tahun, kini pecah tak mampu lagi ia kendalikan.
Maka ketika tiba di Emergency room, para dokter yang bertugas menatap nya dengan pandangan khawatir, "Mana Anakku!!" pekik Stella
"Ikut saya dok," Dokter Jimmy menunjukkan jalan menuju ruang intensif tempat Kevin beristirahat setelah mendapatkan pertolongan pertama.
.
__ADS_1
.
.
semakin dekat ke perjumpaan sepasang mantan.
.
.
.
yang penasaran dengan Alergi Coklat, silahkan ceki ceki yah
.
.
.
.
Https://www.google.com/amp/s/doktersehat.com/informasi/kesehatan-umum/alergi-cokelat/amp/
.
.
.
gara gara gak sengaja menulis alergi coklat, othor juga jadi belajar seluk beluk alergi coklat 😁
.
.
.
.
mumpung masih anget, othor sekalian numpang promo yah, sekuelnya Alex dan Stella, ini cerita Kevin di masa depan, kalo ada yang bilang "Othor kemaruk amat," 🤓 gak papa, othor mau cerita nih, awalnya Iseng aja ngeklik, trus tulis tulis kerangka, berdasarkan sekuel mom n papi nya, eh tembus di acc editor, lanjut lah, revisi satu kali, acc lagi, launcing lah bab 1 2 3. hasil iseng iseng ... tapi untuk apdet an selanjutnya, menunggu persetujuan editor, yang berkenan silahkan mampir, yang nggak juga ga papa, terima kasih readers 🥰🥰🥰❤️❤️❤️
.
__ADS_1