
Usai mandi, Alex merebahkan diri nya di tempat tidur, sementara Stella tampak duduk di sofa mempelajari beberapa jurnal medis, sebagai bahan materi esok hari.
Rasa nya sungguh aneh, lagi lagi sudah sangat lama mereka tidak berduaan di kamar yang sama, kini Alex bahkan tak bisa memejamkan mata, wajah Stella terlalu menggoda untuk ia lewatkan.
Stella benar benar tenang dengan buku buku yang berserakan di hadapannya, memang begitulah ia sejak dulu, Alex masih ingat, bagaimana dulu Stella tetap belajar untuk Ujian semester nya, padahal ia tak bisa makan karena sedang hamil muda, berbagai macam bujuk rayu Alex keluarkan agar Stella beristirahat sebentar, kala itu Alex takut Stella kelelahan, dan berakhir membahayakan janin mereka.
Syukurlah … setelah selesai ujian semester, stella memutuskan cuti agar bisa fokus dengan kehamilannya.
"Kapan kamu akan tidur?"
"Kakak tidurlah, abaikan keberadaan ku, aku sudah biasa begadang dan jaga malam."
"Mana bisa aku mengabaikanmu, sementara kamu terlihat begitu jelas di depan mataku."
"Tau gak kalau seperti ini kakak mirip siapa?"
Alex menggeleng.
"Kevin, kalian benar benar mirip." Stella tertawa geli.
Alex bangkit lalu turun dari tempat tidur, lalu ia berbaring di sofa, dengan kepala meringsek ke pangkuan Stella. "Aaahhh disini lebih nyaman." Bisik Alex yang kemudian mencoba sekali lagi memejamkan matanya.
"Stella ayo kita menikah lagi,"
"Iya, ayooo."
"Aku serius, kenapa jawabanmu seperti itu." Gerutu Alex.
Stella mengerutkan keningnya, "memang nya jawabanku salah? Aku juga serius."
"Tapi jawabanmu terdengar tak bersemangat, jangan bilang kamu sudah berubah fikiran."
"Tidak, aku tidak berubah fikiran," Stella masih terus fokus pada buku, tapi ia juga masih bisa. menanggapi Alex yang terus mengajaknya bicara.
"Aaahh senangnya, sayang … aku panggil sayang yah?"
Stella menahan senyumnya, "iya … "
"Kamu juga harus memanggilku sayang,"
"Tak masalah." Jawab Stella santai.
"Tuuh kan kamu gak semangat jawab nya,"
"Emang yang semangat itu yang seperti apa?" Tanya Stella balik.
"Yaa gitu lah, pokok nya bersemangat, dengan wajah berseri, tapi kamu sejak tadi bicara seakan akan aku tak ada di dekatmu." Si Bos sedang mode posesif.
Stella mulai menyadari, mantan suaminya sedang mencari perhatian, Stella pun meletakkan buku yang sejak tadi ia baca. Kini tangannya mengusap kepala Alex yang tengah berbaring nyaman si pangkuannya.
__ADS_1
Alex tersenyum samar, senang sekali berhasil membuat Stella menghentikan kegiatan belajar nya.
"Sudah selesai?" Tanya nya antusias.
Stella mengangguk.
Kini pandangan mereka bertemu, "Aku mencintaimu." Ucap Alex.
"Bukankah tadi pagi kakak sudah mengatakannya?"
"Bersiaplah, kamu akan sering mendengarku mengatakan nya, Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, jika aku menemukanmu, aku akan mengatakan kalimat itu sejuta kali sehari."
Mau tak mau Stella tertawa mendengar pengakuan Alex, "Benarkah?"
Alex bangun, wajahnya cemberut, begitu mirip dengan si kembar ketika mereka merajuk. "Aku tidak bercanda, kenapa kamu tertawa?" Kemudian ia merentangkan tangannya, "kemarilah," pinta nya.
Masih dengan senyuman Stella menerima pelukan Alex, "aku percaya, bahkan dulu kamu bohong pun aku percaya padamu."
"Jangan membicarakan kebodohanku, seperti katamu, aku ingin melangkah maju, jadi jangan memintaku mengingat masa lalu kita, masa lalu yang sangat ku sesali, andai aku bisa kembali, aku akan menantang kak Richard hari itu, kemudian membawa kalian pergi dari sana, kembali ke rumah kita," Alex semakin erat memeluk Stella.
Alex bangkit, ia membawa Stella dalam gendongannya, "aaaaa … mau kemana?" Tanya Stella panik.
"Tidur," jawab Alex santai.
"STOP!!!" Pekik Stella, Alex menghentikan langkah nya, "turunkan aku!!"
"No, kamu harus istirahat."
"Diamlah, aku hanya ingin memelukmu, walaupun sebenarnya aku menginginkan yang lain," Alex menyeringai.
Stella semakin panik, ia tahu kemana arah pembicaraan Alex, mereka sudah pernah menikah, tentunya hal hal seperti itu tak lagi tabu untuk di bicarakan, tapi masalahnya kini mereka bahkan belum menikah kembali, bisa bisanya Alex berpikir ke arah 'sana'.
Alex membaringkan Stella di tempat tidur, kemudian ia ikut berbaring di sisi Stella,"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, aku tak ingin kamu mengandung anak di luar nikah, walaupun itu anakku."
Stella sedikit bernafas lega mendengarnya, syukurlah jika Alex mengerti apa yang ia risaukan, kini mereka memiliki anak anak yang sudah beranjak remaja, mereka pasti akan mencontoh perilaku orang tuanya.
Kini mereka saling berpelukan, "beberapa hari lagi ikutlah aku."
"Kemana?"
"Resepsi pernikahan Elena Sebastian, putri dari Om Harun Sebastian dan tante Marisa."
"Harus kah aku ikut?"
"Iya, kamu harus mengukuhkan posisimu di sampingku, sebagai calon Nyonya muda Geraldy, calon istriku lagi."
Stella menenggelamkan wajahnya di dada Alex, kini ia sangat bahagia, Ia akan segera resmi menyandang status Nyonya Geraldy, status yang dulu pernah di lepasnya.
Stella mendongak, "kak…?"
__ADS_1
"Iya … ?" Alex menatap Stella.
"Aku mencintaimu,"
"Aku tahu, kalau kalau kamu tak cinta, mana mungkin kamu meninggalkan ku," jawab Alex penuh percaya diri. "Aaaaaa …. " Alex Menggosok perutnya yang terasa nyeri akibat cubitan Stella.
"Rasain ke … " suara Stella terhenti karena Alex sudah membungkam bibir nya, namun Stella tak terkejut, ia justru mulai menikmati hal itu, masih merasakan sensasi baru selepas perpisahan, sampai mereka kehabisan nafas, sesekali terjeda, kemudian kembali mengulangnya, bahkan tangan mereka pun mulai tak terkondisi, bergerak tak beraturan, seolah ingin ikut merasakan nada nada cinta yang mulai mengalun indah.
Ketika tangan Alex mulai me*****as sesuatu di balik kaos yang dikenakan Stella, tiba tiba suara ketukan pintu mengagetkan mereka, kedua nya terhenyak, karena kini bukan hanya rambut mereka yang berantakan, namun baju mereka pun sama berantakannya, "siapa lagi sih yang datang? mengganggu saja," Alex menggerutu.
Melihat Alex mengerang karena frustasi Stella pun tersenyum menggoda, setelah mendaratkan kecupan di pipi Alex, stella pun bangkit, ia merapikan rambut dan pakaiannya, kemudian berjalan menuju pintu.
"Hai mom, miss you." Sapa kedua anaknya, yang kemudian di lanjutkan dengan pelukan padanya.
Stella terkejut melihat kedatangan si kembar. "Lho kok menyusul kemari?" Tanya Stella di tengah kedua anaknya saling berebut memeluknya.
"Kami merindukan kalian mom," jawab Andre yang langsung bergabung bersama Alex di tempat tidur. "Hai dad,"
Sejak tadi Alex menutupi kepala nya dengan bantal ia pura pura tidur, padahal sebenarnya ia tengah mati matian menahan sesuatu yang ingin segera di lepaskan. "Hmmm … siapa yang suruh kalian kemari?" Tanya Alex dengan suara parau,"
"Om Dimas yang menelepon kami dan menyuruh kami datang." Jawab Kevin polos.
'Dimas … awas kamu yah, aku akan pastikan kamu kehilangan bonus gaji 2 bulan ke depan' ujar Alex dalam hati.
"Kemarilah," Alex pun memeluk Andre, "Kev, bawa mommy kemari agar mommy bisa istirahat."
Malam itu, untuk pertama kalinya mereka tidur berdesakan di satu tempat tidur. "Dad, aku ingin pindah sekolah."
"Tak masalah, kapan kamu ingin pindah?"
Andre bangkit, ia terkejut, ternyata semudah itu Alex mengabulkan keinginannya. "Beneran dad?"
Alex hanya mengangguk, dan melihat Stella tak mengatakan apa apa membuat Andre merasa semakin bahagia.
"Mom, bisakah mommy yang datang ke sekolah? Aku ingin memamerkan mommy pada teman temanku." Kevin menambahkan.
"Baiklah, tapi mommy lihat schedule besok."
"Yeeeee … thanks mom." Kevin kembali memeluk erat Stella.
.
Hahahaha bos … maap ye, kan bos bilang gak mau, ya udah sekalian aja othor datengin anak anak, biar bos tidak makin nakal.😂
Lagian udah ada di depan mata pake bilang gak mau … kan jadi terkabul doanya 🤪
Jangan lupa sajennya gaes, biar othor tetep semangad on goingnya💐☕
like👍komen📝dan vote🥇
__ADS_1
🧘
Sampai jumpa besok di jam kunti 👻👻👻👻