Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
115. Istri Untuk Alan.


__ADS_3


Istri Untuk Alan.



...Adakah yang masih ingat? Dokter Elga sudah pernah othor tampilkan di eps awal, ketika Andre kecil masuk rumah sakit, akibat ada pecahan kaca yang menancap di belakang telinganya...


Hubungan yang memang tidak pernah baik itu semakin memburuk manakala Alan patah hati, selepas putus dari Stella, Alan bahkan memutuskan kerja paruh waktu, sambil tetap melanjutkan kuliahnya, apa yang terjadi? tentu saja hal itu membuat Alan semakin tertinggal.


Saat itu adalah masa terberat nya, gadis yang sangat ia cintai, memutuskan menikah dengan sahabat baiknya sendiri, ia ingin marah rasanya, tapi ia hanya anak muda biasa yang bahkan belum memiliki nama besar seperti saat ini, mungkinkah melawan kehendak tuan Kenzo William dan Sony Geraldy.


Sikap Alan pada Elga menjadi semakin dingin, bahkan terkesan galak, namun Elga masih tak pantang menyerah untuk mendekatinya, walau dengan menggunakan Alasan barter pelajaran kuliah yang terlewat, atau sengaja meminta Alan untuk menjadi partner ketika ujian praktek.


Begitulah hubungan mereka, tak pernah ada senyuman, yang ada hanyalah saling melempar tatapan dingin penuh permusuhan dan persaingan, tapi entah mengapa mereka memang tak pernah terpisahkan, selalu di takdirkan berada di tempat yang sama.


Ketika berstatus sebagai dokter magang pun, mereka sama sama menjalaninya di William Medical Center, hingga saat ini mereka tetap berada di William Medical Center, dan masih tetap dengan mempertahankan sikap dingin seakan akan mereka adalah rival abadi 


Tanpa Alan sadari, sikap dinginnya, justru membuat Elga semakin jatuh cinta padanya, maka tak heran jika Elga tetap berada di sekitar Alan walau Alan tak pernah bersikap ramah terhadapnya.


Hingga hari di mana ibu Tyas meminta Elga Menjadi menantunya, bahkan rela mogok  makan agar Alan bersedia mengabulkan permintaan nya.


Alan sempat dibuat pusing tujuh keliling, akibat aksi mogok makan sang ibu, hingga meminta Stella menggantinya untuk tampil di acara 'Doktor Talk' beberapa minggu yang lalu.


Karena begitu besarnya cinta seorang Alan pada Ibunya, ia pun mengiyakan permintaan Ibu Tyas, bahkan hari itu juga, usai ibu Tyas makan dengan benar, mereka pergi ke rumah dokter Elga dan melamar dokter Elga secara resmi.


Walau tanpa persiapan memadai, acara lamaran itu berlangsung lancar, berkat bantuan kakak dan adik Alan, yang memang sejak lama menginginkan saudara Lelaki mereka segera menikah.


Untuk cinta entahlah, Alan sendiri belum memiliki rasa apapun pada wanita yang sejak lama menjadi rivalnya tersebut, yang Alan pikirkan hanyalah membahagiakan satu satunya orang tua yang ia miliki, setelah ayahnya meninggal sepuluh tahun yang lalu, semoga restu ibunya membuat perjalanan pernikahan nya kelak, penuh dengan kebahagiaan dan cinta.

__ADS_1


Demi menunjukkan bakti dan cinta nya pada sang ibu, Alan kini bahkan mulai membuka hatinya, mulai lagi ia telisik dan ia ingat memori memori ketika ia dan Elga masih sama sama menjadi mahasiswa, bagaimana dahulu mereka menjadi rival sekaligus partner belajar, ternyata hanya dengan mengingat hal itu, membuat Alan merasakan perasaan bahagia. tiba tiba bahagia itu menyelinap dan menghangat kan setiap sudut hatinya yang telah lama membeku.


Mungkinkah Tuhan memang menghadirkan Elga, sebagai pelipur lara bagi hatinya yang telah lama patah. 


Jadi kini setiap jam makan siang, dan ia sedang tidak berada di ruang operasi, akan ia memanfaatkan waktu tersebut untuk makan siang bersama Elga, walau canggung, tapi ia harus mulai membiasakan diri, Alan bukan pria pengecut yang akan lari dari keputusan yang sudah ia ambil, ia sudah memutuskan untuk menerima keinginan ibunya, maka ia pun mulai membuka hatinya untuk wanita itu.


✨✨✨


Hari pernikahan Alan.


Seperti biasa, sejak berita kehamilannya, Stella kini menjalani aktivitas baru, yakni berbaring di tempat tidur karena lemas, usai memuntahkan seluruh isi perutnya, bahkan ia tak bisa makan apapun sebelum jam makan siang tiba, jadi yang bisa ia lakukan hanya berbaring, karena ia sungguh tak bertenaga untuk bergerak.


"Mana istrimu? Tak biasanya Stella belum keluar dari kamar di jam seperti ini?" Tanya Mama Lani pagi ini.


"Ada di kamar ma, aku menyuruhnya istirahat saja, sejak jam 4 pagi tadi ia sudah mulai memuntahkan semua isi perutnya," jawab Alex, kini ia tengah menyeduh teh jahe dan madu untuk Stella.


Mama Lani pun jadi muram, "mama mau melihat nya." Mama Lani berjalan menuju kamar Alex.


Mama Lani berjalan mendekati tempat tidur, ia duduk disisi tempat tidur, kemudian mengusap lembut rambut menantunya.


Menyadari ada sentuhan di kepalanya, Stella otomatis membuka matanya, "eh mama, sejak kapan ada di sini?" Stella berusaha duduk dengan bersandar di headboard.


Mama Lani tersenyum lembut, "baru saja, ayo tidur lagi saja kalau masih lemas."


"Maaf ya ma … aku jadi manja, seharusnya aku sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk mama dan papa," 


"Ah … tidak, mama tidak merasa begitu, wajar karena kamu sedang hamil muda." Mama Lani mengusap perut Stella. "Lagipula di rumah ini banyak asisten rumah tangga, mereka yang akan menyiapkan semuanya, kamu cukup duduk diam seperti ratu." 


Kedua wanita itu tertawa bersama, tak lama Alex datang dengan nampan berisi buah dan teh madu jahe untuk meredakan mual Istrinya. "Sayang sarapan dulu." 

__ADS_1


Stella menerima cangkir teh miliknya, kemudian menyesapnya perlahan, "hati hati masih panas," Alex mengingatkan, ketika Stella buru buru menyesap teh nya.


Benar saja, tak lama, Stella nampak menjulurkan lidah nya, karena merasakan panas dari teh yang ia minum. "Tuh kan apa ku bilang." Walau sedikit marah namun Alex tetap mengambil tissue untuk mengusap bibir sang istri.


"Hehehe maaf," ujar Stella.


Mama Lani yang menyaksikan tragedi kecil itu, jadi ikut tersenyum, senang rasanya melihat Alex bahagia bersama wanita yang ia cintai, tak ingin jadi pengganggu mama Lani pun pamit meninggalkan kamar pengantin baru tersebut.


"Oh iya, hari ini pernikahan Alan kan? Apa kalian bisa hadir? Kalau tidak bisa biar mama dan papa saja yang datang." 


"Bisa ma, biasa nya setelah jam makan siang, aku mulai bisa makan dan minum seperti biasa." 


"Baiklah kalau begitu, mama tinggal dulu yah, istirahatlah." 


Mama Lani pun pergi meninggalkan kamar Alex dan Stella.


Sepeninggal mama Lani, Alex berjalan menuju pintu kemudian menguncinya, tak ingin privasinya terganggu, dan khawatir jika anak anak nya tiba tiba masuk dan melihat adegan intimnya dengan sang istri.


"Kenapa di kunci pintunya." Protes Stella.


Alex memindahkan nampan dari pangkuan Stella. "Biar anak anak tidak melihat kita." 


"Apa masalahnya jika mereka melihat kita?"


"Ya memang tak masalah, tapi jika mereka melihat kita seperti ini?"


Alex meraih tengkuk Stella, kemudian me***at bibir mungil Istrinya, "bukankah akan jadi masalah?" Lanjut Alex di sela ciumannya.


Stella tersenyum malu, "iya aku mengerti,"

__ADS_1


"Lalu bagaimana jika melihat kita seperti ini?" 


Alex berlanjut menurunkan tali gaun tidur Stella, hingga menampakkan kulit putih mulus istrinya, kemudian mengecupnya dengan lembut, perlahan, hingga mereka sendiri tak mampu menghentikan apa yang terjadi selanjutnya.


__ADS_2