Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
79.


__ADS_3

Andy tergopoh gopoh berlari mendekati Abimana yang tengah berlari di treadmill, sejenak ia mengatur nafasnya yang masih turun naik, Setelah nafasnya kembali stabil, ia mulai berbicara.


"Tuan ada hal darurat yang ingin saya bicarakan." 


Mendengar kata darurat, abimana pun mulai menurunkan kecepatan lari nya, ia melirik Andy yang wajahnya nampak tegang.


"Katakan." 


"Ada desas desus yang mengatakan, Tuan Gio mulai mengendus keberadaan anda, dan mencurigai kedekatan anda dan dokter Risa."


Abimana ingin tertawa rasanya, siapa yang sudah memberikan informasi sampah seperti itu, ia bahkan hanya beberapa kali bicara dengan dokter Risa, bahkan niat untuk ke rumah sakit saja, sampai saat ini belum terlaksana, bagaimana informasi yang sampai sungguh jauh dari kenyataan.


Abimana mencengkeram handuk di tangannya, rupanya anak buahnya sudah ada yang berani bertingkah, selama ini mereka hidup nyaman dengan uang yang ia berikan, tapi ternyata itu saja tak membuat mereka puas.


"Menurutmu siapa bajin94n tengik itu? Akan ku pastikan membuatnya mengemis kematian padaku." 


"Sebelumnya Maafkan saya tuan, tapi saat ini kecurigaan saya mengarah pada Gerry." Andy sangat berhati hati jika membicarakan Gerry, karena biar bagaimanapun Gerry sudah lebih lama bekerja pada Abimana.


"Jika menyangkut si tengik itu, kamu tak perlu minta maaf, sejak dulu pun aku muak padanya, dia adalah salah satu penjilat menjijikan yang pernah kutemui." Abimana menyambar botol air mineralnya. 


✨✨✨


Alex dan kedua putranya turun dari mobil yang mereka naiki, ketiganya kini berada di salah satu toko perhiasan branded di jakarta.


"Dad mau apa kita ke sini?" 


"Mengambil cincin yang Daddy pesan beberapa hari yang lalu."


"Apa itu untuk mommy?" Tanya Kevin.


"Yeah, apa kalian masih tetap ingin mom dan papi menikah kembali?"


"Huaaa tentu saja kami mau, daddy tak perlu bertanya lagi jika soal itu." Andre dan Kevin berteriak keras, sebagai luapan kebahagiaan mereka, akhirnya hari yang mereka nantikan akan segera tiba.


Ketiganya pun memasuki toko perhiasan, disambut dengan rupa rupa etalase yang berjajar memperlihatkan duplikat perhiasan, beragam bentuk, jenis dan kualitas di pajang,, berdasarkan harga yang ditawarkan.


Alex menghampiri salah satu Spg kemudian menyerahkan Struk pemesanan, sebagai bukti pengambilan barang yang ia pesan.


"Silahkan menunggu sebentar tuan," ujar Spg tersebut, ia mempersilahkan Alex dan kedua putranya nya duduk di ruang tunggu, sesudah nya Spg Tersebut kembali dengan nampan berisi minuman dan snack, sebagai bentuk penyambutan mereka kepada pelanggan.


Tak lama, seorang wanita datang dengan nampan berisi perhiasan yang Alex pesan, seperangkat berlian 24 karat, mulai dari liontin, anting, dan sepasang cincin pernikahan, Alex tersenyum menatap perhiasan yang kini ada di depan matanya, pun Andre dan Kevin yang juga ikut terpesona dengan perhiasan yang Alex pesan untuk mommy mereka.


"Apa kalian suka?" Tanya Alex pada kedua putranya.


Andre dan Kevin mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari seperangkat perhiasan tersebut.


"Papi … ini indah sekali," ujar Kevin lirih.


"Benarkah? Apa mommy akan suka?" Tanya Alex lagi.


"Tentu saja, mommy pasti menyukai nya," Kevin menjawab dengan penuh keyakinan, "suatu saat aku juga akan membelikan ini untuk istriku." Kevin menambahkan.


(Bang kepin, udah othor sampaikan ke neng Gadisya, dia bilang : Oke bang, kutunggu janjimu 💃 readers saksinya 😅)


"Hahahaha"  Alex dan Andre tertawa keras, tidak menyangka bahwa si manja Kevin sudah memikirkan pernikahan. 


"Kenapa kalian tertawa, aku serius … " cebik Kevin.


"Baiklah, papi percaya, pesan papi pada kalian, jadilah lelaki dan suami yang baik, jika tidak ingin bernasib sama dengan papi." 

__ADS_1


✨✨✨


Sementara itu, Stella dan Anindita masih sibuk dengan obrolan mereka, lama kelamaan Stella merasa nyaman membicarakan banyak hal dengan Anindita, bahkan hingga meninggalkan Cafe, mereka masih terlibat obrolan.


Beberapa kali pandangan Anindita nampak beredar di sekeliling rumah sakit.


"Menunggu seseorang?" Tanya Stella.


"Iya dok, putri saya, mau ke dokter gigi, jadi saya sudah berpesan padanya agar langsung menyusul kemari sepulang sekolah." 


Anindita kembali melirik jam di pergelangan tangannya, "seharusnya dia sudah tiba dok," ujar Anin risau.


"Apa putrimu sudah terbiasa menggunakan angkutan umum?" Stella pun jadi ikut gelisah, mendengar ucapan Anin.


"Iya dok, saya mengajarkan banyak hal padanya sejak dini, agar suatu saat ia berani melangkah, walaupun seorang diri."


Stella , sedikit kekaguman tersemat di hatinya, Anindita ternyata seorang ibu yang luar biasa, walau tak lagi memiliki pendamping, namun sebisa mungkin ia mengajarkan banyak hal pada putrinya, kini Stella jadi semakin dibuat penasaran.


"Ibuuuu … " suara seseorang membuat Stella dan Anin menoleh.


Anindita nampak Lega melihat kedatangan gadis itu.


Sebaliknya, Stella nampak terkejut melihat gadis itu, dia adalah gadis yang tempo hari menabrak nya di sekolah.


"Kenapa lama sekali, ibu khawatir," 


"Iya bu, tadi aku mengerjakan tugas dulu di perpustakaan, lagipula masih satu jam lagi kan, janji dokternya?" Jawab gadis kecil itu.


Anindita tersenyum bahagia, namun juga ada sedikit rasa sedih di hatinya, namun kini ia bisa tenang, karena putrinya semakin besar dan semakin mandiri.


"Oh iya, kenalkan ini dokter Risa." 


Gadis itu mengangguk hormat, "oh dokter, kemarin kita ketemu di sekolah." Ujarnya riang.


"Iya dok, maaf kemarin saya terburu buru."


"Kamu mengenal dokter Risa?" Tanya Anindita pada Gadisya.


"Iya bu, kemarin aku tak sengaja menabrak beliau, habisnya kemarin aku terlambat, jadi lari lari tak memperhatikan jalan." Gadisya menjawab apa adanya.


"Kenapa kamu bisa ceroboh sekali, bukankah ibu sudah sering bilang, jangan bangun kesiangan." Sesal Anindita, karena hari itu ia mengisi shift malam di rumah sakit, jadi tidak ada yang membangunkan putrinya.


"Bukankah dia hebat, bahkan ia bisa melakukan semuanya seorang diri, tanpa bantuanmu, tak masalah sedikit terlambat." Puji Stella pada Gadisya. "Bersemangatlah, agar kelak di masa depan, ibumu bisa tersenyum bangga karena keberhasilanmu."


"Terima kasih dok…" jawab Gadisya.


"Katakan padaku, apa cita citamu?" Tanya Stella, semakin lama ia semakin ingin berbincang dengan Gadisya.


"Aku ingin seperti anda dok, aku ingin jadi dokter anak." Jawab Gadisya dengan berbinar.


Lagi lagi Stella tak bisa.menyembunyikan kekagumannya. "Kamu mengingatkan ku pada putraku, dia juga ingin jadi dokter." 


"Mom …" Stella mendengar suara salah seorang putranya.


Ia pun menoleh, ternyata Kevin sedang berjalan cepat ke arahnya, seperti biasa, Kevin selalu menghadiahkan  pelukan ketika mereka bertemu. 


(Gaees … bang kepin ketemu calon bini 😂, hayo ngaku, siapa yang greget gemes sama bang kepin dan perjanjian 3 bulannya 🤭)


"Lho, kok ada sini?"

__ADS_1


"Iya, papi yang membawa kami kemari." 


"Lalu, dimana papi?" 


"Masih tertinggal jauuh dibelakang," seringai manja menghiasi wajah Kevin, seperti biasa, ia selalu bersikap manja jika berada di dekat Stella.


Anindita nampak mengerutkan keningnya, manakala menatap wajah Kevin, 'kenapa aku familiar dengan wajah anak ini?' tanyanya dalam hati. 'apa jangan jangan dia?' 


"Mom … " belum selesai keterkejutan Anin, tiba tiba sebuat suara kembali mengagetkannya. 


.


.


.


.


.


Othor suka yang model begini 😁


.


.


.


.


Anin belum selesai dengan rasa penasarannya😅


.


.


.


.


Sementara Kevin mencuri pandang ke arah Gadisya 💃


(hanya yang baca MKW yang paham 😅, kalau mereka berdua sangat menggemaskan)


.


.


.


.


Plis gaes, jaga suasana tetap kondusif yah 😋


.


.


.

__ADS_1


.


Sampai jumpa esok di jam kunti 👻👻👻


__ADS_2