Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
53. Bersikap Seenaknya.


__ADS_3

Sepanjang Hari itu, Stella benar benar menjadi perbincangan, dimanapun ia berada ia selalu melihat beberapa orang berbisik, kemudian tersenyum kepadanya, tentu hal ini membuatnya tak nyaman, karena sebagai dokter ia ingin dikenal karena prestasi, bukan berdasarkan gosip, terlebih gosip tak menyenangkan.


Namun berita itu bukannya mereda melainkan semakin panas karena siang itu Alex kembali mendatangi rumah sakit, ia bahkan bertanya pada beberapa perawat, ketika tak menjumpai Stella di manapun, Alex tak ingin melepaskan kesempatan yang kini terbuka di depannya, sejak bertemu kembali dengan Stella, hatinya serasa berbunga bunga dan setiap hari ia merasa bahagia, ini seperti seperti mendekati seorang gadis yang ingin di ajaknya berkencan. 


Akhirnya ia menemukan mantan istrinya, Stella baru saja menyelesaikan operasi nya siang itu, dan Alex cukup menunggunya di ujung lorong ruang tunggu keluarga pasien, melihat dan mengamati dari dekat, bagaimana Stella menenangkan keluarga pasien, ia dengan sabar dan tenang menjelaskan kondisi pasien yang baru saja ia tangani.


Alex memasang senyum terbaiknya, ketika melihat Stella berjalan ke arah nya, tapi sepertinya Stella tak menyadari kehadirannya, Stella berjalan menunduk, wajahnya tampak lelah, ia melepas kain penutup kepalanya, dan berjalan meninggalkan ruang operasi.


Alex mensejajarkan langkahnya, lagi lagi tanpa permisi ia menggenggam erat tangan Stella. 


Stella yang baru saja tersadar mencoba melepaskan tangannya, sudah terlambat karena Alex menggenggam tangannya dengan Erat. "Lepaskan Kak, ini di rumah sakit, karena kejadian tadi pagi, aku jadi bahan omongan seluruh penghuni rumah sakit." 


"Sayangnya aku tak mau melepaskan tanganmu, karena ini juga jam istirahatku, jadi apa salahnya jika kita makan siang bersama." 


Alex kembali berjalan dengan tangan Stella berada di genggamannya, karena terlalu lelah, Stella hanya diam menunduk, sesekali ia menutup wajahnya, jika berpapasan dengan seseorang yang ia kenal, atau para dokter senior yang dahulu menjadi dosennya.


Mereka tiba di kantin rumah sakit, "Duduklah, aku tahu kamu lelah, aku akan ambilkan makanan untukmu." 


Alex tak menunggu jawaban Stella, ia langsung berjalan menuju tempat pemesanan makanan, Stella hanya bisa menatap punggung Alex yang berjalan menjauh meninggalkan nya, tanpa bisa protes.


"Selamat siang dok." Sapa beberapa dokter residen yang tengah istirahat bergantian dengan rekan lainnya.


Stella membalas sapaan mereka dengan anggukan.


"Dok, anda makan sendiri?" Kali ini Suster Yuna dan beberapa perawat emergency room yang menyapanya.


"Yah seperti yang kalian lihat," jawab Stella dengan malas.


"Tapi tadi saya lihat ada pria tampan mencari anda dok," Tanya suster Yuna dengan seringai di wajahnya.


"Lalu?"


"Tidak hanya ingin tahu saja."


Tak lama Alex datang dengan nampan berisi makan siang Untuk Stella, pria itu menatap Suster Yuna, "apa anda membicarakan saya?" 


Sontak suster Yuna dan yang lainnya membelalakkan matanya, ternyata gosip yang beredar hari ini benar adanya, dengan santainya Alex duduk di hadapan Stella.


"Kalau tidak keberatan, bisa tinggalkan kami, karena jam istirahat kami juga sebentar lagi berakhir." 


"Oh … jam istirahat, apa anda juga bekerja di daerah sekitar rumah sakit," tanya suster Yuna tergagap.

__ADS_1


"Ya, aku bekerja di gedung sebelah." Jawab Alex seraya menunjuk ke arah Twenty Five Hotel.


"Oh … anda bekerja di sana, baiklah … maaf sudah mengganggu, selamat menikmati makan siang." 


Alex dan Stella hanya menanggapinya dengan senyum canggung.


"Makanlah, aku hanya ingin melihatmu makan, sudah kukatakan jangan menyiksa dirimu terlalu keras," Alex mulai lagi pada kebiasaannya dahulu, mengatur ini dan itu, ini juga lah yang dibenci Stella, dirinya seakan akan patuh seperti kerbau dicocok hidungnya.


"Kakak tidak makan?" 


"Nanti, sekarang aku ingin memastikan kamu makan dengan benar." Alex berbohong, sebenarnya kini lambungnya mulai bereaksi efek dari kopi yang ia minum pagi tadi, 'ah biarlah, cinta memang butuh pengorbanan'. Alex mulai meringis menahan nyeri di lambungnya.


Setelah menyelesaikan makannya, Alex kembali menemani Stella menuju ruangannya, Alex menepati janjinya, usai memastikan sendiri Stella masuk ke ruangannya, ia pun pergi.


Namun ia benar benar tak bisa lagi menahan perih yang kian terasa menyiksa, hingga seseorang membantunya berjalan menuju Emergency room untuk mendapatkan pertolongan pertama.


(Papi ama anak nya, bener bener memiliki sifat yang sama, kemarin anaknya nekat makan coklat, sekarang papinya nekat minum kopi, dan dua duanya ambruk 😏🤣)


Sesudahnya Alex benar benar mendapatkan pertolongan pertama, pria yang membantu Alex menuju Emergency room adalah dokter Jimmy.


Usai memberikan pertolongan pertama dokter Jimmy juga segera menghubungi asisten Alex selaku wali pasien.


Dimas sedang disibukkan dengan tumpukan pekerjaan ketika menerima informasi dari rumah sakit, tanpa berpikir panjang, segera menyiapkan penerbangan nya ke Singapura.


(Modusmu bos … bilang aja gak mau jauh dari mantan 🤣)


Kini Alex sudah berada di VVIP room, dia benar benar pasien yang merepotkan.


Alex memanfaatkan status VVIP nya, ia tidak mau lagi menerima obat atau pertolongan yang lain jika bukan dari dokter Risa.


Bahkan berkali kali ia ke meja perawat menanyakan kapan dokter Risa akan datang.


Sungguh Alex bukan hanya pasien merepotkan, tetapi juga pasien menjengkelkan.


Stella yang baru menyelesaikan jadwal praktek nya pun segera menuju ruangan VVIP.


Ini memang bukan kali pertama bagi rumah sakit menerima pasien yang aneh, jadi Stella hanya bisa menarik nafas ketika menerima kabar tentang keanehan pasien kali ini.


Stella pun membawa beberapa obat yang sejak tadi ditolak oleh Alex, pria itu justru sedang santai menikmati acara televisi.


Tanpa banyak bicara Stella memberikan obat yang seharusnya sudah di minum Alex sejak tadi, tapi dia rela menahan perih demi menunggu Stella.

__ADS_1


"Begini nih akibatnya kalau bandel," gerutu Stella. "Bukankah sudah kukatakan jangan diminum kopinya, tapi kakak malah nekat." 


Dan entah apalagi kalimat Yang Stella keluarkan, karena Alex hanya tersenyum menerima omelan Stella.


Bagi Alex omelan Stella terdengar seperti nyanyian merdu di sore hari.


Alex kembali menggenggam tangan Stella, "sudah keluar semua omelan mu, aku pasien VVIP, baru kali ini ada dokter berani memarahi pasien VVIP."


"Karena kakak layak untuk dimarahi." Lanjut Stella.


"Bos … aku datang secepat yang ku bisa" suara Dimas mengagetkan keduanya.


Melihat interaksi bos dan mantan istrinya, Dimas hanya bisa mengulum senyumnya, "aaaahhh sedang memancing yah, pantas saja betah mancingnya, hasil tangkapannya benar benar wow … " Dimas mulai menggoda bos dan mantan istrinya.


"Dimas tolong jaga dia," Ujar Stella yang mendengar namanya disebut, untuk segera ke ruang operasi.


"Baik nyonya," jawab Dimas patuh.


Alex kembali mengeratkan genggamannya, "berjanjilah kamu akan datang lagi," pinta Alex, benar benar seperti anak kecil yang mengharap permen.


Stella hanya mengangguk sebelum pergi, ia menahan geram karena hari ini Alex sukses bersikap seenaknya di rumah sakit.


.


.


.


.


.


.


Hayooo habis ini Bos duda berulah apa lagi 🤪😂


.


.


.

__ADS_1


.


jangan lupa kembang 💐 romantis dan kopi untuk menemani othor cari ide demi bos duda ☕☕💃💃


__ADS_2