Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
108. Oh, Dimas.


__ADS_3


Oh, Dimas.



"Oh iya kak, tadi serius waktu kakak bilang gaun itu, kakak beli untuk calon istrinya Dimas?" Tanya Stella ketika tiba tiba mengingat perkataan Alex di depan wartawan.


"Tidak, aku hanya asal bicara."


"Kak, itu bisa jadi bumerang untuk Dimas." Ujar Stella kesal.


"Biarkan saja," jawab Alex santai, "justru bagus kan, ia bisa sekalian menikahi gadis itu." 


Alex nyengir menampakkan barisan giginya.


"Iya kalau gadis itu bersedia, kalau dia tidak mau?"


"Tenang saja, dia pasti mau, seserahan lamaran sudah dia terima, dan jumlahnya tidak main main loh, 100 juta tunai, tak ada alasan untuk dia menolak." 


"Lalu, apa kata orang tua gadis itu?" 


"Nanti kita pikirkan lagi, bila perlu kita lah yang harus datang melamar gadis itu untuk Dimas, sekarang kamu cukup memikirkan aku yang mulai menginginkan yang lainnya." 


"Dasar mesum," cicit Stella.


"Tapi kamu suka kan?" 


"Iya, mau bagaimana lagi kalau sudah terlanjur cinta." Jawab Stella, sungguh tak ada lagi Stella yang dulu masih malu malu mengatakan perasaannya.


Benar saja, Sesampainya mereka di rumah, Kevin dan Andre sudah menunggu dengan tak sabar, mereka berebut menceritakan apa saja yang hari ini merek alami di sekolah.


Tapi Stella dengan lembut meminta izin pada si kembar untuk membersihkan diri terlebih dahulu, baru setelahnya ia akan mendengarkan apapun yang ingin disampaikan kedua anaknya.


Tentu saja itu hanya alasan, karena yang mereka lakukan bukan sekedar membersihkan diri, tapi mereka juga melanjutkan apa yang tadi mereka mulai ketika di dalam mobil, hingga dua jam kemudian barulah mereka keluar kamar dan menjumpai si kembar kembali.


(🙈🙈 Bos dan nyonya bos, othor gak ngintip yah)


✨✨✨


Sementara itu …

__ADS_1


Dimas menarik nafas lega usai mengakhiri kisah kedua gaun yang sengaja ia beli untuk menggantikan gaun Hana yang ketumpahan noda makanan, kali ini perasaannya terasa ringan, karena ia berkisah dengan bantuan Hana, agar tak ada lagi salah faham.


"Oh … jadi seperti itu kejadiannya," Bayu dan Hesti manggut manggut, "kenapa tidak sejak tadi bercerita begini? om jadi salah paham kemana mana, karena kamu bicara berbelit belit." 


Dimas tersenyum canggung, "maaf om, karena saya juga bingung, hendak dari mana memulai nya," 


"Mah, siapkan makan malam spesial, setidaknya papa harus berterima kasih pada pria baik ini." Perintah Bayu pada istrinya.


Hesti pun mengangguk dan berlalu menuju dapur.


Sementra Hana masih ikut duduk di ruang tamu, menunduk malu, mencuri curi pandang pada pria yang baru saja ia kenal, namus tanpa pikir panjang membelikannya sebuah gaun berharga fantastis.


"Tidak perlu repot repot om, saya akan makan di rumah saja." Tolak Dimas, makan di rumah yang dimaksud kan dimas adalah, di restoran atau warung terdekat, atau yang mana saja yang sedang ingin ia datangi, agar tidak jenuh dengan kesendirian nya.


"Makan di rumah? Sudah punya istri rupanya." Tebak Bayu asal asalan.


Tentu saja itu membuat Hana dan Dimas tiba tiba mendongak bersamaan tapi dengan perasaan berbeda.


Hana mendadak muram.


Dan Dimas semakin gelagapan. "Belum om, saya belum menikah," jawab nya.


"Oh belum menikah, om kira kamu sudah punya istri karena kamu mengatakan ingin makan di rumah, tinggal dengan orang tua juga?" Tanya Bayu.


"Tidak om, saya tinggal di apartemen seorang diri, kedua orang tua saya sudah lama meninggal, karena itulah saya menganggap atasan saya sebagai kakak dan orang tua pengganti, karena saya lebih dari lima belas  tahun mendampingi atasan saya." Jawab Dimas lugas, karena memang begitulah adanya.


"Boleh om tahu siapa atasan kamu?" 


"Atasan saya Pemilik Twenty Five Hotel Om, tuan Alexander Geraldy," ada kebanggan ketika ia menyebutkan nama atasannya, tentu saja itu karena ia bangga sudah mendampingi Alex dari masa masa sulit nya hingga kini menjadi pebisnis yang disegani.


"Oh tuan Alex, om pernah dengar namanya, tapi belum pernah bertemu, yah maklumlah, Om hanya pekerja kantoran biasa, mana bisa berkenalan dengan pebisnis handal seperti beliau." Jawab Bayu. "Oh iya, Hana juga Asisten sekaligus sekertaris direktur di Diamond Hotel, kamu kenal dengan Elena Sebastian?" 


"Oh, tentu saya tahu Om, walau belum bertemu secara langsung, kan saya dan Hana pertama bertemu di acara pernikahan nona Elena," 


Bayu menepuk keningnya, "iya, om lupa padahal baru beberapa saat lalu, kamu cerita."


Bayu terkekeh geli sendiri, tanpa sengaja pandangannya mengarah pada Hana yang sejak tadi menunduk menyembunyikan wajahnya, "Hana … kamu kenapa? Pusing?" Tanya Bayu pada putrinya.


"Oh eh tidak pah … " karena gugup Hana bergerak gelisah di tempatnya, hingga tangannya tak sengaja menekan tombol remote televisi yang ada di dekatnya.


Seketika televisi menyala, menampakkan wajah Alex yang tengah berbicara di depan para wartawan.

__ADS_1


"Saya, Alexander Geraldy, saya tekankan kepada siapa saja yang sudah menyebarkan fitnah tak berdasar, jika sampai dua puluh empat jam kedepan saya masih melihat ada pemberitaan ini, maka siapapun anda, kita akan bertemu di pengadilan, asal anda tahu, saya sangat mencintai wanita ini, dan dia juga adalah satu satunya alasan saya menduda selama empat belas tahun, Gaun itu saya beli, sebagai hadiah untuk calon istri asisten saya, jika anda sang pemilik gaun ingin menuntut ganti rugi, dengan senang hati akan saya berikan kompensasi."


Praaaak … terdengar suara ponsel jatuh ke lantai.


.


.


.


🤣🤣 Dimas berterima kasihlah pada bosmu yang lagi bucin, gara gara dia sekarang kamu punya calon istri 🤓🤓💃💃


.


.


.


.


plis like komen vote nya seikhlasnya.


.


.


.


.


ramaikan juga kolom komentarnya, othor suka baca cuitan kalian


.


.


.


.


sarangeeeeee 💟💟

__ADS_1


__ADS_2