Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
107. Oh, Dimas.


__ADS_3


Oh, Dimas.



Tak lama Alex membawa Stella meninggalkan kerumunan wartawan, kilat cahaya kamera dan lampu mengiringi langkah mereka hingga menghilang di balik pintu mobil, tak lama mobil pun bergerak meninggalkan kerumunan wartawan.


Sesampainya di jalanan yang lengang, Alex menghentikan mobilnya, sejak mesin mobil dihidupkan, Stella tak melepaskan pandangannya dari sang suami, ia seakan tak ingin melewatkan kesempatan menyaksikan wajah Alex yang sedang frustasi, takut kehilangan dan juga amarah yang ia tahan mati matian agar tak meledak di tempat yang tidak seharusnya.


Alex melepas sabuk pengamannya, begitu pun sabuk pengaman di kursi Stella, kemudian membawa Stella dalam pelukannya, "tadi aku takut sekali, sampai sampai rapat mingguan aku tinggalkan begitu saja, agar bisa segera menemui mu." Alex berbisik di tengah pelukan eratnya. 


"Memang apa yang kakak takutkan?" 


"Banyak, tapi yang paling ku takutkan, kalau kamu cemburu dan kembali pergi meninggalkanku." Jawab Alex dengan tubuh bergetar. "Sampai sampai aku mengemudi seperti orang gila, dan tiba tiba saja ingatanku tak sengaja tertuju pada masa ketika aku tak berhasil menggagalkan kepergianmu, aku semakin frustasi," kali ini Alex menangis.

__ADS_1


Stella menatap wajah Alex, dengan lembut diusapnya air mata tersebut, ia pun tak dapat menyembunyikan rasa haru yang tiba tiba menyeruak ke permukaan hatinya, laksana air yang menyejukkan panasnya api cemburu yang beberapa jam yang lalu membakar dirinya.


"Aku pun sungguh takut kehilanganmu, karena itulah ketika Alan memintaku untuk menggantikannya menjadi narasumber di Doktor Talk, aku langsung menyetujui nya, bahkan aku sengaja mencantumkan nama keluargaku dan juga namamu, agar seluruh dunia mengetahui bahwa kakak hanyalah milikku." Stella mengecup hidung Alex.


Namun Alex membalasnya dengan ciuman posesif di bibir Stella, dengan senang hati Stella membalas perlakuan manis tersebut, keduanya merasa seakan akan baru pertama kali jatuh cinta.


Sesapan itu begitu lembut, dan memabukkan, hingga keduanya tak ingin buru buru menyudahinya, semakin lama semakin panas karena hasrat mereka pun mulai terpancing.


Alex memundurkan kursi kemudinya, kemudian ia membawa Stella ke pangkuannya, "aw … apa yang kakak lakukan," Stella memukul dada bidang yang kini berjarak semakin dekat dengannya, wajahnya terlihat merona walau suasana hari yang semakin gelap, ia sungguh malu, karena ini pertama kalinya mereka di posisi intim ketika sedang berada di mobil.


Alex tak peduli dengan protes yang dilayangkan istrinya, ia kembali melahap bibir merah ranum milik istrinya, bahkan tangannya pun tak tinggal diam, terus bergerak dengan tak sabar mencari cari benda yang bisa membuat tangannya bebas menjelajah.


"Di punggung," jawab Stella puas, karena berhasil menggagalkan rencana Alex untuk menggoda tubuhnya, karena Stella sedang memakai 2 lapis pakaian, dress soft pink selutut, dibalut jas yang panjangnya hampir sama sebagai outer nya.


Alex mengacak acak rambutnya dengan kesal, namun hal itu tampak menggemaskan di mata Stella, insting alaminya kembali memerintahkannya untuk mencium pria menggemaskan tersebut, dan Alex hanya diam menikmati perlakuan istrinya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian ciuman panas itu terpaksa berakhir karena keduanya mulai kehabisan nafas, "Jika tidak sedang di mobil, aku mungkin sudah menanggalkan seluruh pakaianmu." Bisik Alex dengan suara parau dan nafas yang masih memburu penuh hasrat.


"Bersabarlah hingga kita sampai di rumah," Stella mengusap lengan Alex, "ayo pulang, anak anak pasti menunggu kita." Stella kembali bergerak menuju kursinya, jempolnya bergerak mengusap bekas lipstik yang masih menempel di bibir suaminya, kemudian berganti merapikan lipstik nya sendiri, yang juga tak kalah berantakan seperti penampilan mereka.


Mobil kembali bergerak, Alex sedikit membuka jendela mobilnya, agar embun panas efek dari kejadian beberapa saat lalu yang menempel di kaca mobil memudar, keduanya tersenyum geli ketika mengingat kejadian tersebut, apa jadinya jika ada polisi yang tiba tiba mengetuk dari luar, pastilah sangat memalukan.


"Oh iya kak, tadi serius waktu kakak bilang gaun itu, kakak beli untuk calon istrinya Dimas?" Tanya Stella ketika tiba tiba mengingat perkataan Alex di depan wartawan.


"Tidak, aku hanya asal bicara."


"Kak, itu bisa jadi bumerang untuk Dimas." Ujar Stella kesal.


"Biarkan saja," jawab Alex santai, "justru bagus kan, ia bisa sekalian menikahi gadis itu." 


Alex nyengir menampakkan barisan giginya.

__ADS_1


"Iya kalau gadis itu bersedia, kalau dia tidak mau?"


"Tenang saja, dia pasti mau, seserahan lamaran sudah dia terima, dan jumlahnya tidak main main loh, 100 juta tunai, tak ada alasan untuk dia menolak." 


__ADS_2