Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
86.


__ADS_3

Mobil yang membawa Stella berhenti di rumah kosong yang selama ini menjadi markas Gerry dan anak buahnya, hawa dingin dan aroma pepohonan menyeruak, menyambut Stella yang baru saja turun dari mobil, anak buah Gerry mengikat kedua lengan Stella, kemudian membuka kain yang sejak tadi menutup matanya, wajah Stella nampak datar, tak sedikit pun ia ketakutan menghadapi anak buah Gerry, satu satunya yang ia inginkan adalah memastikan Kevinnya baik baik saja.


Ketika mata nya mulai terbebas, Stella mengedipkan mata nya beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang mulai menyilaukan mata nya, sesudah pandangannya mulai jelas, ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, rumah tua tersebut berada di pinggir hutan, dan terpencil, sejauh mata memandang, tak ada rumah penduduk yang terlihat.


Stella dibawa masuk ke dalam bangunan tua yang menjadi markas Gerry dan anak buah nya, melihat kedatangan Stella, Gerry yang semula duduk di sofa sambil menatap bosan pada layar televisi, kini wajahnya berubah cerah dengan senyum lebarnya, "selamat datang dokter … maaf jika sambutan kami kurang berkenan." Gerry berbasa basi.


Stella hanya tersenyum canggung ke arah Gerry, sama sekali tak ingin membalas perkataan pria itu.


"Mana anakku? Aku harap anakku baik baik saja, karena kalau tidak, kamu akan tahu sendiri akibatnya." 


Gerry bertepuk tangan, "waaahhh baru kali ini saya bertemu seorang wanita seperti anda, apa anda sama sekali tak memiliki rasa takut?" Lanjut Gerry.


"Apa yang harus ditakutkan, mati?? Hahaha semua orang akan mati pada waktunya," jadwal Stella lantang, "bertahun tahun aku bekerja di rumah sakit, melihat orang mati, dia jahat atau baik pasti akan mati pada waktunya, seandainya hari ini kamu membunuhku, dan tuhan belum berkehendak, kamu pikir aku akan mati begitu saja?" Stella tersenyum miring menatap Gerry yang mulai mengalami perubahan mimik wajah.


"Anda memang termasuk dalam spesies wanita langka dok, tapi saya masih berbaik hati menahan anda, karena saya harus menunggu instruksi dari atasan." 


Kemudian Gerry memerintahkan anak buahnya untuk membawa Stella ke ruangan tempat Kevin di sekap.


Betapa leganya Stella ketika melihat Kevin masih dalam kondisi yang sama dengan hari sebelumnya, tak ada luka sedikitpun, kevin menangis sesenggukan dalam pelukan Stella, tak henti henti kalimat maaf terucap dari bibir nya, "sssshhhh tenanglah sayang ada mommy," ucap Stella menenangkan Kevin di pelukannya, "kita akan mencari cara untuk melarikan diri," bisik Stella dengan suara lirih, agar tak terdengar oleh Gerry dan anak buahnya.


Beberapa saat kemudian.


"Mom … kenapa mommy bisa di sini?" Tanya Kevin setelah tangisnya reda.


Stella menatap pancaran tulus dari kedua mata Kevin, betapa bahagianya ia memiliki anak anaknya saat ini, "Karena mommy menyayangi anak anak mommy lebih dari segalanya," ucap Stella tanpa keraguan sedikitpun.


🌻🌻🌻


BRAK !!! 

__ADS_1


Alex menggebrak meja di hadapannya, pengakuan Andre beberapa saat lalu, ditambah rekaman CCTV yang baru selesai ia putar ulang, membuatnya semakin marah, bahkan kini ia merasa benar benar tak berdaya.


Belum lagi ia menemukan jejak orang orang yang membawa Kevin, kini Stella pun ikut menghilang, dari rekaman CCTV terlihat Stella berlari terburu buru meninggalkan hotel, sesampai nya di depan hotel, lagi lagi mobil hitam misterius membawa nya pergi, bahkan Stella tak melakukan perlawanan sama sekali. 


Menurut pengakuan Andre, ia hanya mendengar Stella menutup pintu setelah meninggalkan kamar, tapi sekian lama ditunggu Stella tak juga kembali, Andre bahkan sudah berkali kali menghubungi ponsel Stella, namun tak ada jawaban.


Di Tengah keputusasaan nya, tiba tiba ponsel Alex berdering, nomor yang tertera di sana bahkan tak ada namanya.


"Siapa dad?" Tanya Andre.


"Entah, daddy tak tahu."  Jawab Alex. "Halo…" Alex menjawab telepon nya.


sunyi, tak ada jawaban dari seberang,  “siapapun yang menelepon, bersuaralah!! aku tak punya waktu meladeni kebisuanmu.” teriak Alex dengan suara keras.


“Aku menunggumu di Lobi, atau haruskah kita bertemu di ruanganmu?” jawab seseorang dari seberang.


“Abimana?” ucap Alex ragu ragu, pasalnya sangat tidak mungkin jika tiba tiba, seorang Abimana mengajaknya bertemu secara langsung, mengingat selama ini mereka tidak pernah akur.


“Sebaiknya ini sesuatu yang penting, karena aku sedang tak punya waktu meladenimu.” Alex benar benar sedang tak ingin berurusan dengan Abimana saat ini.


Jika dalam kondisi normal, Abimana bisa saja tertawa keras, namun ia pun dalam kondisi yang sedang tidak ingin bercanda, mengingat Gerry bisa melakukan apa saja. “kamu pikir aku bahagia bertemu denganmu?” ejek Abimana tak ingin kehilangan harga diri nya, "tapi sebaiknya cepatlah, waktuku tak banyak, jika kamu tidak bergegas aku takut nyawa dokter Risa dan anak nya akan terancam."


Alex berdiri dari kursinya, ia baru terpikir, jangan jangan Abimana adalah dalang dari menghilangnya Stella dan Kevin. 


"Tunggu disini, daddy akan segera kembali," pamit Alex pada Andre.


Andre mengangguk patuh, "Dimas … ikut aku." 


"Baik bos," dengan patuh Dimas ikut berjalan di balik punggung Alex.

__ADS_1


Lift khusus milik Alex berhenti di lantai dasar Twenty Five Hotel, Alex segera keluar dari sana dan berjalan menuju Lobi utama.


Abimana dan beberapa pengawalnya sudah menunggu di Sofa. "Dimas … kosongkan ruangan ini." Perintah Alex.


Dimas mengangguk kemudian memerintahkan pada semua petugas yang saat ini berada di lobi utama, untuk menyingkir sesaat, setelah ruangan lengang, barulah Abimana angkat bicara.


"Aku tak suka berbasa basi, jadi aku akan langsung saja." Ujar Abimana tanpa ekspresi, "Andy berikan itu padanya," perintah Abimana.


Andy meletakkan tablet di tangannya. "Ini lokasi terkini orang orang yang membawa dokter Risa dan putra anda tuan." 


Alex gemetar menatap lokasi yang ditunjukkan oleh komputer tablet di hadapannya.


Sebuah rumah tua yang berdiri di tengah pepohonan tinggi menjulang.


Kemudian ia kembali menatap Abimana dengan tatapan dinginnya, "Apa kamu terlibat?" 


Abimana tertawa miring, "jika aku terlibat, apa mungkin aku memberimu informasi semacam ini?" 


Alex terdiam sesaat membenarkan kalimat Abimana. 


"Jangan kamu pikir aku melakukan semua ini karena aku kasihan padamu," 


"Cih … apa kamu pikir aku butuh belas kasihmu?" Balas Alex.


"Kesombonganmu tak pernah berubah, tapi karena aku akan segera meninggalkan negara ini, jadi aku memberimu hadiah, hadiah ini adalah wujud balas budiku pada dokter Risa yang sudah dua kali menyelamatkan nyawaku," 


Setelah mengucapkannya, Abimana pun berdiri, "ayo sebaiknya kita bergegas ke Airport." Abimana mengajak anak buahnya untuk segera berlalu pergi, yah ini adalah balas budinya pada wanita hebat yang dua kali menyelamatkan nyawanya, bahkan kini wanita itu harus menderita karena dirinya memiliki niat untuk mendekati dokter Risa.


"Tunggu, bagaimana denganku, dengan memberikan informasi perihal mereka padaku, sama saja membuatku memiliki hutang budi padamu." 

__ADS_1


"Aku tak butuh balas budimu." Jawab Abimana dingin, ia segera berlalu pergi dari hadapan Alex.


(Lanjutan nasib Abimana ada di MKW yah, udah pada baca kan? Apa yang sudah dilakukan Kevin dan Gadisya?)


__ADS_2