Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
50. Pertanyaan Yang Sama.


__ADS_3

Di perjalanan menuju rumah sakit, Stella mengusap air mata yang menetes tanpa ia sadari.


Pertemuan tak terduga kali ini cukup mengguncang hatinya.


Ia masih terluka? Itu sangat jelas, rasa sakitnya bahkan masih sama, walau sudah 14 tahun berlalu.


Stella menatap layar ponselnya, nomor Alex  bahkan masih tersimpan dengan nama yang sama "suami kesayanganku", Stella tak mampu menghapus nama Alex, dari ponsel maupun dari hatinya.


...🌻🌻🌻...


Jam 3 dini hari Stella tiba di depan pintu apartemennya, setelah menekan password, ia pun membuka pintu dan masuk kedalam.


Tubuh lelah nya bersandar beberapa saat di pintu, setelah melepas sepatunya, ia pun melangkahkan kaki memasuki ruang tengah, ruangan tampak gelap gulita, karena sudah ia tinggalkan sejak siang, anak anak sudah pasti sedang berada di hotel bersama papi mereka, jadi tak ada lampu malam yang menerangi ruangan.


Ia bisa bernafas lega, setidaknya tidak ada Alex dan anak anak di sini.


Stella melangkah masuk menuju dapur, ia ingin meneguk segelas air, usai minum Stella mematikan kembali lampu dapur, namun alangkah terkejutnya ia, ketika berbalik Alex sudah berdiri di belakang nya.


Walau dalam gelap, Alex tetap terlihat tinggi menjulang.


Mereka tak dapat melihat raut wajah satu sama lain, tapi masing masing tahu bahwa mereka tengah saling menatap tajam dalam gelap.


"Kenapa kakak ada di sini?" Tanya Stella terkejut.


"Pertanyaan macam apa itu?" Balas Alex sengit.


"Eh … maksudku, kenapa kakak tidak membawa anak anak ke hotel?" 


"Pada awalnya, aku akan membawa mereka ke hotel, tapi aku bisa apa jika mereka lebih menyukai rumah mommy mereka, dari pada hotel mewah." 


Stella terdiam, Alex pun sama.


(othor juga, dari kemarin semedi belum dapat wangsit 🤕 bingung mau nulis apa📝)


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Alex katakan, banyak hal juga yang ingin Alex tanyakan, namun bibirnya kelu tak mampu berucap.


Stella pun berjalan menuju kamar pribadinya, sebelum sempat membuka pintu, "Apa hal seperti ini sering kamu lakukan?" Tanya Alex sebelum Stella mencapai pintu kamarnya, tubuhnya sudah terlalu lelah, ia ingin segera mandi dan berbaring sesaat sebelum matahari pagi kembali bersinar.


"Maksud kakak apa?"


"Pulang di jam seperti ini?" 


"Tidak, tidak selalu di jam seperti ini," 


"Apa kamu tak memikirkan keselamatanmu?" Nada suara Alex terdengar khawatir.


Stella sudah ingin menangis rasanya, sejak ia memutuskan mengajukan gugatan cerai dahulu, ia berusaha sangat keras untuk dirinya sendiri, demi apa tentu saja demi anak yang ada di bawah hak asuh nya, demi menunjukkan Pada mantan suaminya bahwa mantan istrinya bukan wanita biasa.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri," jawab Stella sinis.


Alex menghembuskan nafasnya kasar, rupanya ia salah memilih pertanyaan.


"Maksudku, bagaimana dengan Andre, jika terjadi sesuatu pada mommy nya,"

__ADS_1


"Jangan khawatirkan anakku, sejak kami tinggal berdua di negara ini, aku sudah mengajarkan banyak hal padanya, termasuk apa yang harus ia lakukan, jika sesuatu terjadi padaku, berhentilah mengkhawatirkan hal hal yang tidak perlu."  


Alex menyimpan kedua tangannya di saku celana, dia berpikir mungkin harus lebih merendah lagi untuk bisa mengambil hati mantan istrinya. "Baiklah maaf kan aku, jika aku meremehkan keberanian dan kemampuanmu menjaga dirimu sendiri, tapi haruskah kamu bekerja sekeras ini?"


"Ya ... dan memang hanya itu yang bisa kulakukan, bekerja dan berusaha dengan keras, hingga aku bahkan tak tahu apakah tubuhku sudah merasa lelah atau belum."


"Kenapa? aku rasa sejak awal kita berpisah, kamu sudah tahu bahwa aku sudah menyiapkan semuanya untuk anak anak, bahkan untukmu." 


"Aku tak peduli, itu uangmu, terserah ingin kau apakan, yang jelas aku juga ingin melakukan sesuatu untuk anak anakku ." Stella mulai emosi, dia benar benar tak mengerti apa yang ingin mantan suaminya itu bicarakan.


"kenapa? kenapa kamu harus menyakiti dirimu sendiri?"


"Karena hanya ini satu satunya cara yang bisa kulakukan untuk melupakanmu," betapapun tabah dan tegar nya Stella, jika ada yang kembali bertanya alasan ia bekerja dan berusaha begitu keras hanya satu, Melupakan sang mantan, Stella membalikkan tubuhnya, "sebenarnya apa yang ingin kakak tanyakan?" 


Alex mengangguk, "pertanyaan yang sama, pertanyaan yang bahkan belum aku dengar jawabannya darimu, percaya atau tidak aku masih menantikan jawaban itu."


Stella termenung mencoba mengingat.


"Kesempatan kedua, aku masih menantikan jawaban itu, masih adakah kesempatan kedua untukku?" Alex berjalan mendekati Stella, "kamu boleh menganggapku bodoh, tapi aku masih mengharapkanmu kembali padaku," 


Stella tersenyum miris, "kenapa? Kenapa masih mengharapkan aku sementara kakak memiliki yang lain?,"


"Apa maksudmu dengan yang lain?" Alex Heran, sebenarnya apa yang dipikirkan Stella, kenapa dia berpikir bahwa Alex memiliki yang lain, bahkan sejak mereka bercerai 14 tahun yang lalu, Alex memilih setia pada wanita yang kini ada di hadapannya.


"Tentu saja istrimu," jawab Stella ketus.


Tepat sekali dugaan Alex, ternyata Stella berpikir Alex sudah memiliki istri baru setelah mereka bercerai.


"Apa kamu tak pernah bertanya tentangku pada Kevin?"


"Kenapa?"


"Tidak penting, aku juga tak ingin tahu," jawab Stella ketus.


Entah benar atau salah, Alex mulai merasa di atas angin, nada suara Stella terdengar sedang kesal sekaligus cemburu.


Alex pun mengulum senyum nya, ia berjalan mendekati Stella, tanpa aba aba ia memeluk wanita yang dirindukannya sejak lama.


Tubuh Stella menegang, ia tidak siap dengan situasi ini, otaknya terasa kosong sesaat, ia berteriak dalam hati, kenapa kak? kenapa begitu damai jika di pelukanmu?, jerit Stella dalam hati, tapi pelukan ini milik wanita lain, Stella pun tersadar, ia berusaha memberontak, namun Alex makin mengencangkan pelukannya hingga Stella justru semakin terkunci dan tak bisa bergerak.


Alex menundukkan kepalanya, ia menyembunyikan Wajahnya di ceruk leher Stella, indra penciuman nya mulai menghirup aroma yang sangat ia rindukan.


Aroma parfum yang sama, jika dahulu aroma ini bercampur dengan aroma minyak telon si kembar, kini aroma ini bercampur dengan aroma obat obatan.


Namun Alex mengabaikannya, ia terlalu lama menahan rindu, bibir nya mulai liar mengecup dan menc umbui leher mantan istrinya dengan penuh damba, tak ada penolakan, karena stella hanya bisa diam, tubuhnya pun tak bisa bergerak, Alex begitu erat mengunci tubuhnya, Hingga ia bebas melakukan aksinya, Stella memejamkan matanya, ia membenci dirinya sendiri, kenapa tubuhnya justru menikmati semua ini.


kini bibir Alex bergerak ke telinga Stella, mendaratkan beberapa kecupan disana kemudian ia berbisik dengan suara parau, "Bodoh, kenapa kamu berpikir aku sudah menikah lagi, sementara hati dan pikiranku hanya tertuju padamu, aku hanya menginginkan satu wanita untukku, mencintai dan merindukannya hingga dadaku terasa nyeri."


Stella terdiam, tak mempercayai apa yang kini ia dengar.


"Jangan lakukan lagi, jangan sakiti dirimu jika hanya ingin melupakanku, karena aku juga ikut merasakan sakitmu, tolong pertimbangkan pertanyaanku, kumohon kembalilah padaku, kapanpun kamu ingin, seluruh hatiku tetap menantikan mu."


.

__ADS_1


.


.


.


.


seperti biasa othor mulai panas dingin kalo nulis beginian, masih anak bawang gak bisa nulis yang vul ga r 🥵🥶


.


.


.


.


Segini dulu ya gaes … 🙈🙊


.


.


.


Othor mau semedi lagi 🧘 semoga segera dapet wangsit.


.


.


.


.


.


Jadi pengen tahu, kalian pengennya om duda langsung di kasih kesempatan, atau masih si suruh nunggu ??? 😁


.


.


.


.


Alex: thor jahat amat sih … 14 tahun thor, dan aku masih laki laki normal 😭🤯


.


.

__ADS_1


Othor: 😋


__ADS_2