Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
75.


__ADS_3

Kekacauan Stella tak hanya berhenti sampai di situ, kali ini Stella nekat berdiri di atas meja, dan menyanyikan sebuah lagu, Stella menggenggam ponselnya, seolah olah itu sebuah mikrofon, entah lagu apa yang ia nyanyikan, karena syairnya tertukar bahkan terbalik satu sama lain.


Usai menyanyi ia melemparkan ponsel nya ke sembarang arah, hingga benda malang itu pecah mengenaskan.


Kemudian ia pun turun dari meja dengan langkah sempoyongan, lagi lagi Alex yang berusaha menolong, justru kembali terdorong ke belakang.


"Aku mau kembali ke kamarku," 


Bukannya berjalan ke pintu keluar, Stella justru berjalan menuju singgasana Alex.


"Bukan kesana, kamu salah arah." Ujar Alex geli, ini pertama kalinya ia melihat sisi lain mantan istrinya.


"Oh bukan yah, aku salah," Stella tertawa kecil ketika menyadari ia salah langkah.


Kemudian Stella berbalik kekanan, wajahnya nampak bahagia, ketika menemukan sebuah pintu, jari telunjuk nya pun terulur menunjuk pintu yang ada di hadapannya. "Oh ini dia pintu nya, ah Stella ternyata kamu memang terbaik," Stella bermonolog, lagi lagi membuat Alex tertawa geli.


Namun stella tak menyadari, bahwa pintu yang ia buka adalah, ruangan pribadi Alex yang biasa ia pakai istirahat, "oh di dalam ada pintu lagi, waaahhh ada pintu di dalam pintu." Kali ini Stella bertepuk tangan.


Alex Hanya menjaga Stella dari belakang, karena mantan istrinya itu tak ingin di bantu berjalan.


Stella menatap kosong ke arah toilet yang kini ada di hadapannya, mendadak ia menangis, "kenapa kesini, aku ingin kembali ke kamarku." Rengeknya.


"Kan sudah ku bilang, biar aku bantu," Alex tahu percuma saja bicara dengan seseorang yang sedang mabuk, tapi ia tetap ingin menjelaskan, "kemarilah," pelan pelan Alex kembali memeluk Stella, di usapnya wajah dan rambut Stella, "kenapa kamu bisa sekacau ini? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Bisik Alex ketika Stella mulai tenang.


"Dimas … " ujar Stella, padahal ia tengah berada di pelukan Alex, bahkan telapak tangannya mengusap pipi pria itu, tapi bibirnya menyebut nama Dimas, tentu saja hal itu membuat kepala Alex mulai mendidih, namun Hal itu tak berlanjut, karena air mata Stella tiba tiba mengalir deras.


"Dimas, apa kamu tahu, 2 hari yang lalu aku bertemu seseorang bernama Anindita, lucu yah, aku tak pernah bertemu dengannya, tak tahu bagaimana wajahnya, tapi entah kenapa aku merasa, dia adalah Anindita yang dicintai suamiku, lebih dari pada ia mencintaiku, bahkan Suamiku tak bisa melepaskan dia, padahal ada aku yang menemani di sisi nya, apa aku tak layak dicintai? Hah?" Stella menangis pilu. "Kurang apa aku, perasaanku tulus padanya, bahkan aku merelakan cinta pertamaku demi bisa bersamanya, tapi dia? Sungguh tega padaku," kini mata Stella mulai terpejam, namun bibirnya terus berucap, "saat itu harus nya aku segera pergi dari hidupnya, aku memang bodoh, aku justru meninggalkan Kevin bersamanya, aku berharap dengan melihat anaknya, dia masih akan terus mengingatku, walau ia tak menginginkan ku berada disisi nya,"


"Dimas, aku pasti terlihat menyedihkan, seumur hidup aku selalu membangun rasa percaya diri ku, tapi wanita bernama Anindita itu, telah berhasil merusak usahaku hanya dalam satu kali pandang, aku hancur Dimas, sungguh sungguh hancur, marah, malu, benci, kesal, semua nya bercampur." 


Tanpa sadar Alex pun menetes kan air mata, "maafkan aku," bisiknya "maaf." Ia semakin mempererat pelukannya.


Dan beberapa saat kemudian, Stella memuntahkan semua yang ia masukkan ke perutnya, dan tanpa rasa jijik sedikitpun, Alex membiarkan Stella mengeluarkan seluruh isi perutnya, hingga baju yang ia kenakan pun ikut kotor karena nya.


Usai memuntahkan isi perutnya, Stella kembali terlelap, suara nafasnya menderu teratur, Alex menggendong Stella menuju tempat tidur yang biasa ia tempati untuk istirahat.

__ADS_1


Alex segera membersihkan dirinya, kemudian ia menggunakan lap basah untuk membersihkan baju dan rok Stella yang terkena muntahan.


Syukurlah ia memiliki sekretaris perempuan, jadi Alex meminta bantuan bu Wanda untuk menggantikan baju yang Stella kenakan.


Flashback off


Alex menceritakan semua kekonyolan Stella, kecuali bagian ia menangisi dirinya sendiri, mengira Alex adalah Dimas.


"Benarkah aku sekacau itu?" Tanya Stella ragu.


"Iya sesudah semua kekonyolanmu, kamu bahkan memuntahkan semua yang kamu makan ke bajuku." 


Stella nyengir sesaat, namun senyumannya hilang berganti dengan ketakutan. 


Hal paling penting yang nyaris ia lupakan, sesuatu yang mungkin lebih memalukan daripada tingkahnya ketika mabuk kemarin malam.


Stella menatap tajam ke arah Alex yang kini bersandar di headboard, "apa lagi?" Tanya Alex santai, pria itu melipat kedua lengannya di dada.


"Si … siapa, yang menggantikan pakaianku?" Tanya Stella, perasaan ragu, takut, dan malu bercampur jadi satu, tapi ia harus tahu, karena ini hal paling penting.


"Iya, harus." Ujar Stella tegas.


"Tentu saja aku yang menggantikan pakaianmu, kamu pikir aku akan meminta Dimas melakukannya?" 


"What!? Jadi benar kakak yang melakukannya?" Stella menyilangkan kedua lengannya di dada. 


Alex mendekati Stella, berpikir untuk menggoda mantan istrinya, "Kenapa? Apa kamu malu?" Bisik Alex.


Stella menelan ludahnya, ia gugup tak bisa berkata kata.


Alex mengulurkan jari telunjuknya, ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi telinga Stella, "sepertinya sangat terlambat jika kamu merasa malu, apa kamu lupa, aku sudah pernah melihat semuanya?" Alex makin menyeringai manakala, wajah Stella mulai memerah menahan malu.


Saat ini, rasanya Stella ingin menenggelamkan diri ke dasar bumi, Alex benar benar berhasil membuatnya malu.


"Tapi … " Stella hendak berucap, tapi Alex menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.

__ADS_1


"Apa kamu tahu, sejak kemarin bibir ini sudah membuatku gemas," 


Cup 


Alex mendaratkan kecupan di sana.


"Dia mengucapkan semua hal yang membuatku ingin tertawa." 


Cup


Alex mengulanginya kembali, dan lagi lagi Stella terpaku.


"Rasanya aku ingin segera melemparmu ke tempat tidur, kemudian memangsa mu, apa kamu tahu bagaimana rasanya menahan selama 14 tahun?, aku menjaganya hanya untukmu, karena aku yakin kamu pun hanya akan memberikan milikmu kepadaku, apa aku benar?" 


Seperti robot yang terprogram, Stella hanya mengangguk.


"Tak sia sia aku menunggu," Alex tersenyum, dan kembali me ny es ap bibir mungil di hadapannya, pelan, perlahan, hingga membuat Stella terbuai.


"Aku mencintaimu, seluruh duniaku hanya berpusat kepadamu, aku hanya memikirkan hal hal indah bersamamu, melewati badai yang mungkin akan kita hadapi di masa depan bersama mu, terima kasih telah menjadi mommy hebat untuk anak anakku, terima kasih untuk semua ketulusan cintamu, terima kasih karena menerimaku kembali, aku mohon jangan sakiti dirimu, jangan mengingat pahitnya masa lalu kita, karena kini tak ada lagi yang ku inginkan selain bahagia bersamamu." 


.


.


.


disini othor ingin memperlihatkan bahwa Stella juga hanya wanita biasa, sebaik baiknya ia dengan sikap pemaafnya, dia pasti pernah merasa berada di titik terrendah dalam hidupnya, dimana ia merasa rendah diri, karena pernah merasa jadi seseorang yang tak di cintai.💔💔


.


.


Lumer bos lumer sudah es batu nya … 🤧💃


Please like👍 komen 📝vote 🥇kembang 💐 kopi☕ nya juga jangan lupa, sarangheeee ❤️💟

__ADS_1


__ADS_2