Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
96. Oh, Dimas


__ADS_3


Oh, Dimas.



Bukan perkara mudah mendapatkan taxi, beberapa kali pesanan taxinya ditolak, karena malam itu lokasi hana berada di pusat kemacetan, yah bisa dimaklumi karena Twenty Five Hotel berada di pusat kota, dan yang menghadiri acara pernikahan Alex dan Stella memang bukan orang sembarangan, karena itulah lokasi di sekitarnya ikut terkena imbasnya.


Hampir jam sebelas malam, Dimas beberapa kali melihat jam di pergelangan tangannya, rasanya tak nyaman meninggalkan kedua bos kecilnya, tapi gadis ini juga tak bisa ia tinggalkan mengingat waktu sudah hampir jam sebelas malam. 


"Nona … ayo aku antar saja, ini sudah terlalu malam, pasti akan susah mencari taxi, lagi pula, sangat berbahaya jika malam malam begini seorang gadis sendirian di jalanan." Dimas memberi inisiatif.


"Eh … kamu gak sedang memikirkan hal hal yang aneh kan?" 


"Eh … buset dah, terserahlah, kalau gak mau aku antar," Dimas berpaling dan meninggalkan Hana seorang diri.


"Eh jangan marah dong, kan tadi aku cuma tanya?" Hana baru menyadari ia salah mengucapkan kalimat. "Iya maaf kalau kamu tersinggung." 


Sebaris senyuman, menghiasi bibir Dimas.


Akhirnya, Dimas dan si kembar mengantar Hana terlebih dahulu.


Perlu waktu 30 menit untuk sampai di rumah Hana, "terima kasih yah udah mau mengantarku, lain kali jangan segan segan traktir beli gaun lagi." Hana berucap tanpa beban.


Dimas hanya mengerucutkan bibir nya.


Hana melambaikan tangan ketika mobil Dimas menjauh dari hadapannya. 


"Pria yang manis," gumam Hana, "tapi kenapa waktu itu dia terlihat galak,"


✨✨✨

__ADS_1


Alex mengerutkan keningnya, ia menatap layar ponselnya dengan pandangan penuh tanya, penyebabnya tentulah sudah bisa ditebak, ini diluar kebiasaan, tak biasanya Dimas menggunakan kartu dengan nominal yang besar, kecuali untuk hal hal khusus, itu pun atas perintahnya.


Suara ketukan di pintu membuat Alex meletakkan ponselnya, petugas room service masuk ke kamarnya ketika Alex membuka pintu, petugas berpakaian rapi itu membawa satu set paket sarapan mewah khusus untuk bos mereka, yang kemarin untuk kedua kalinya merayakan kembali status baru nya sebagai pria beristri.


Alex membiarkan petugas room service menata sarapan di meja makan, sesudah melaksanakan tugas nya pria itu pun meninggalkan ruangan, Alex kembali menggosok rambutnya yang sudah setengah kering dengan menggunakan handuk, ia kembali ke bilik yang semalam dan pagi tadi menjadi saksi bisu adegan panas nya bersama Stella.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, dua jam lagi adalah jadwal keberangkatan kedua pasangan suami istri baru ini pergi ke Bali, sekali lagi untuk merayakan euforia pernikahan mereka, Alex tersenyum sendiri membayangkan waktu dua minggu ke depan yang akan ia habiskan bersama Stella, sudah pasti mereka akan banyak menghabiskan waktu di kamar.


Alex menatap pintu kamar mandi yang belum juga terbuka, sudah hampir tiga puluh menit Sejak Stella memaksanya keluar lebih dahulu, setelah mereka mandi bersama beberapa saat yang lalu, Stella masih ingin berendam lagi dengan air hangat, dan hasilnya kini ia bengong sendirian sementara menunggu Stella menyelesaikan aktivitas mandinya.  


“Sayang … kenapa lama sekali? sarapan kita sudah datang, sampai kapan kamu berendam nya? lagipula kenapa berendam seorang diri? aku kan mau ikut berendam juga,”


Tepat setelah Alex menyelesaikan kalimatnya, Stella membuka pintu kamar mandi, sama seperti Alex, kini wajahnya nampak  segar dengan rambut basah yang terbungkus handuk, Alex segera merentangkan tangannya, namun Stella hanya melewatinya, dan berjalan lebih dulu, namun Alex tak ingin merusak pagi hari mereka begitu saja, ia segera berjalan menyusul Stella kemudian memeluk istrinya dari belakang.


“Kenapa kamu menghindariku, hmmm?” Kembali Alex menyusupkan wajahnya di ceruk leher Stella. 


Stella mengusap pipi Alex, “kalau aku tidak menghindar, bisa bisa kakak melemparku kembali ke tempat tidur.


“Iya, anggap saja begitu, karena aku bisa membacanya dari raut wajahmu,” jawab Stella asal.


“Baguslah, lain kali aku tak perlu lagi bercerita, karena kamu sudah bisa membaca aura wajahku.” alex kembali menyusupkan tangannya ke balik batrob mandi yang dikenakan Stella, menyadari gelagat tangan Suaminya, Stella mencubit lengan Alex.


“Aw …” jerit Alex, ia buru buru melepaskan pelukannya, hingga Stella bisa berjalan mendahuluinya, menuju meja makan.


Stella segera duduk, ia sungguh kelaparan setelah aktivita menguras keringat dan tenaga semalam pagi tadi. Stella segera minum fresh milk yang ada di hadapannya, kemudian mulai mengupas jeruk, untuk Alex dan untuk dirinya, Alex sungguh menikmati pemandangan paginya kali ini, hari baru, suasana baru, pemandangan baru dan istri baru, hahaha Alex ingin tertawa keras rasanya, ia sungguh bersyukur pada takdir tuhan untuk dirinya, dan berterimakasih pada wanita yang sekali lagi bersedia menjadi istrinya.


Stella mencuri pandang di tengah aktivitas nya mengupas jeruk untuk Alex, “kenapa menatapku seperti itu?”


Alex tersenyum,  “terserah aku kan? toh aku tidak menatap istri orang lain,”


kali ini Stella yang tersenyum, “berhentilah menatapku, aku malu, dan berdebar.” wajah Stella memerah menahan malu.

__ADS_1


Alex tertawa geli, sungguh indah paginya kali ini. 


Stella menyodorkan jeruk yang selesai ia kupas pada Alex, tak lupa beberapa buah potong yang juga sudah tersedia di hadapan mereka, kemudian ia mulai menyantap sarapannya.


***


pukul sebelas lebih tiga puluh menit, Alex dan Stella tiba di airport.


Dengan susah payah, Stella membuat Alex bersedia keluar Hotel, karena Alex terus menempel padanya seperti lem super.


Kini mereka sudah di Airport menunggu Dimas mengantar si kembar ke airport, Alex yang meminta Dimas mengantar Kevin dan Andre, karena Stella ingin berpamitan sebelum perjalanan bulan madu mereka.


Stella nampak resah menanti kedatangan kedua putranya, Alex yang membaca kegelisahan tersebut nampak tersenyum samar, ia heran kenapa juga Stella harus gelisah, sementara mereka akan pergi menggunakan pesawat pribadi nya, jadi tak perlu khawatir tertinggal.


“Duduklh sayang, kamu tidak lelah, sejak tadi berdiri?” Alex menarik Stella agar duduk di sisinya.


“Entahlah, aku tak tahu kenapa seperti ini, padahal ini bukan kali pertama aku berpisah dengan mereka.”


Alex, memeluk pundak Stella agar istrinya merasa tenang sesaat.  “mungkin karena ini pertama kalinya kamu meninggalkan mereka bersama orang lain, selain aku.”


“Iya, mungkin saja begitu.” 


Tak lama berselang, Dimas datang bersama si kembar.


“Mom … dad …” 


Seperti biasa, andre langsung memeluk Alex, sementara Kevin memeluk Stella.


“Baik baik bersama Om Dimas yah?” pesan Stella yang mulai cemas berlebihan, padahal di jakarta, sungguh banyak orang orang yang kan menjaga kedua putra mereka, bahkan Kevin dan Andre akan tetap pergi ke sekolah seperti biasa.


“Bos, anda terlihat bugar, apa semalam anda cukup beristirahat?” tanya Dimas. ketika ia dan Alex mengamati Stella yang masih ingin berpelukan dengan kedua putranya.

__ADS_1


“tentu saja, aku cukup istirahat, dan lagi nanti …” Alex tiba tiba melotot menatap Dimas. “apa maksud pertanyaanmu? kamu mau mengorek apa yang terjadi semalam, antara aku dan istriku?” 


__ADS_2