Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
85.


__ADS_3

Andy segera bergerak, menuruti perintah Abimana, ia keluar kamar untuk menemui beberapa anak buah Abimana yang masih berada di hotel, namun sayang, mereka pun memberikan informasi yang sama, bahwa tak ada satupun yang mengetahui rencana Gerry, karena Gerry merekrut anak buahnya sendiri.


"Ah sial sekali." Gumam Andy.


Sementara Abimana masih mondar mandir di ruangannya, sejak tadi ia terus berusaha menghubungi nomor Gerry, sayang nya Gerry belum mengaktifkan ponsel nya kembali.


"Apa aku harus menemui si breng53k menyebalkan itu, hah harga diriku bisa jatuh ke dasar jurang jika aku sampai datang menemui Alexander." Abimana bermonolog. "Tapi jika aku tak menemuinya, mungkin saja Putra dokter Risa bersama si breng53k itu dalam bahaya." 


Abimana terus menimbang semua kemungkinan, tapi ia justru kesal sendiri, karena semua kemungkinan yang ia pikirkan akan tetap menguntungkan Alexander. 


Abimana mengacak acak rambutnya dengan frustasi, disatu sisi ia ingin menghadiahkan sesuatu yang berharga untuk dokter Risa yang sudah dua kali menyelamatkan nyawanya, namun disisi lain semua pertolongannya juga termasuk dalam paket lengkap dengan Alexander di dalamnya, yang pasti turut serta menikmati nya.


"Ya tuhan … aku memang bukan orang baik, tapi aku sungguh berharap balas budiku pada dokter Risa tidak bernilai sia sia," akhirnya Abimana membulatkan tekad, ia hanya bertekad membantu dokter Risa menemukan anaknya, masa bodo jika anak itu juga anak dari Alexander. 


Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi, nampak seseorang yang sejak tadi ia cari, kini menghubunginya.


"Ada apa tuanku yang terhormat, apakah anda sudah sebegitu cinta pada wanita itu, hingga kini menjatuhkan harga diri anda untuk menghubungiku?" Siara Gerry menyambut ketika Abimana meletakkan ponsel di telinganya.


"Dimana kamu?" Tanya Abimana sepelan mungkin.


"Aku ada di sebuah tempat tuan, yang jelas negeri ini memberiku sebuah tempat persembunyian yang jauuuuuuhhh dari keramaian." Jawab Gerry santai, "alihkan panggilan anda ke mode video tuan, anda akan sangat terkejut, dengan hasil tangkapan saya pagi ini, hahahahaha." Garry tertawa keras.


Seketika Abimana mengubah mode panggilan tersebut, menjadi mode video, nampak di sana Stella sedang duduk di sudut ruangan memeluk Kevin.


"Gerry … akan kamu apakan dokter Risa dan putra nya?" Tanya Abimana dengan Emosi yang kini sudah terkumpul semua di seluruh kepalanya.

__ADS_1


"Santai tuan, ini tidak akan sekejam sandiwara percintaan anda dahulu bersama Rebecca." Jawab Gerry santai tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Abimana terhenyak, ia tiba tiba curiga karena Gerry mengungkit peristiwa kecelakaan yang ia alami, hingga harus kehilangan Rebecca.


"Jelaskan maksud perkataan mu." Tanya Abimana dengan tatapan dinginnya. 


Kini Abimana yang asli sedang mengeluarkan tanduk nya, padahal beberapa hari ini ia tenang dan rileks walau tengah patah hati dengan kenyataan masa lalu dokter Risa.


Beberapa saat lalu ia mencoba berbicara baik baik dan menekan kemarahannya, namun mendengar Gerry menyebut nama Rebecca membuatnya kembali tersulut emosi, luka yang perlahan sembuh itu, seolah kembali menganga, dan tanpa permisi membuat Abimana menetes kan air mata, rasa bersalahnya pada keluarga Rebecca masih ia rasakan hingga saat ini.


"Jika tuan masih percaya, kecelakaan hari itu adalah murni kecelakaan biasa, anda terlalu lugu untuk seorang bandar Obat terlarang, karena hal remeh seperti itu saja anda tidak tahu." 


Abimana sekuat tenaga menahan amarah nya agar Gerry memuntahkan semua cerita kejahatan yang pernah ia lakukan tanpa sepengetahuannya.


"Untuk anda ketahui tuan, Tuan Gio secara pribadi membayar saya dengan mahal untuk menghabisi Rebecca, karena itulah, saya merekayasa kecelakaan anda, dan syukurlah anda tidak ikut terluka, karena jika anda terluka sedikit saja, maka saat ini saya mungkin sudah menghadap tuhan." Gerry menceritakan semua itu dengan ringan tanpa rasa bersalah, sementara Abimana merasakan hatinya semakin diremas, luka patah hatinya dahulu seolah kembali menganga meminta tumbal berupa pembalasan dendam.


Kali ini Abimana semakin dibuat terkejut, klinik apalagi? Ia tak pernah tahu soal klinik, dan tiba tiba Gerry membicarakan Klinik, tentulah ia semakin bingung dibuatnya.


"Klinik apa yang sedang kamu bicarakan?" 


"Silahkan tanya sendiri pada ayah anda, atau anda bisa selidiki sendiri, karena sesungguhnya saya tak ikut campur didalam nya," Gerry berkata dengan nada ejekan pada Abimana, karena selama ini ia telah di bodohi oleh kasih sayang ayah angkatnya sendiri.


"Gerry … tunggu saja, aku pastikan aku akan menghabisimu dengan tanganku, camkan itu baik baik, apalagi jika terjadi apa apa pada dokter Risa, jangan harap kamu akan bisa menyapa mentari esok hari, baj1n94n sepertimu, lebih pantas membusuk di kerak bumi." 


"Hahahahaha … tuan, jika saya baru mengenal anda, saya pasti sudah lari ketakutan, tapi karena ini adalah tuan Abimana ku yang tersayang, aku hanya bisa tertawa, karena sesungguhnya hati anda sangat lembut … saya tahu anda tidak bisa menyakiti orang lain, karena itulah anda membutuhkan saya untuk menjalankan semua keinginan anda, termasuk penyerangan pada tuan Alexander bertahun tahun yang lalu." 

__ADS_1


Tepat setelah Gerry mengatakan kalimatnya, panggilan pun berakhir.


"Bersiaplah Andy, kita temui Alex, sebelumnya pesan tiket untukku, aku ingin segera kembali ke Italia." Abimana memberikan perintah, dengan sigap Andy melaksanakan keinginan Abimana.


✨✨✨


Dua jam sebelum Gerry menelepon Abimana.


Setelah menerima pesan singkat dengan foto Kevin didalamnya, Stella mulai panik, ia sudah hendak memberitahu Alex, tentang pesan tersebut, namun detik berikutnya, sebuah pesan singkat kembali datang.


...Jika ingin bertemu dengan putra anda, saya sarankan kepada anda, untuk datang seorang diri, anak buah saya sudah menunggu di depan hotel, anda punya waktu 5 menit sebelum semuanya terlambat....


Tak ingin membuang waktu, Stella segera berlari keluar dari Twenty Five Hotel, karena hari masih sangat pagi, ia berusaha mencari cari sebuah mobil yang kira kira sedang menunggu nya.


Dan ketika sedang bingung mencari cari, sebuah sedan hitam misterius berhenti di hadapannya.


Seorang pria turun dari kursi depan, kemudian membukakan pintu mobil untuk Stella. 


"Silahkan dokter, mohon maaf jika saya harus meminta ponsel anda." Pria itu berucap.


Stella mematikan ponselnya, kemudian memberikannya pada pria itu begitu saja.


Sesudahnya, pria itu menutup mata Stella dengan seutas kain.


"Demi keselamatan nyawa putra anda, sebaiknya anda berperilaku baik dan bekerja sama." Pria itu berucap datar, namun setiap kalimat nya bernada ancaman.

__ADS_1


Stella hanya bisa menuruti perkataan pria itu, jika main hitung hitungan, dengan mudah Stella bisa melumpuhkan kedua pria itu, namun ia masih menahan diri agar bisa memastikan keselamatan Kevin.


__ADS_2