
Usai Stella melumpuhkan lima orang anak buah Gerry, pandangannya tertuju pada Gerry yang kini masih di posisi tersungkur, menahan sakit, akibat dari kedua lututnya yang kini tertembus timah panas.
Tangan gerry nampak meraba raba mencari pistol nya, setelah mendapatkan pistol dalam genggamannya, Gerry mengarahkan pistol tersebut ke arah Kevin yang masih berusaha berjalan ke arah Alex.
Stella yang menyadari pergerakan Gerry, namun tak bisa melumpuhkan pria itu, karena jarak mereka yang jauh, sebaliknya Stella berlari ke arah Kevin agar Kevin terlindung dari ancaman Gerry.
"Kevin menunduuuuuukkk." Teriak Stella sebelum akhirnya dua buah timah panas menembus pinggang dan perut nya.
DOR !!!
DOR !!!
Terdengar dua kali suara letusan senjata api disusul kemudian, satu lagi tembakan misterius, menembus kepala Gerry, pria itu pun tergeletak meregang nyawa.
"Moooomm." Teriak Kevin.
Kevin kembali berbalik, ia menghampiri sang mommy yang kini terbaring di tanah, darah berlumuran di perut dan pinggangnya, kevin kembali menjerit histeris.
"Mooooom." Ia menangis meraung membawa Stella ke pelukannya.
Dengan sisa sisa kesadarannya, Stella mengusap pipi Kevin. "Jangan menangis, anak laki … laki … tak … bo … leh Cengeng…" dengan suara tersendat sendat Stella terus berucap Agar Kevin berhenti menangis. "Maaf kan … mommy, yang pernah meninggalkanmu, tapi percayalah, mommy sangat menyayangimu, dan juga saudaramu." Usai mengatakannya, stella pun pingsan.
"Berhenti bicara mom, aku yang seharusnya meminta maaf, karena pernah membentak mommy… tolong jangan tinggalkan aku, jangan lagi, aku nggak mau kehilangan mommy lagi…" Kevin menangis pilu, ia begitu takut jika sesuatu terjadi pada sang mommy.
Sementara aksi tembak menembak masih terus berlangsung di sekitar mereka, Alex yang melihat wanitanya tertembak, menjadi semakin brutal, ia tak bisa lagi menahan emosinya, Alex mengambil satu lagi senapan dari balik jaket yang ia kenakan, kemudian bergerak maju, agar lebih mudah mengenai sasarannya, Alex tak bisa lagi menunggu, sementara Stella sudah tergeletak di tanah dengan peluru bersarang di perutnya.
Akhirnya dengan bantuan penembak misterius, misi mereka berakhir, beberapa anak buah Gerry yang tersisa, kehabisan peluru dan akhirnya mengangkat tangan mereka.
Alex melemparkan senjatanya kesembarang arah, ia segera berlari menghampiri stella yang mulai hilang kesadaran di pelukan Kevin yang masih menangis pilu.
Rasanya kali ini ia pun merasakan ketakutan yang sama seperti yang Kevin rasakan, bagaimana jika … ah tidak tidak, Alex mengusir segala pikiran buruk dari kepalanya.
"Papi … mommy terluka karena aku, bagaimana ini?"
Alex memeluk Kevin sekaligus Stella yang kini bersimbah darah, berusaha menenangkan Kevin juga, "tenang nak, yakinlah mommy akan baik baik saja." Ujar Alex menenangkan sang putra." Sebenarnya Alex pun ingin menangis keras seperti Kevin, tapi ia ingin anaknya melihat dirinya yang tetap tenang agar kevin tidak bertambah panik.
__ADS_1
Tuan Danie mendekati Alex yang kini menenangkan Kevin, "tuan kita bisa menggunakan, mobil milik para mafia itu untuk membawa nyonya ke rumah sakit," usul tuan Danie agar mereka bisa bergerak lebih cepat.
"Apakah kita akan punya cukup waktu untuk tiba di rumah sakit besar, sementara kita perlu dokter bedah untuk mengeluarkan peluru,"
"Anda benar tuan, tapi setidaknya kita berusaha."
Alex tetap tak menyetujui usul tuan Danie.
"Papi … bagaimana ini, di sekitar sini pasti tidak ada rumah sakit besar,"
"Iya papi tahu, papi juga sangat khawatir," tapi sedetik kemudian Alex terpikirkan sesuatu.
Alex mengeluarkan ponselnya, kemudian menghubungi Dimas.
"Dimas, hubungi rumah sakit, minta mereka mengirimkan helikopter, sekarang!!" Perintah Alex, ketika sambungan telpon nya terhubung dengan Dimas
"Sudah Tuan, Helikopter sudah bergerak ke lokasi anda, beberapa saat lalu Andy meminta saya menghubungi rumah sakit." Jawab Dimas.
Alex bisa bernafas lega mendengar jawaban Dimas. "Baguslah,"
"Stella tertembak, dua buah peluru bersarang di perutnya," Alex menjawab dengan nada muram.
"Oh ya Tuhan," Dimas memekik dengan suara bergetar.
Sayup sayup Alex mendengar suara Andre, "ada apa om? Kenapa om Dimas tiba tiba pucat." Tanya Andre Khawatir.
Dimas tak mampu menjawab pertanyaan bos kecilnya tersebut, ia sendiri merasakan kesedihan yang dialami oleh Keluarga kecil Alex, "tenang bos, saya yakin Nyonya akan baik baik saja, saya ke rumah sakit sekarang, agar nanti setelah nyonya tiba, semua keperluan operasi sudah siap."
"Terima kasih Dimas."
Andre yang mendengar percakapan Dimas, kini ikut menangis, "mommy kenapa om?" Tanya nya.
Dimas menatap iba pada bocah lelaki di hadapannya, ia mer*mas pundak Andre, "sabar yah tuan muda, Nyonya Stella terluka, ada dua buah peluru yang saat ini bersarang di perutnya." Dengan berat Hati akhirnya Dimas mengatakan kondisi Stella.
Sama seperti Kevin, Andre pun menangis pilu usai mendengar penjelasan Dimas, cepat cepat Dimas memeluk dan menenangkannya, "Ayo ikut Om Dimas, kita harus segera tiba di rumah sakit, agar segala sesuatunya siap ketika Nyonya tiba."
__ADS_1
Andre hanya mengangguk pasrah ketika Dimas membawanya ke Rumah sakit.
Berita tentang kepergian helikopter rumah sakit, langsung terdengar ke telinga Richard yang hari itu masih berada di rumah sakit. "Siapa yang meminta dijemput helikopter?" Tanya Richard pada Leo asistennya.
"Saya belum tahu tuan, yang jelas beritanya masih simpang siur, dan sepertinya pasiennya bukan VVIP sembarangan."
"Pergilah, cari informasi yang lebih akurat." Perintah Richard.
Leo mengangguk, kemudian meninggalkan ruangan Richard.
Richard sendiri tiba tiba gelisah, ia merasakan perasaan tak enak menggelayuti pikirannya, perasaan resah ini seperti hari itu 14 tahun yang lalu, beberapa hari sebelum berita perceraian Stella mampir ke telinganya.
Richard sendiri baru ingat, beberapa hari ini ia bahkan belum bertemu adik bungsunya tersebut, walaupun Stella sudah kembali tinggal bersamanya, namun ia dan Stella sama sama sibuk, jadi tak pernah memiliki kesamaan waktu untuk bertemu.
Tapi mendengar cerita dari Nisya, Richard sudah cukup bahagia, istrinya itu mengatakan bahwa Stella dan Alex tengah sibuk menyiapkan pernikahan mereka kembali, sebagai kakak tentu tak ada yang bisa membuatnya bahagia, selain melihat adiknya bahagia.
Dulu, ketika adiknya bercerai, Richard juga berubah menjadi sosok dingin dan angkuh, karena ia ingin menjaga dan melindungi adiknya, ia tak rela adiknya di sakiti begitu saja, karena itulah untuk menghukum Alex, Richard menyembunyikan Stella, semua hal tentang Stella ia tutup rapat rapat, termasuk mengganti identitas Stella dan Andre.
BRAK!!!
Terdengar suara pintu dibuka dengan kasar, dari sana muncul Leo yang wajahnya pucat pasi bermandikan keringat, karena sejak tadi ia berlari agar segera bisa memberitahu Richard apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu lebih dulu?" Bentak Richard.
Leo belum bisa menjawab pertanyaan Richard, nafas nya masih turun naik, setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Leo bisa kembali bicara.
"Maaf tuan, jika saya mengagetkan anda, tapi saya baru saja mendapatkan informasi yang akurat."
BRAK!!!
Kali ini Richard lah yang menggebrak meja, ia segera berdiri dan berjalan cepat, setelah mendengar laporan dari asistennya.
Richard berjalan cepat menuju lift yang akan membawanya langsung ke helipad di rooftop rumah sakit.
Rupanya benar firasatnya, bagaimana mungkin ini bisa terjadi, sedang apa Stella di tengah hutan, ah si4l sekali, beberapa hari ini ia lengah mengawasi adiknya, dan sekarang adiknya terluka sementara ia bahkan tidak mengetahui informasi apapun.
__ADS_1