Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
74.


__ADS_3

Kedua insan itu nampak masih terlelap, mereka bahkan saling berpeluk erat, sementara di luar orang orang sudah memulai hari sejak beberapa jam yang lalu.


Stella terbangun,  kepalanya terasa pusing dan berputar, ia berusaha mengingat kembali apa yang sebelumnya terjadi, sayup sayup ia merasa tengah minum dan makan camilan di ruang kerja mantan suaminya, dan kini ia sudah kembali tidur di kamar nya. "Apa yang terjadi denganku?" Pikir Stella.


Kemarin usai sesi terakhir nya di seminar medis, Stella langsung pamit meninggalkan ballroom tempat berlangsungnya acara, entah kenapa perasaan nya masih tak karuan sejak bertemu Anindita.


Jadi dia memutuskan pergi ke minimarket di dekat hotel, inginnya sih membeli soft drink dan beberapa camilan berat, karena sejak pagi ia tak selera makan, namun entah kenapa pandangan matanya justru tertuju pada beberapa kaleng alkohol, jadi ia pun urung membeli soft drink.


Setibanya di ruangan Alex, ia harus menelan kekecewaan, menurut sekertaris Alex, sejak pagi Alex bahkan belum datang ke ruangannya, karena sedang ada rapat di luar hotel, belum tahu kapan akan kembali.


Jadi Stella pun memutuskan untuk minum dan makan camilan di ruangan Alex, sembari menunggu mantan suaminya kembali, awalnya bu Wanda melarang, namun Stella tetap memaksa masuk, jadi dengan berat hati bu Wanda mengizinkan Stella menggunakan ruang kerja Alex,  mengingat Dimas pernah bercerita bahwa Alex akan segera rujuk dengan mantan istrinya.


Ketika di ruangan kerja Alex, Stella melihat lihat seluruh isi ruangan, semua hiasan ornamen dan wallpaper di ruangan tersebut memang menggambarkan seorang Alex yang pada dasarnya sangat tertutup, ketika Stella duduk di kursi kebesaran Alex ia menatap seisi meja, hanya ada satu foto, dan itu pun foto lama dirinya bersama salah satu dari si kembar, bertengger manis di sana, ada perasaan lega dan bahagia menyeruak di sela sela dinding hatinya, rasanya kini ia seperti musyafir yang menemukan sumber air, dingin dan segar membasahi tubuhnya yang mulai kering. 


Stella memutuskan untuk kembali ke sofa, dan menikmati apa yang tadi ia beli, padahal ia bukan seorang penikmat Alkohol, beberapa kali ia mencoba meminumnya hanya sebagai formalitas ketika bertemu orang orang penting.


Ia memulai tegukan pertama, sembari memeriksa akun sosmed melalui ponselnya, lama kelamaan Stella mulai menikmati minumannya, hingga tak terasa ia menghabiskan 2 kaleng alkohol, karena batas toleransi nya yang rendah, Stella mulai kehilangan kesadaran hingga tertidur di sofa.


Dan kini ia sudah berteleportasi ke kamarnya, bahkan ada pelukan hangat menemani tidurnya.


Tunggu dulu!!


What??


Pelukan hangat??


Stella membuka matanya lebar lebar, dan ternyata wajah tampan mantan suaminya yang kini berada begitu dekat dengannya, sungguh pemandangan indah di pagi hari.


Tunggu dulu.


Pagi hari??


Jadi semalam?


Apa yang sudah ia lewatkan? 


Hingga berakhir di tempat tidur bersama mantan suaminya?? 


Rasanya Stella ingin meraung raung.


Stella mulai bergerak gelisah, ia bermaksud mencari ponsel atau sekedar memeriksa ini sudah jam berapa.

__ADS_1


Tapi pelukan Alex begitu erat, hingga ia tak mampu bergerak.


"Sayang, jangan banyak bergerak, kamu bisa membangunkan ku." Alex berujar, namun matanya masih terpejam, kemudian ia kembali memeper erat pelukannya, membuat Stella makin merasa tak karuan.


Stella semakin gelisah, setelah sekian menit menunggu, Alex tak juga melepaskan pelukannya, ia pun kembali bergerak menjauh, syukurlah kali ini berhasil, hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa pakaiannya, betapa bersyukurnya Stella manakala ia mengetahui dirinya masih berpakaian lengkap, tapi sedetik kemudian ia bergidik ngeri sembari memeluk selimut, siapa yang sudah menggantikan pakaiannya? Alex kah? 'oh ya Tuhan, Stella hancur sudah harga dirimu, bagaimana mungkin mantan suamimu bisa sampai menggantikan pakaianm?'.


Membayangkannya saja Stella sudah merasa sangat malu, jika mereka masih berstatus suami istri, itu tak menjadi masalah besar, tapi kini status mereka … 'ah … ya sudah lah, jangan dibahas Thor, aku malu'. Ujar Stella pada kakak othor 🙈.


Stella memutar kepalanya ke segala penjuru kamar, mencari cari letak ponselnya, namun nihil, usahanya tak menampakkan hasil, akhirnya ia hanya menemukan ponsel Alex tergeletak di nakas.


Ia pun beranjak dari kasur dan menyambar ponsel Alex.


Jam 10? 


Stella sangat terkejut, bagaimana bisa ia bangun kesiangan seperti saat ini?  


Ini benar benar melanggar aturan hidupnya selama ini.


Stella selalu membiasakan dirinya bangun pagi, bahkan Andre pun demikian, dan kini ia bangun jam 10 pagi, "Othooooor … teganya dirimu padakuuuu? Apa kata dunia jika mereka tahu Stella Marisa bangun kesiangan?" Stella berteriak dalam hati.


Dan othor hanya tertawa melihat kekonyolan Stella, sekali kali Othor buat Stella mengacaukan ritme hidupnya, biar nampak keorisinilan seorang Stella, yang biasa anggun, pintar, pemberani dan penuh percaya diri.


Lalu? 


Stella kembali mencari cari ponselnya.


Namun usahanya belum juga membuahkan hasil.


Tak ada jalan lain selain membangunkan Alex.


"Kak … bangun." Stella mengguncang bahu Alex.


Alex menggeliat sesaat, ia pun membuka mata, melihat mantan Istrinya sudah bangun dengan wajah kusut dan nampak Frustasi.


"Sudah bangun?" 


Stella mengangguk. "Mana ponselku?" 


Alex tersenyum simpul, "kamu tak ingat?" 


"Memangnya apa yang aku lewatkan?" Tanya Stella bingung.

__ADS_1


Alex makin tertawa lepas.


"Ada apa sih? 


"Jangan di ulangi lagi." Kalimat Alex mengandung larangan tegas.


"Memang apa yang kulakukan?" Jawab Stella tak terima.


"Bagaimana kalau si kembar tahu kelakuan mommy mereka ketika mabuk, mereka pasti malu sekali." 


"Memang apa yang kulakukan?" Stella makin penasaran.


"Yakin kamu ingin tahu?" Tanya Alex dengan seringai jahil di wajahnya.


"Jangan berbelit belit, katakan apa yang terjadi." Tanya Stella tak sabar.


Flashback on


Stella yang semula terlelap di pelukan Alex, tiba tiba membuka mata, ia bangkit berdiri, Alex yang melihat Stella berdiri tak Stabil mencoba memegang tangannya, ternyata perhitungan Alex salah, bukannya mendapat sambutan, niat baiknya justru berbuah pahit, Stella justru mendorongnya hingga ia kembali terduduk di sofa.


"Alex … apa kamu tahu, kamu adalah pria paling brengsek yang pernah kukenal." Stella mulai mencercau, sedetik kemudian ia menangis meraung raung sambil berteriak. "Tapi aku bodoooh … karena mencintai pria brengsek sepertimuuuu." 


Stella berteriak sangat keras, hingga bu Wanda dan Dimas buru buru masuk ke ruangan Alex.


"Bos anda tidak apa apa?" Tanya bu Wanda cemas.


"Tidak papa, biar aku saja yang menanganinya, kalian jangan masuk jika aku tak memanggil."


"Baik bos,"


Dimas dan bu Wanda pun meninggalkan ruangan Alex.


"Dimaaaaass … " panggil Stella sebelum Dimas sempat menutup pintu.


"Iya nyonya?" 


Stella berjalan mendekati Dimas.


"Dimas … kamu lelaki baik, jangan sekali kali kamu meniru Alex yang sudah berani mempermainkan perasaanku," Dimas menelan ludah, ia sudah takut karena Alex mulai melotot padanya.


"Baik nyonya, akan saya ingat." Jawab Dimas gugup.

__ADS_1


Semantara Alex mulai membuka jas dan melepas dasinya, tatapan matanya membuat Dimas merasa terancam.


Tak ingin mendapat masalah, Dimas pun segera berlari keluar ruangan, tak lupa menutup pintu rapat rapat, tak peduli walau Stella lagi lagi memanggilnya.


__ADS_2