Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
62


__ADS_3

Malam terakhir Kevin di rumah sakit, 


Dimas mengetuk pintu kamar VVIP tempat Kevin di rawat, wajahnya lelah namun dia masih mampu tersenyum pada Stella.


"Oh … Dimas? Ada apa?" Tanya Stella heran, tak biasanya Dimas datang seorang diri tanpa Alex, sebenarnya sudut hati Stella agak kecewa karena Alex tak datang bersama Dimas.


Stella mulai kembali terbiasa dengan kehadiran Alex di ruang perawatan Kevin, yah tiga hari ini mereka benar benar seperti keluarga sesungguhnya, kecanggungan yang sempat hadir, kini pelan pelan memudar seiring intens nya rentang pertemuannya dengan Alex, bahkan si kembar nampak lebih bahagia dari pada sebelumnya.


"Tuan menunggu anda di bawah, bersenang senanglah nyonya, karena sejak tiba di indonesia, anda hanya terkurung di rumah sakit, apa bedanya dengan di Singapura, padahal ini pertama kalinya anda pulang ke Indonesia setelah 14 tahun." 


"Iya mom, biar om Dimas menemani kami, mommy pergilah makan malam di luar bersama daddy," seolah tahu Stella tengah bimbang, Andre ikut membujuk, agar kakinya terasa ringan meninggalkan rumah sakit walau sesaat.


"Akan lebih baik jika mommy memakai make up." Kevin ikut buka suara, membuat wajah Stella yang semula datar, kini mulai bersemu kemerahan.


Dimas berjalan menuju meja, ia mengambil tas dan ponsel Stella, "silahkan Nyonya, tanpa make up pun tuan tetap tergila gila pada anda." 


Brugh … 


Stella memukul dimas menggunakan tas nya, wajahnya merona menahan malu.


Dimas meringis mengusap bahunya. 


"saya tidak bercanda nyonya, kemarin  lihat sendiri, tuan bahkan tak makan siang agar bisa segera bertemu anda."


Kemudian Dimas mendorong Stella menuju pintu, "pergilah nyonya, malam ini percayakan si kembar padaku, kami akan bersenang senang." 


Sebenarnya Stella agak ragu ragu meninggalkan si kembar, namun melihat si kembar melambai dengan wajah bahagia, ia pun jadi melangkahkan kaki dengan ringan. "Dimas, Tolong jaga anak anak ya?" 


"Percayakan pada saya nyonya, seperti anda mempercayakan tuan Alex pada saya 14 tahun yang lalu." 

__ADS_1


Stella pun melangkah meninggalkan kamar tempat Kevin di rawat.


Sebenarnya Stella merasa malu, dan salah tingkah, terlambat untuk memiliki perasaan seperti ini, mengingat ia dan Alex bahkan tidak pernah berkencan sebelum mereka menikah, dan sekarang dadanya berdegub kencang, seperti remaja yang tengah jatuh cinta.


Ia terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit, jika biasanya ia berjalan di lorong rumah sakit untuk menemui pasiennya,  tapi kini ia berjalan melalui lorong rumah sakit untuk menemui mantan suaminya, Tak bisa dipungkiri perasaan berbeda tengah menggelayuti hatinya, seperti ada jutaan kupu kupu tengah terbang  menari nari di sana, ia tersenyum sendiri, mengusir perasaan ragu yang perlahan berubah menjadi rasa bahagia.


Setibanya di halaman rumah sakit, seorang pria tengah menantinya, ia bersandar di body mobil, dengan tangan bersedekap, kemeja nya sudah tak rapi seperti saat ia berangkat kerja pagi tadi, kini dasi nya sudah di lepas, kemejanya sudah keluar dari celana, lengannya sudah di gulung hingga siku, walaupun begitu, bagi Stella ia tetap pria paling tampan, satu satunya pria yang ia cintai sekaligus yang pernah membuatnya patah hati.


Alex tengah resah berdiri di samping mobilnya, sebenarnya ini ide Dimas, agar ia mengajak Stella kencan, pada awalnya ia terkejut, tapi lama lama ia gelisah menanti, akankah Stella mau pergi kencan dengannya, dahulu sebelum menikah, mereka bahkan tidak pernah kencan, satu satunya kencan yang sering mereka lakukan adalah kabur dari asrama, 


Berkali kali alex memasukkan jemari tangannya ke rambut untuk menutupi rasa gelisah nya, ia bahkan mondar mandir sambil menggigiti kuku tangannya, akhirnya yang ia tunggu pun tiba, wanita itu tengah berjalan ke arahnya, dia hanya memakai jeans, kemeja santai, dan sneakers shoes.


Sebaris senyuman menyambut kedatangan Stella, Alex bahkan membukakan pintu mobil untuknya, kemudian mempersilahkan Stella untuk masuk, untung saja Alex tak memasangkan safety belt nya, jika itu terjadi, pastilah gemuruh di dadanya akan terdengar di telinga Alex.


Alex pun memposisikan dirinya duduk di belakang kemudi, bibirnya tak henti tersenyum. 


"Jadi mau ke mana kita?"


"Stella?" 


"Stella?" 


Alex memanggil beberapa kali, sepertinya ia melamun hingga tak menyadari dirinya dipanggil, Dengan lembut Alex mengguncang pundaknya, hingga membuat Stella tersadar dari lamunannya, karena melamun Stella lupa memasang safety belt nya, Alex mendekat, ia meraih safety belt kemudian memasangkannya.


Stella bahkan reflek berhenti bernafas tatkala jaraknya dengan Alex sangat dekat, khawatir gemuruh di dadanya terdengar jelas, aroma parfume Alex menyeruak indera penciumannya.


"Oh maaf, aku melamun, ada apa?" Stella tersenyum kikuk.


Alex tersenyum, ternyata bukan hanya dirinya yang gugup. "Kita mau ke mana?"

__ADS_1


"Entah, aku sudah lama tidak berkeliling Jakarta." 


"Baiklah, kita keluar dulu, katakan padaku jika kamu ingin sesuatu." 


Stella mengangguk, ia mulai sedikit rileks tak lagi tegang seperti beberapa saat yang lalu.


Alex menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, yang pertama agar Stella bisa memutuskan ingin kemana, yang kedua tentu saja itu modus agar ia bisa lebih lama berduaan dengan mantan istrinya.


Stella melihat lihat suasana Jakarta di malam hari, "ternyata sudah banyak berubah, dan suasana ini lah yang selalu kurindukan," gumam Stella.


"Hah … kamu bilang apa?" Tanya Alex.


"Oh … aku merindukan suasana ini, suasana yang hanya bisa ku jumpai di indonesia, deretan pedagang kaki lima, orang orang yang menikmati makan malam di pinggir jalan, kebahagiaan tetap terpancar di sana, walau tak mereka tak memakai barang mewah, sederhana tapi manis." Ucap Stella.


"Apa kamu mau berhenti di salah satu warung tenda itu?" Alex bertanya, karena kelihatannya Stella sungguh tertarik dengan suasana ramainya warung kaki lima.


"Tidak, aku belum tertarik, coba cari suasana yang lain." Pinta Stella, ternyata modusnya Stella pun sama, ia tak ingin waktu cepat berlalu.


"Baiklah, kita cari tempat lain." Malam ini Alex ingin menuruti keinginan Stella, tentu saja niatnya cuma satu, agar Stella kembali merasa nyaman berada di dekatnya, dan mereka berdua bisa menikmati kencan singkat ini.


Alex kembali menjalankan mobilnya, masih dengan kecepatan sedang, tak lama kemudian, beberapa meter di depan mereka nampak banyak lampu berwarna warni, banyak anak kecil yang bahagia bersama kedua orang tua mereka, ketika jarak semakin dekat, ternyata sederetan food festival tengah memanjakan lidah para pengunjung, "ayo kita ke sana kak," pinta Stella.


"Baiklah, aku cari tempat parkir dulu." Alex langsung menyetujui keinginan Stella, baginya yang terpenting adalah bersama sang mantan istri, tak penting dimana lokasinya.


Ternyata mencari tempat untuk parkir mobil, tak semudah yang Alex bayangkan, ramainya pengunjung membuat tempat parkir pun membludak, hingga akhirnya Alex menemukan tempat parkir yang jaraknya lumayan jauh dari lokasi. 


(Nah kalo ini modusnya othor bos, biar bisa agak lamaan dikit kencannya 😘)


"Jauh juga ternyata, gak papa? Kalau mau kita bisa cari tempat lain." Alex menawarkan mereka untuk pindah lokasi kencan.

__ADS_1


"Tak masalah, ini tempat sempurna, aku bisa mencoba banyak makanan indonesia di sana, tempat parkirnya juga sempurna, lagipula aku sudah terbiasa berdiri berjam jam di ruang operasi, kakak masih sanggup berjalan kan?" 


Alex gelagapan menanggapi pertanyaan Stella, "apa maksudmu, tentu saja aku sanggup kalau hanya berjalan kesana." Jawab Alex tak mau kalah.


__ADS_2