
Oh, Dimas.
Tiga minggu kemudian.
"Sayaaaaang … mana dasi ku?" teriak Alex, ketika ia tengah memulai aktivitas paginya sebelum kembali bekerja.
Stella yang juga baru selesai bersiap dengan pakaian kerja nya, nampak keluar dari walk in closet, dengan dasi dan jam tangan untuk suaminya.
"Ih … manjanya ini loh, sudah pernah 14 tahun menduda, masa hal seperti ini saja harus kamu hebohkan." Dengan telaten, Stella memasangkan dasi suaminya, sementara bibirnya terus mengeluarkan omelan khas ibu ibu, namun bagi Alex ini pemandangan indah, dan omelan Stella laksana nyanyian merdu di telinga nya.
Stella yang sejak tadi mengomel, tiba tiba menghentikan kalimat nya, manakala menyadari bahwa sejak tadi Alex hanya diam mendengarkan setiap ucapan yang terlontar dari bibirnya.
"Kenapa senyum, ada yang lucu?" Tanya Stella ketika menatap senyuman tak biasa di wajah Alex.
"Iya, istriku sungguh lucu … omelan nya saja terdengar merdu, bagaimana jika sedang menyanyi … pasti burung burung yang terbang di angkasa, akan berbalik dan mengerumuninya."
Blush …
Seketika rona merah menyembul dari kedua pipi Stella.
"Gombal …" Stella berlanjut memasang jam tangan di pergelangan suaminya.
"Sudah tahu aku tukang menggombal, kamu masih mau kembali padaku kan?" lanjut Alex ketika merapikan gesper dan manset kemeja nya, beginilah rutinitas paginya, saling melempar candaan, bualan, serta rayuan manja, yang mengalirkan getar getar cinta, agar selaksa yang baru saja tercipta, terasa semakin bergelora.
Sudah seminggu yang lalu perjalanan bulan madu mereka berakhir, dan kini saatnya kembali ke aktivitas semula, hanya saja suasananya terasa sangat berbeda, rumah besar keluarga Geraldy, semakin ramai dengan kembali hadirnya Stella dan Andre.
Si kembar mulai sering berdebat, bahkan tak jarang mereka lari berkejaran mengelilingi rumah dan pekarangan belakang, membuat suasana rumah lebih hidup, sungguh bahagia tak terkira dirasakan opa Sony dan oma Lani, manakala melihat kedua cucu nya berdebat, bahkan mereka tak mempermasalahkan jika seisi rumah berantakan, karena itu dianggap suatu keberkahan, efek bahagia yang kembali menyapa seisi keluarga Geraldy, lebih bahagia lagi manakala melihat Alex kembali tersenyum bahagia bersama dengan wanita yang dulu pernah dikecewakannya.
__ADS_1
Sekali lagi Sony sangat berterima kasih pada sang Maha pencipta, yang menghadiahkan sejuta bahagia dalam hidupnya.
Sebenarnya jika disuruh memilih, Alex lebih suka Stella berada di rumah, agar ia puas memanjakan segala yang dipinta sang kekasih hati, namun Alex juga ingin menghargai usaha dan kerja keras istrinya selama puluhan tahun hingga bisa berdiri menjadi sosoknya saat ini, bagi Alex sudah cukup Stella bersedia merelakan sebagian waktunya di rumah sakit, karena Alex tak ingin Stella terlalu sibuk di rumah sakit, hingga melupakan keluarganya.
"Jadi … jangan coba coba bermain mata, ingat statusnya bukan lagi seorang duda," Stella menekankan kalimatnya, terdengar sekali ia tengah posesif, kadang tak rela membiarkan suami tampannya dikelilingi para karyawan wanita, yang menatapnya penuh damba, tapi ia juga harus realistis, semakin kuat ia menggenggam sesuatu, semakin sakit jika apa yang ia genggam ternyata terlepas begitu saja.
Alex tertawa bahagia, ia pun memeluk erat raga wanitanya, mencoba menyalurkan perasaan cinta nya yang luar biasa, "apalah artinya para wanita di luar sana, sedikitpun aku tak tergoda, karena ternyata yang dirumah, memiliki segalanya yang bisa membuatku bahagia."
(Wadidaw … bos … atuh lah … othor juga mau dirayu model begitu 🤧)
Stella semakin menenggelamkan wajahnya di pelukan suaminya, ia merasa tengah terbang dan menari bersama ribuan kupu kupu, Menyelami indahnya perasaan baru yang baru beberapa saat ia rasa, "aku mencintaimu dengan sangat, dan akan terus ku buktikan sampai kamu benar benar bisa percaya, aku menjaganya selama puluhan tahun, kini cintaku sudah kembali berada dalam dekapanku, aku berjanji kan ku genggam hingga hembusan nafasku benar benar berakhir."
Alex menengadahkan wajah Stella, sebuah kecupan mampir di kening istrinya, "Ayo sarapan, kamu sudah tahu akibatnya, jika kita terlalu lama berpelukan," Alex mengedipkan matanya.
"Ish … dasar mesum." Stella mengurai pelukan mereka, tapi sedetik kemudian ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi Alex. "Ayo sarapan, aku sudah siapkan jus empat lapisan warna."
Stella menyeret lengan Alex menuju ruang makan, Kevin dan Andre yang rapi dengan seragam sekolah mereka, kini menunggu di meja makan, "loh opa dan oma mana? Belum dipanggil?" Tanya Stella.
"Sudah beberapa tahun terakhir ini mama dan papa selalu menyempatkan olahraga pagi, jadi mereka akan sarapan sekitar jam sembilan."
Stella mengangguk paham, karena ia pun sudah terbiasa bangun pagi buta menyiapkan sarapan, kalaupun kedua mertuanya ingin sarapan di jam berbeda tak akan jadi masalah.
Ke empat nya sarapan di selingi obrolan ringan penuh canda tawa, dari balik jendela dapur, Ima sang pengasuh Kevin ikut menitikkan air mata, ia adalah salah satu saksi hidup bagaimana keluarga kecil majikannya porak poranda di terpa badai perceraian, puluhan tahun tak ada kabar, tiba tiba tuhan mengirimkan selaksa harapan dengan bertukarnya si kembar, dan sungguh ajaib, tak lama sesudahnya tuhan mengizinkan keluarga ini kembali merapikan puzzle kehidupan mereka, hingga utuh seperti sedia kala.
Tiga puluh menit kemudian tiga mobil mewah keluar dari pekarangan rumah keluarga geraldy, Alex langsung ke tempat kerja nya seperti biasa didampingi Dimas, si kembar diantar sopir ke sekolah mereka, dan Stella pun demikian ia menuju rumah sakit bersama sopir, sebenarnya Alex tak keberatan mengantarkan nya ke rumah sakit, namun Stella menolak, karena tak ingin membuang banyak waktu di jalan, mengingat rumah sakit dan Twenty Five Hotel berlawanan arah.
"Dimas sudah siap dengan jawabanmu?" Tanya Alex di tengah kegiatannya memeriksa dokumen pekerjaan yang masih menumpuk usai ia pergi berbulan madu.
Deg ..
Dimas terkejut, ia sama sekali tak memikirkan pertanyaan Alex, karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan Alex, belum lagi waktunya bersama si kembar, membuat nya benar benar lupa. "Jawaban apa ya bos?" Tanya Dimas pura pura tak paham.
__ADS_1
"Perlu aku minta salinan tertulis dari pihak bank, agar kamu bisa melihat dengan jelas?" Hardik Alex.
Alex tak pernah mempermasalahkan besarnya uang yang ia berikan pada Dimas, yang kadang Dimas gunakan untuk membeli sesuatu, dan sejauh ini Dimas selalu memberitahunya, hanya saja transaksi terakhir nya kali ini, terlihat mencurigakan, dengan nominal yang terbilang fantastis, Alex hanya ingin tahu apa yang Dimas beli hingga mengeluarkan nominal sedemikian rupa.
.
.
.
.
.
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan ending dari bos Alex dan dokter Risa, terlihat dari semakin menurunnya angka readers sepasang mantan, tapi othor berusaha bertanggung jawab pada kisah yang othor tulis, menyelesaikan semua masalah yang terjadi diantara mereka, mulai dari Abimana, Gerry, misteri siapa sebenarnya mata mata yang di susupkan Alex di anatara anak buah Abimana, termasuk menikahkan kembali sepasang mantan yang telah lama terpisah, dan kini othor berusaha memenuhi permintaan para readers, yang ingin melihat kisah cinta Dimas dan kamingsun dokter Alan, tapi kisah keduanya akan terus berkaitan dengan kehidupan keluarga sepasang mantan ini, bagaimana kehidupan rumah tangga mereka, apakah masih ada cemburu dan benci yang mewarnai.
.
.
.
.
oke guys, apapun itu, pokoknya othor sangat berterima kasih untuk cinta dan dukungan kalian selama ini, mohon maaf juga jika banyak yang kecewa, dengan ending yang othor persembahkan ..... .
.
.
.
__ADS_1
sarangeeeeee 💜💛❤️