Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
117. Menanti Kelahiran.


__ADS_3


Menanti Kelahiran.



Pagi ini, walau tubuhnya sungguh berat untuk di gerakkan, Stella memilih untuk berada di halaman samping menikmati matahari pagi, dan hembusan angin, ia tengah duduk santai di tepi kolam renang, menunggu Alex yang sejak tadi berenang, jika ini hari libur pastilah si kembar sudah ikut bergabung bersama Alex di kolam, mengingat mereka masih harus ke sekolah jadilah Alex berenang seorang diri.


Benar benar hari yang santai, dulu sebelum menikah, di jam jam seperti ini ia sudah harus mengunjungi pasien pasiennya, dan beberapa hari ini ia benar benar menikmati perannya sebagai istri manja yang tak ingin berada jauh dari suaminya, sampai sampai Alex memindahkan sebagian pekerjaan nya ke rumah, ia bersyukur karena Alex tak keberatan melakukannya.


Akhirnya Alex menyelesaikan aktivitas nya,  segera setelah mengeringkan tubuhnya, Alex menghampiri Stella.


"Berbalik, aku ingin lihat punggungmu."


Walau heran dengan permintaan Istrinya, Alex tetap berbalik, Stella meraba luka bekas sayatan benda tajam yang tujuh tahun lalu ia perbaiki di ruang operasi, luka sedalam tiga centi itu, kini sembih dengan baik, dan hanya menyisakan bekas garis miring di punggung Alex.


Stella mengusap luka itu, dia senang karena tak ada keloid sama sekali disana, "syukurlah luka ini sembuh dengan baik, bahkan tak ada keloid sama sekali.”


"Dari mana kamu tahu ada luka ini di punggung ku?" Tanya Alex heran, namun sesaat kemudian, pertanyaan nya langsung terhubung ke berbagai rangkaian peristiwa yang terjadi di antara mereka. 


Stella hanya menatap polos ke wajah suaminya, wajah yang kini menyimpan banyak pertanyaan untuknya.


"Sudah tahu jawabannya?" Tanya nya.


Alex mengangguk, wajahnya terlihat muram, "Kenapa hari itu tidak menemuiku?" Tanya Alex dengan mata berkaca kaca, apa setelah tujuh tahun kamu masih belum bisa menghilangkan marahmu padaku?" 


Stella mengusap air mata dari pipi Alex. "Jawabannya sama, aku pikir kakak sudah menikah, dan juga aku terlalu takut menghadapai ancaman kak Richard." 


"Apa Dimas tak mengatakan apa apa padamu?" 


"Dimas ingin mengatakannya, tapi aku melarang, aku takut hatiku akan lemah." Stella menunduk, mengingat kembali saat itu ternyata mampu membuatnya kembali ingin menangis sedih.


Walau Alex sangat ingin tahu kenapa, tapi melihat Stella menunduk menahan tangis, membuat Alex urung melanjutkan pertanyaanya.


“Lupakan aku pernah menanyakan hal ini,” Alex mengangkat dagu Stella yang masih tertunduk, segera ia menyesal karena membuat istrinya kembali menangis, “anggap saja itu mimpi buruk,” Alex mengusap air mata Stella, “sementara saat ini saja, aku sudah bahagia bersamamu dan anak anak kita, bahkan sebentar lagi si kecil ini akan meramaikan hidup kita.”


Stella mengangguk cepat, kemudian mengusap sendiri air matanya.


“Tunggu di sini sebentar, ada yang ingin aku perlihatkan padamu,” alex menyambar jubah mandi nya, kemudian pergi menuju  ruang kerjanya, ia menghembuskan nafasnya perlahan, kala mengingat isi dari dokumen yang tengah ia pegang, dokumen ini lah yang membuat ia terlambat pulang semalam.

__ADS_1


kemudian ia kembali ke tempat istrinya berada.


Stella mengerutkan kedua alisnya, manakala menerima dokumen tersebut.


"Apa ini kak?”


“Bukalah, kamu akan mengerti apa isinya.”


Stella pun membuka amplop berwarna coklat tersebut, netranya membola mana kla menatap isi dari amplop berwarna coklat tersebut.


“Maaf, semalam aku menemui pengacara, dan membahas isi dari dokumen ini, dan sekarang aku menunggu keputusanmu, apapun yang kamu katakan akan aku turuti, tapi jika kamu memang tidak setuju, aku hanya akan mengirimkan orang kepercayaanku untuk memastikan keselamatan gadis itu.”


Tangan Stella gemetar menerima sepucuk surat tersebut, benar benar belum percaya dengan apa yang kini ia lihat dan ia baca, tak ada kemarahan atau pun dendam di balik mata biru tersebut, yang ada adalah perasaan iba, naluri keibuannya terpanggil, ingin memeluk erat gadis kecil itu.


“Kapan dia meninggal?” 


“Menurut pengacaranya, dia meninggal dua minggu yang lalu.”


Stella terdiam, baik lah aku mengerti, lakukan yang terbaik, aku ingin anak ini baik baik saja di panti asuhan, dan tak kekurangan apapun,” Stella menghapus air matanya.


Gadis kecil yang malang, di usia semuda ini dia sudah harus kehilangan kedua orang tuanya. “Baiklah, sementara ini aku aku hanya menyuruh Andy mengawasinya, dan memastikan keamanannya, besok aku akan meminta Dimas menemui pihak panti asuhan.”


***


International School.


Hari kelulusan si kembar.


Pagi ini tak seperti biasanya, Stella bisa bangkit dan melawan rasa mualnya, mungkin karena hari ini ia sedang bahagia, karena hari ini adalah hari pelepasan si kembar dari Junior High School.


Bahkan satu jam sebelum acara dimulai, Stella sudah berada di lokasi acara, tentu tujuannya adalah mengajak Alex bernostalgia, sebelum acara di mulai.


Sepasang pengantin baru itu tersenyum menatap pagar sekolah tempat dahulu mereka pertama bertemu dan berkenalan. 


“Kenapa tertawa?” tanya Alex pada Stella yang tiba tiba tertawa menatap paga sekolah.


“Lucu saja, mengingat bagaimana kita berkenalan untuk pertama kalinya.” Stella mengusap perut suaminya, “apa sakit sekali?” tanya nya.


“Tentu saja sakit, jadi wajar jika kamu meraih medali emas saat itu.” gerutu Alex.

__ADS_1


“Maaf …” Lagi lagi Stella berucap maaf, lalu kembali tertawa geli, alex sengaja membiarkan Stella agar ia juga tertular aura bahagia yang terpancar dari senyuman sang istri.


Sejak hari itu, sudah puluhan kali kamu mengatakannya.”


Mereka pun berjalan memasuki gerbang sekolah, Semakin masuk kedalam membuat Stella semakin erat memeluk lengan Alex, mengingat bagaimana dahulu mereka mereka pernah mengukir banyak memori bahagia di tempat ini. 


Beberapa guru yang kebetulan mereka kenal, tampak memberi sapaan, termasuk Fira yang hari itu sibuk mempersiapkan acara pelepasan murid tingkat tiga.


Dan akhirnya disinilah mereka kini berada, bersama para orang tua lainnya, Alex dan Stella menempati kursi yang disiapkan khusus untuk para orang tua, karena mereka datang terlebih dahulu, jadi mereka mendapat kursi di barisan depan, keduanya melambai manakala nama anak anak mereka di sebut untuk meresmikan kelulusan keduanya.


Stella mengusap setitik air mata haru dari sudut matanya. “bukankah mereka luar biasa?” bisik Stella di telinga Alex.


“Tentu saja, mereka luar biasa, karena mereka memiliki mommy yang juga luar biasa.”


kedua nya saling berpandangan bahagia. 


“Aku ingin ke Singapura.” Tiba Stella teringat, ia bahkan belum berpamitan dengan kedua orang tua Bella.


“Untuk?”


“Aku ingin mengenalkan kakak pada orang tua Belinda.”


“Ah … Belinda, apa itu gadis yang sering anak anak bicarakan?” 


“Iya, orang tua Bella sangat baik pada Andre, mereka bahkan membawa Andre berlibur, ketika aku tak memiliki waktu menemaninya di hari libur sekolah.”


“Ooooo … baiklah, aku akan mencari waktu yang tepat,” 


.


.


.


.


.


promo novel terbaru othor ya gaes ... yang berkenan silahkan mampir, terimakasih. 💃

__ADS_1



__ADS_2