
Setibanya di pintu utama.
"Tolong berhenti sebentar," pinta Stella.
Stella mendekat ke telinga Kevin, "semua akan baik baik saja, anggap saja kamu sedang tidur, dan terbangun dalam keadaan sehat, ingatlah mommy selalu menyayangimu."
Kevin mengedipkan kelopak matanya, sebuah kecupan Stella berikan demi menyemangati Kevin, serta meyakinkannya, bahwa semua akan baik baik saja.
"Dokter, jika ingin, anda bisa ikut kami ke dalam, dan menyaksikan langsung,"
Stella menggeleng, "tidak terima kasih, hari ini hari liburku, biarkan aku menunggu di luar seperti keluarga pasien yang lain." Stella menatap beberapa orang yang juga sedang berada di ruang tunggu.
"Baiklah, kami masuk dulu dok."
Stella mengangguk dan melambai pada Kevin.
Stella memilih berada di ujung lorong, ia jadi teringat 14 tahun silam, di rumah sakit yang sama dengan kondisi berbeda, iya Andre kecil yang kala itu … ah sudahlah, Stella tak ingin lagi mengingat nya, biarlah itu jadi pembelajaran untuknya dan Alex, sebuah proses yang akhirnya mendewasakan dirinya saat ini.
Baru beberapa menit menunggu, Stella mulai gelisah, ternyata begini rasanya menunggu di depan ruang operasi, padahal Kevin hanya operasi ringan, bagaimana dengan pasiennya, yang kadang kala keluarga mereka menunggu 12 jam lamanya, atau kadang mereka harus menelan pahitnya kabar duka yang ia bawa dari ruang operasi.
Stella menarik nafas nya perlahan.
Harus kah ia mendatangi Richard kakak nya, agar ia di izinkan kembali ke Indonesia, agar tak lagi berjauhan dengan anaknya, sebagai seorang ibu, ia pun tak tega bila harus meninggalkan anak anak nya, cukup sekali ia melakukannya, dan ia menyesali keputusannya kala itu, andai kala itu ia bertahan disisi Alex, akankah pria itu menyadari cintanya, ataukah hanya dia yang menanggung kesedihan?.
Kesedihan karena cinta tak berbalas.
Alex yang baru menyelesaikan proses administrasi, kini datang menghampirinya bersama Andre.
Tiba tiba Andre berlari memeluknya, ia terisak pelan, Stella hanya mengusap punggungnya Agar Andre merasa tenang, "mom … apa Kevin akan baik baik saja?" Ia mendongak dan mengungkapkan kegelisahannya.
__ADS_1
Stella tersenyum, "iya … Kevin akan baik baik saja."
"Syukurlah, aku takut sekali mom, tadi dia sama sekali tidak bisa bergerak, aku takut terjadi apa apa padanya, aku gak mau kesepian lagi."
"Tidak sayang, mommy pastikan, saudaramu akan baik baik saja." Stella menenangkan Andre dalam pelukannya, netranya menatap Alex yang tengah berbincang dengan salah satu keluarga pasien yang menunggu di ruang operasi, sepertinya Alex mengenal dekat wanita itu, siapa dia?.
Tak lama Alex datang menghampirinya dan Andre, pria itu mengulurkan sebotol air mineral yang sejak tadi di genggamnya, "minumlah, kamu pasti lelah, sejak tiba belum istirahat."
Stella menerima air mineral tersebut kemudian meminumnya, karena Alex sudah membukakan tutup botolnya. "Terima kasih kak," memang benar kata Alex, ia bahkan belum sempat duduk dengan tenang, karena buru buru lari ke rumah sakit karena Kevin yang harus segera mendapatkan pertolongan.
"Apa kakak mengenal wanita itu?" Tanya Stella.
"Ya, dia nona Elena Sebastian, dia putri bungsu pemilik HS Grup Construction om Harun Sebastian, masih ingat Om Harun?"
Stella menggeleng, "om Harun kan teman papa Kenzo juga, beliau pemilik perusahaan konstruksi yang memiliki peran besar dalam proses pembangunan William Medical Center." Alex menjelaskan.
"Itu calon suaminya, kecelakaan di lokasi Konstruksi."
"Duduklah dad," Andre membawa Alex duduk di sisinya, kemudian ia menatap kedua orang tuanya bergantian, wajahnya berseri bahagia.
"Kenapa?" Tanya Alex yang melihat Andre senyum senyum sendiri.
Andre tersenyum lebar, "aku senang, karena ini pertama kalinya aku duduk diantara mom and dad." Ucapan sederhana yang memporak porandakan hati Alex dan Stella.
Keduanya tak mampu berkata kata, hanya mampu saling pandang, sementara Andre memeluk erat lengan Alex, tapi tangannya tetap berpegang pada Stella.
Untuk beberapa saat Alex dan Stella saling menatap tanpa kata, ada getaran rindu di hati keduanya, berdebar, namun Stella masih memasang dinding untuk melindungi hati dan perasaannya.
Hingga beberapa saat kemudian, Stella memutus kontak mata diantara mereka, karena jantungnya mulai tak baik baik saja, Ternyata Alex pun merasakan hal yang sama, saat ini debaran jantungnya bahkan lebih menggila daripada seminggu yang lalu di hari terakhir mereka bertemu, mereka seperti baru pertama kali jatuh cinta.
__ADS_1
Kesunyian terpecah, karena perhatian mereka beralih ke pintu utama ruang operasi, seseorang yang mereka kenal dengan sangat baik, dokter tersebut nampak berbincang sesaat menjelaskan kondisi pasien, ia pun nampak terkejut melihat kehadiran mereka di sana, namun keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat, ia berjalan menghampiri Stella dan Alex.
"Apa kabar Dokter Stella?" Sapa nya.
Yah dia adalah dokter Alan, mantan kekasih Stella sekaligus sahabat Alex semasa di Senior High school.
"Kabar baik dokter Alan," Stella berdiri menyambut uluran tangan Alan, ia tersenyum sesaat, membuat Alex yang juga berada di sana merasa tak nyaman, Alex pun ikut berdiri.
"Apa kabar Lan?" Alex pun menyapanya terlebih dahulu.
"Baik Lex." Jawab Alan.
Alan dan Alex, bersahabat semasa junior dan senior High School, persahabatan yang menyenangkan di masa itu, hingga mereka terpisah karena masing masing melanjutkan Kuliah di bidang yang berbeda, mereka kembali bertemu ketika Alex mengatakan pada Alan bahwa ia dijodohkan dengan Stella, saat itu Alan marah, tapi ia tak mampu melawan, karena ia belum menjadi Alan yang saat ini, Dokter yang sangat diperhitungkan sepak terjangnya karena memiliki jam terbang tinggi di ruang operasi.
Hingga Alan dan Stella pun merelakan hubungan mereka yang baru saja dimulai.
"Siapa yang sakit," tanya Alan pada keduanya.
"Kevin." Jawab Alex dan Stella bersamaan.
Alan mengangguk, "dan yang ini pasti Andre, Wah sudah besar sekarang," Alan menyapa Andre yang sejak tadi menjadi penonton. "Hai, kamu masih mengenalku? Ah aku lupa, dulu masih berusia satu tahun kan?" Tanya Alan pada Stella tanpa canggung.
Stella tersenyum dan mengangguk, Alex yang melihat interaksi tersebut, semakin gelisah, ia mengepalkan tangannya, merasa semakin dongkol manakala Alan dan Stella terlihat berbincang akrab.
Tak lama Alan pun berpamitan, karena harus menghadiri jadwal praktek rawat jalannya.
Alex menatap punggung sahabatnya hingga ia menghilang di balik dinding, Alan adalah satu satunya sahabat bagi Alex, sungguh tak terbayang olehnya bagaimana dulu perasaan Alan ketika dirinya meminta izin padanya untuk menikahi Stella, saat itu Alex tak bisa menolak perjodohan nya dengan Stella, seperti ada gelenyar bahagia ketika ia mendengar keinginan kedua orang tuanya, hingga membuatnya reflek mengangguk setuju.
Dan hingga kini Alan belum menikah, apakah dia masih mengharapkan Stella??
__ADS_1