Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
118. b. Kejutan.


__ADS_3


b. Kejutan.



Setelah Stella kembali tenang, Alex bisa bernafas Lega, Kejutan beberapa saat yang lalu sudah membuat wajah dan seluruh tubuhnya berkeringat dingin, ia mengusap peluh yang membasahi keningnya, begitu pula si kembar yang kini bisa kembali pada gadget mereka, perjalanan jakarta singapura hanya dua jam jarak tempuh, namun bagi Alex, ia seperti sudah melewati dua abad masa hidupnya, hanya gara gara ketakutan bahwa istrinya akan melahirkan di pesawat.


“Suter Amanda, duduklah di sini,” perintah Alex, setidaknya jika Stella kembali kesakitan, ada petugas medis yang sigap mendampinginya.”


Dengan patuh, suster Amanda berpindah kursi, instingnya sebagai petugas medis mulai waspada, khawatir sesuatu terjadi pada istri Sultan, padahal ia sudah dibayar mahal untuk perjalanan nya kali ini, kapan lagi ia bisa merasakan naik pesawat pribadi yang hanya berisi sepuluh penumpang termasuk kru pesawat.


“Dok, tolong katakan pada saya, jika anda kembali merasakan sakit,” ujar suster Amanda yang kini memasang mode waspada.


Stella mengangguk, “iya aku tahu, aku pasti akan mengatakan pada mu jika kembali merasakan sakit, lagi pula aku tak ingin suamiku kena serangan jantung karena terkejut.” canda Stella, ia pun tak ingin membuat suster Amanda tegang.

__ADS_1


Suster amanda pun ikut tersenyum mendengar ucapan Stella, suster Amanda mengusap perut Stella. “baby … tunggu kita mendarat yah, kasihan papimu.” suster Amanda merasakan tendangan dari perut Stella.  “oh … baby, apa salahku, kenapa kamu menendangku?” protes suster Amanda.


Stella ikut tertawa. “dia akan marah jika mendengar seseorang menyebut kata kata papi.” jawab Stella.


“aaaa …  begitu rupanya, tapi dok kenapa dia bisa sensitif sekali?”


“Entah, sepertinya dia ingin memonopoli perhatian daddy nya, mungkin dia tahu dia adalah kesayangan daddy nya, karena dia satu satunya anak perempuan milik daddy, bukankah begitu sayang?” tanya Stella, yang kembali di jawab dengan sebuah tendangan keras, bahkan lebih keras dari tendangan yang biasa ia berikan.


Suster Amanda dan Stella kembali tertawa bersama.


Alex yang juga baru saja merasa tenang, kini kembali panik manakala melihat Wajah Stella yang memerah karena menahan kesakitan, ia segera bangkit dari kursinya kemudian berlutut di hadapan Stella, “apa terasa sakit lagi?” tanya nya pada sang istri, tangannya kini mengusap perut buncit Stella, terasa sekali jika kini permukaan kulit istrinya sangat kencang, pertanda otot otot rahim mulai berkontraksi. “suster, ambil tindakan!!” perintah Alex dengan paniknya.


“Kita belum bisa melakukan apa apa, jika sedang dalam masa kontraksi, selain rileks dan mulai mengatur pernafasan, jika air ketuban pecah atau pendarahan, barulah kita ambil tindakan darurat.”


Mendengar penjelasan suster Amanda, membuat Alex semakin panik, jika ini dijalan raya, ia bisa meminta sopir untuk mempercepat laju mobil, tapi masalahnya, mereka sedang di udara.

__ADS_1


“Dad, pilot bilang kita akan medarat lima belas menit lagi,” ujar Andre yang beberapa saat lalu berinisiatif bertanya pada kru.


Alex sedikit bernafas lega.   


“Ada apa tuan? apa ada hal darurat?” tanya seorang pramugari, yang baru saja keluar dari ruangan kru pesawat.


“Iya, sepertinya istriku akan melahirkan.”  jawab Alex panik, “bisa kah kalian menghubungi rumah sakit dan meminta di kirim Ambulance?”


Pramugari itu mengangguk, lalu melaksanakan permintaan Alex, ‘kalau bisa Helikopter kenapa harus ambulance’ batin pramugari tersebut, kemudian ia menghubungi layanan darurat William Medical Center, dan meminta di kirim helikopter, dan beberapa petugas medis.


Stella merintih menahan kontraksi yang terus berlangsung, bahkan hanya terjeda lima menit sejak kontraksi pertama, bersyukur ada dua tangan kokoh yang kini menggenggam tangannya, yakni tangan suami dan putra sulungnya, Kevin bahkan menampakkan ekspresi tegang sama seperti Alex.


Suasana tegang semakin semakin memanas, manakala suster Amanda melihat ada cairan yang merembes melalui sela sela betis Stella.


“Ketuban sudah pecah.” ujar suster Amanda.

__ADS_1


Alex merasakan kepalanya semakin pening


__ADS_2