Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
95. Oh, Dimas.


__ADS_3


Oh, Dimas.



Setelah pintu toilet terbuka, Dimas terkejut melihat gadis itu tengah menangis sedih di depan wastafel, perlahan Dimas mendekatinya, gadis itu menangis menatap kondisi gaunnya yang terlihat mengerikan. 


Kemudian ia mendongak menatap Dimas, “bagaimana ini? ini gaun yang kubeli dengan gaji pertamaku, dan sekarang sudah tak lagi indah dilihat.” sesudahnya hana menangis sedih, kelopak matanya bahkan sudah menghitam karena riasan matanya mulai luntur.


Dimas yang melihat Hana menangis, jadi semakin panik, karena ia sendiri tak pernah tahu bagaimana cara menenangkan atau membujuk seorang gadis yang tengah menangis.


Tiba tiba ponsel Dimas berbunyi, dimas melihat nama Kevin di layar ponselnya, “om Dimas dimana?” tanya Kevin begitu dimas menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


“Kalian tunggu sebentar yah, aku ke toilet sebentar.”


Tanpa menunggu jawaban, Dimas memutus panggilannya, kemudian kembali menatap Hana, Dimas sungguh heran, bagaimana bisa tuhan lagi lagi membuatnya mengalami tragedi baju yang ternoda.


“Kita ke butik lagi yah, aku akan mengganti gaunmu yang ketumpahan noda saus coklat.” Dimas tak bisa berpikir jernih, mendengar tangis sedih Hana, satu satunya ide yang terlintas di kepalanya hanyalah mengganti gaun gadis di hadapannya dengan gaun baru.


Tanpa diduga gadis itu mengangguk.


Karena waktu sudah menjelang jam sepuluh malam, Dimas menarik lengan Hana, tapi Dimas tak melihat bahwa lantai toilet agak basah, hingga membuat dimas terpeleset, dan Hana yang sedang ia genggam tangannya ikut terjatuh bersamanya dengan posisi gadis itu menelungkup di atas tubuhnya.  


Tanpa menunggu jawaban, Dimas memutus panggilannya, kemudian kembali menatap Hana, Dimas sungguh heran, bagaimana bisa tuhan lagi lagi membuatnya mengalami tragedi baju yang ternoda.


“Kita ke butik lagi yah, aku akan mengganti gaunmu yang ketumpahan noda saus coklat.” Dimas tak bisa berpikir jernih, mendengar tangis sedih Hana, satu satunya ide yang terlintas di kepalanya hanyalah mengganti gaun gadis di hadapannya dengan gaun baru.


Tanpa diduga gadis itu mengangguk, karena ia merasa tak memiliki alternatif lain selain pilihan yang diberikan oleh Dimas kepadanya.


Karena waktu sudah menjelang jam sepuluh malam, Dimas menarik lengan Hana, bermaksud ingin segera pergi dari Twenty Five Hotel, karena buru buru, Dimas tak melihat bahwa lantai toilet agak basah, hingga membuat dimas terpeleset, dan Hana yang sedang ia genggam tangannya ikut terjatuh bersamanya dengan posisi gadis itu menelungkup di atas tubuhnya.  


Mereka saling memandang beberapa detik, hingga pintu toilet tiba tiba dibuka oleh seseorang.


“Om Dimas sedang apa?


beberapa saat sebelum kejadian.


Kevin dan Andre yang menerima kabar bahwa Dimas sedang berada di toilet pun segera menyusul, setelah pamit pada Alex dan Stella, mereka sungguh tak sabar ingin menghabiskan dua minggu mereka bersama Dimas.

__ADS_1


“Om Dimas?” teriak Kevin, namun tak ada sahutan.


“Gimana? ada om Dimasnya?” tanya Andre.


Kevin menggelengkan kepalanya.


Bugh …. 


Tiba tiba terdengar suara benda jatuh membentur lantai, suara itu berasal dari toilet wanita, kedua bocah kembar itu berjalan cepat menuju toilet wanita, dan pemandangan tak biasa kini tersaji di hadapan mereka.


Dimas sedang terbaring di lantai, sementara ada seorang gadis yang menelungkup di atas tubuhnya.


“Om Dimas sedang apa?” tanya Kevin dan Andre hampir bersamaan.


Dimas dan Hana terkejut, kemudian buru buru berdiri, “kok kalian menyusul kesini?” tanya Dimas, yang kini telah berdiri dan merapikan tuxedonya yang agak basah.


Sementara Hana masih terlihat kikuk salah tingkah, karena kepergok bersama seorang pria di toilet, dalam posisi memalukan.


“Om, tante ini siapa?” tanya Andre.


Hana yang mendengar dirinya dipanggil tante, sontak membulatkan kedua matanya, “hey … siapa kalian panggil panggil tante? usiaku baru 22 tahun,” 


"oh, baru 22 tahun," gumam si kembar bersamaan.


"Ayo cepatlah sebelum butik tutup.” Dimas berjalan di depan.


Mereka berjalan cepat menuju valet parking, si kembar sudah otomatis memilih duduk di belakang, karena mereka tak ingin terpisah satu sama lain, dan Dimas duduk di depan bersama Hana.


“Kenapa kalian duduk di belakang?” tanya Dimas yang masih merasa kikuk dengan gadis yang kini duduk disampingnya.


"Kalau kami duduk di sisi om Dimas jelas tidak mungkin,” Andre.


“Kenapa tidak mungkin?” tanya Dimas.


“Tentu saja karena kami ada dua om.” Kevin.


“O…” bibir Dimas membentuk lingkaran, tak lagi mampu menjawab perkataan si kembar.


“Ayo cepatlah, aku kedinginan karena gaunku basah.” sentak Hana membuyarkan lamunan singkat Dimas.

__ADS_1


“Oh iya maaf nona.” 


Dimas pun melajukan mobil menuju butik terdekat dengan lokasi mereka saat ini. 


Mereka tiba di butik beberapa menit kemudian, sayang nya pegawai butik mengatakan bahwa butik mereka akan segera tutup.


“Apa kami tidak boleh, memilih satu gaun saja?” tanya Dimas.


“Maaf, tidak bisa tuan, kami akan segera tutup, kecuali kalian hanya mengambil pesanan gaun.”


“Kalau begitu, aku ambil Gaun yang ada ditanganmu,” tanpa pikir panjang, Dimas memutuskan membeli gaun ditangan pegawai butik tersebut.


“tapi tuan …” 


“haduuuhhh tapi apa lagi? kalian bilang tidak bisa menunggu lama, kalian tidak kasihan pada gadis ini?” Dimas menunjuk Hana yang mulai kedinginan karena gaunnya basah ketika ia mencoba membersihkan noda di gaunnya dengan air, tapi efeknya, ia jadi kedinginan karena gaunnya basah, sementara noda di gaunnya tak mau menghilang.


Dimas segera menyambar, gaun di tangan pegawai butik tersebut, “ini segera ganti gaunmu.” 


hana seperti robot yang melaksanakan perintah Dimas.


Kemudian Dimas menyodorkan kartu kredit milik Alex, dan sudah dipercayakan pada Dimas untuk dia pegang, barangkali si kembar menginginkan sesuatu.


karena terburu buru, Dimas tak melihat kembali harga Gaun yang ia beli.


(Dimas … yakin, kamu tak mau melihat harga gaunnya? awas othor sedang mode ngerjain kamu hahaha🤪🤪)


Setelah menyelesaikan aktivitas pembayaran, dimas menerima kembali kartu kredit dari kasir yang bertugas, dan tanpa memeriksa nominal harga gaun, Dimas menyimpan nota pembayaran di dalam saku tuxedo nya.


Dan beberapa menit kemudian, Hana keluar dari ruang pas, lagi lagi Dimas dibuat terpesona oleh penampilan gadis itu, gaun dengan panjang di bawah lutut itu nampak begitu mempesona di tubuh mungil Hana, kali ini pun ia terlihat seperti calon mempelai laki laki yang terpesona pada calon mempelai wanita.


Bahkan sepanjang perjalanan menuju mobil, Dimas beberapa kali mencuri pandang.


"Terima kasih, gaunnya cantik." Hana berkata dengan malu malu, seumur hidup nya ia tak pernah berbicara manis pada pria, bahkan pada kakak sepupu yang sudah seperti saudara kandungnya, ia lebih sering bertengkar.


"Uh … em … itu … eh … sama sama." Balas Dimas seraya menggosok tengkuk nya. 


"Aku permisi, mau menunggu taxi di ujung jalan itu." 


"Aku temani, sampai taxi mu datang." 

__ADS_1


__ADS_2