Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
57. Kembali Ke Indonesia


__ADS_3

Alex mondar mandir di depan pintu kamar Kevin, sudah beberapa hari Kevin demam, Alex membawa Kevin pulang agar ia bisa masuk sekolah lagi, karena ia sudah banyak melewatkan hari tanpa ke sekolah, pasti banyak materi pelajaran yang tertinggal.


Tapi sejak kembali dari Singapura, Kevin terlihat murung, ia bahkan kehilangan selera makan, Spike pun tak lagi mendapat perhatiannya, hari hari nya lebih banyak ia habiskan di dalam kamar. 


Hingga 3 hari lalu Ima mendapati Kevin tengah menggigil dan demam, tapi Kevin bersikeras menolak dibawa ke rumah sakit, tapi semakin hari tubuhnya semakin lemah, Alex yang tak sedikitpun beranjak dari sisi nya mulai gelisah, Kevin memang tak mengatakan apa apa, mungkinkah ia ingin dirawat Stella.


(Othor says : plis jangan ada yang protes gini yah, anak sakit kok gak segera dibawa kerumah sakit, ini demi kalian gaesss, yang pengen mommy stella balik ke indonesia dan balik ke pelukan papi 💃💃)


Ia memerintahkan Dimas untuk menjemput Stella menggunakan pesawat pribadi nya, karena Alex tak mungkin meninggalkan Kevin.


Hampir 5 jam berlalu sejak kepergian Dimas, berkali kali Alex menatap pintu utama, berharap seseorang yang ia tunggu segera datang, 


✨✨✨


Sementara itu, Stella merasakan jantungnya berdebar kencang, ini pertama kalinya ia kembali ke Indonesia, apakah Stella bahagia? 


Entahlah


Terpaan angin menyapu wajah cantiknya, ia menarik nafas perlahan, kembali menyesuaikan diri dengan udara kota jakarta, Stella berjalan pelan menuruni tangga, di ujung tangga, Dimas dan Andre sudah menantinya dengan senyuman.


"Selamat datang kembali nyonya, saya selalu berharap anda dan tuan Alex kembali bersama seperti dahulu." Ucapan Dimas sungguh menyentuh, pria yang sehari hari selalu bertengkar dengan Alex ini sungguh memiliki harapan yang tulus, jika bukan karena rasa sayang dan ketulusannya, mana mungkin ia bertahan begitu lama mendampingi Alex.


"Terima kasih Dimas," 


"Mari nyonya, tuan muda ikuti saya," tutur Dimas, yang kemudian berjalan mendahului.


Mobil yang membawa mereka membelah jalan raya, Stella menatap keluar jendela, jakarta sudah banyak berubah rupanya, empat belas tahun Stella meninggalkan indonesia, jadi sangatlah wajar jika kini ia hampir tak mengenali kota tempat ia dibesarkan.


Setelah satu jam, mobil mereka memasuki halaman rumah keluarga Geraldy, Stella tertegun sesaat, rumah keluarga Geraldy pun sudah banyak perubahan, daripada saat terakhir kali Stella kemari untuk menyerahkan Kevin pada Alex.


Lagi lagi Dimas berjalan mendahului, setelah pintu terbuka, Dimas mempersilahkan Stella untuk masuk terlebih dahulu. 


Rumah ini lagi, rumah yang dulu ia tinggali di awal awal pernikahan, pandangan Stella menyapu setiap sudut ruangan, ada gelenyar aneh merayap di hatinya, dulu ia pertama kali melangkah masuk ke rumah besar ini sebagai menantu, dan kini setelah semua berlalu ia mulai bingung mendefinisikan perasaannya.


Andre berjalan lebih dahulu, ia melangkah menaiki anak tangga dengan tidak sabar, ternyata alex sudah menanti mereka di ujung tangga, Andre segera berlari memeluknya.

__ADS_1


Alex memang memeluk Andre, tapi pandangannya tak mampu berkedip menatap Stella, seminggu yang lalu penampilan Stella tidak seperti ini, ia membuat dirinya seperti seorang Stella yang baru, jika biasanya ia terlihat anggun dengan rambut nya yang panjang, dan kini ia terlihat lebih anggun, wajahnya segar berseri, dan lebih percaya diri dengan rambutnya yang sudah dipotong sangat pendek.


Kali terakhir ia bertemu Alex minggu lalu, Stella meyakinkan dirinya untuk tidak terlena, ia seperti memasang benteng kokoh untuk melindungi dirinya sendiri, ia masih takut terluka, karena itulah ia merubah dirinya menjadi sosok baru, sejak lama ia membiarkan rambutnya tergerai memanjang, itu karena ia selalu teringat Alex, yang melarang ia memangkas rambutnya, tapi kini ia merdeka, bahkan seorang Alex sekalipun tak berhak lagi melarangnya melakukan apapun pada dirinya sendiri.


Sementara Stella masih diam terpaku  menghentikan langkahnya, kini ia kembali canggung, "masuklah, dia menunggumu," ucapan Alex membuyarkan lamunannya, dan Stella pun kembali melangkah maju.


Sebelum mencapai pintu kamar ia bertemu Ima, pengasuh Kevin tersebut membawa nampan berisi obat dan air putih, cepat cepat ia meletakkan nampan di meja terdekat, kemudian ia memeluk Stella dengan erat, tanpa kata ia menumpahkan rasa rindu pada Stella.


"Terima kasih selama ini kamu sudah merawat Kevin dengan baik." 


Ima mengangguk pelan, tangannya sibuk mengusap matanya yang mulai basah. "Silahkan masuk bu, Tuan muda menunggu." 


Stella membuka pintu kamar Kevin, kevin tengah terbaring dengan wajahnya yang pucat, seolah mengendus aroma Stella, Kevin tiba tiba membuka matanya, senyuman kecilnya menyambut Kedatangan Stella, kemudian ia kembali terpejam, Stella duduk di tepi tempat tidur, insting nya sebagai dokter mulai bekerja, hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa suhu badan Kevin menggunakan punggung tangannya, kemudian ia meraba denyut nadi Kevin, Stella mulai merasa ada yang aneh.


Stella mendekat, dan berbisik, "ada yang sakit sayang?" Bisik Stella.


Kevin hanya mengangguk lemah, ia seperti kehabisan tenaga, Stella menyingkap selimut yang menutupi tubuh Kevin, tangannya terulur menyentuh perut Kevin yang tampak Kembung, ia menekan lembut area perut Kevin, ketika ia menekan Perut sebelah kanan, Kevin berteriak kencang.


"Sakitkah di area itu?" Tanya Stella.


"Iya mom, sakit sekali," rengek Kevin.


Alex yang sedang bercengkrama dengan Andre mendadak tegang mendengar kata operasi.


"Operasi apa?" Tanya nya.


"Dugaanku ini usus buntu, cepatlah!!" Pekik Stella.


"Boy … katakan pada om Dimas untuk menyiapkan mobil, daddy akan membawa Kevin ke bawah." 


"Oke dad," segera setelah menerima perintah, Andre berlari menghampiri Dimas.


Sementara Alex kembali ke kamar, dilihatnya Stella tengah membujuk Kevin agar bersedia dibawa ke rumah sakit, "apa parah?" Tanya Alex yang kini ikut gelisah.


Stella mendongak, "iya, dia pasti sangat kesakitan," 

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita ke rumah sakit." Alex membawa Kevin dalam gendongannya. 


✨✨✨


William Medical Center Jakarta.


Beberapa petugas medis nampak sudah berjaga di halaman Emergency room, berita kedatangan sang VVIP membuat mereka bersiaga, terlebih lagi sang VVIP kali ini adalah cucu dari Kenzo William pemilik rumah sakit.


Kevin segera dibawa ke emergency room, untuk menerima pertolongan pertama, sementara beberapa dokter residen nampak berlarian kesana kemari menyiapkan ruang operasi dan segala sesuatu yang mungkin akan dibutuhkan di sana.


Stella mondar mandir di depan emergency room, "dok … kami akan membawa putra anda ke ruang operasi, silahkan tanda tangani berkas persetujuan operasi nya." 


Stella segera menandatangani berkas tersebut, kemudian berjalan cepat mengikuti beberapa perawat dan dokter residen yang membawa Kevin ke ruang operasi.


Sepanjang perjalanan menuju ruang operasi, Kevin tak melepaskan genggaman tangannya. 


Setibanya di pintu utama.


"Tolong berhenti sebentar," pinta Stella.


Stella mendekat ke telinga Kevin, "semua akan baik baik saja, anggap saja kamu sedang tidur, dan terbangun dalam keadaan sehat, ingatlah mommy selalu menyayangimu." 


Kevin mengedipkan kelopak matanya, sebuah kecupan Stella berikan demi menyemangati Kevin, serta meyakinkannya, bahwa semua akan baik baik saja.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Cepet sembuh ya Kev, kamu kan udah di kontrak untuk Othor jadikan artis di novel selanjutnya … "menikah karena wasiat" 😁🤓📝


__ADS_2