
Andy berlari cepat ke ruangan Abimana, dan dengan segera ia membangunkan atasannya yang masih terlelap sejak siang tadi.
"Tuan, ada hal penting yang ingin saya laporkan." Andy bersuara keras ketika memasuki ruangan Abimana.
Abimana men*de*sah geram, sejak tadi ia ingin menikmati istirahat siangnya, namun baru sekejap terlelap, Andy sudah membangunkannya.
"Kenapa kamu membangunkan ku, aku baru bisa terlelap beberapa saat." Jawabnya kesal.
Andy masih kesulitan mengatur nafasnya, "gawat tuan, ada laporan bahwa Gerry mulai bertindak."
Seketika Abimana bangkit dari tidurnya, dan dengan posisi duduk, ia mencoba membuat dirinya kembali fokus, "katakan apa yang ia lakukan saat ini?"
"Gerry dan anak buahnya menculik anak dokter Risa dan Tuan Alex."
"Apa kamu bilang?" Tanya nya kaget, seketika itu juga ia berdiri, mencari cari ponselnya.
"Mana ponselku?" Tanya Abimana.
"Ini Tuan," Andy menyerahkan ponsel Abimana yang sejak tadi berada dalam genggamannya.
Setelah menerima ponselnya, ia bergegas menghubungi Gerry, namun sayang nya Gerry tak dapat dihubungi, "sepertinya ada rencana terselubung yang sedang Gerry kerjakan, apa kamu mengetahui sesuatu?"
"Sejauh ini saya belum menerima informasi apa apa tuan." Jawab Andy, karena sehari harinya berada di sisi Abimana, yang entah kenapa masih betah berlibur, biasanya usai transaksi berhasil, ia akan segera kembali ke Italia menemui Ayah angkatnya dan memastikan kesehatan Gio.
Abimana resah, entah kenapa ia ikut gelisah, padahal Anak dokter Risa sama sekali tak ada sangkut paut dengannya, terlebih lagi anak itu juga anaknya Alexander musuh bebuyutannya, anehnya lagi walau bermusuhan, Abimana seolah olah ingin terus mencari cari masalah dengan Alex, dan berujung transaksi narkoba nya gagal total, namun ia tetap bisa tersenyum, walau kadang merasakan marah luar biasa.
Abimana berjalan mondar mandir dengan Gelisah, "Haruskah kita membantu Alex?" Andy terhenyak, ini seperti sebuah keajaiban, musuh dari musuh sama dengan musuh bersama ( bahasa mudah nya, saat ini gerry adalah musuh Abimana dan juga Alex ).
Andy pun teringat sesuatu, beberapa hari lalu ketika Abimana mulai sependapat dengannya, Andy diam diam meletakkan alat pelacak pada ponsel Gerry, alat pelacak itu sangatlah kecil hingga Gerry mungkin tak menyadari benda itu menempel pada ponselnya, kini ia buru buru membuka laptop untuk melacak keberadaan Gerry, setelah menunggu beberapa saat, Andy menggeram kesal, "oh ****, Gerry mematikan ponselnya Tuan, jadi saya tak bisa melacak keberadaannya,"
Abimana menggaruk keningnya, "stand by saja, sesekali ia pasti menyalakan ponselnya, entah untuk melihat kabar atau memastikan sesuatu."
__ADS_1
"Baik tuan, akan terus saya pantau,"
Abimana yang mulai kebingungan dengan dirinya sendiri, kini berjalan keluar ruangan entah apa yang ia inginkan.
Sementara Abimana keluar Kamar, Andy pun menerima pesan penting dari seseorang.
✨✨✨
Sementara itu
Jauh dari keramaian kota, tepatnya di sebuah rumah tua yang masih berada di pinggiran hutan.
Sekelompok orang nampak turun dari mobil, ada 5 mobil yang terparkir di halaman rumah tua tersebut.
Salah satu diantara segerombolan orang tersebut, nampak membawa seseorang dalam gendongannya.
"Kenapa dia?" Tanya Gerry tak suka, manakala melihat korbannya nampak diam tak bergerak, dalam gendongan salah seorang anak buahnya.
"Ya sudah, pastikan dia baik baik saja, karena dia akan jadi umpan kita."
Gerry tersenyum licik, jika sudah demikian, wajahnya yang tertutup sebagian oleh tato, nampak semakin menakutkan.
"Berikan padaku nomor ponsel wanita itu."
Salah seorang anak buahnya menyodorkan ponsel mereka, kemudian Gerry menyalinnya di sebuah kertas, karena ia belum ingin menyalakan ponsel, ia akan menunggu beberapa waktu, sebelum menghubungi dokter Risa secara pribadi.
"Anak ini dikurung di mana bos?"
"Letak kan di tempat yang kemarin kita siapkan, dan pastikan tangan dan kakinya terikat."
"Baik bos," pria yang menerima perintah itu segera membawa Kevin kemudian menurunkannya di lantai yang sudah di beri alas kardus bekas, ia mencari cari ke sekeliling ruangan, kemudian menemukan tambang yang kemarin sore ia beli, kemudian mengikat kedua kaki dan tangan Kevin. "Tidur nyenyak yah, dan jangan buat keributan,maka kita semua akan damai." Pesannya pada Kevin yang belum juga membuka mata.
__ADS_1
✨✨✨
Menjelang tengah malam, barulah Kevin terbangun, hal pertama yang ia ingat adalah, kemarahannya pada kedua orang tuanya, ia marah pada Alex, karena papinya adalah penyebab kepergian mommy nya, kemudian melihat Stella ia pun jadi ingin melampiaskan kemarahannya pada mommy nya yang lebih memilih membawa Andre ketimbang dirinya.
Kemudian Kevin berlari keluar dari restoran, karena bingung hendak kemana ia menumpahkan tangisnya, maka ia pun memilih berjalan keluar area restoran, tanpa ia sadari segerombolan orang yang sudah mengawasinya selama seminggu, bergerak cepat dan menangkap Kevin, kemudian membawanya masuk kedalam mobil.
Di dalam mobil tiba tiba ia berhenti menangis, kemudian mulai berteriak memaki orang orang yang sudah menangkapnya, bahkan ia tak segan mengeluarkan kata kata kasar, kemudian juga menendang salah seorang pria yang membentak dan menyuruh nya diam, namun bukannya takut Kevin justru diam diam bermaksud melompat melalui jendela mobil, maka tak heran bila kemudian anak buah Gerry terpaksa membiusnya.
Mata Kevin terbuka dengan posisi tubuh meringkuk di sudut ruangan, diterangi cahaya lampu remang remang, dari jendela terlihat bahwa hari sudah malam, tapi Kevin tak tahu lebih tepatnya ini jam berapa, udara malam mulai dingin, sementara ia hanya memakai seragam sekolah, celana selutut dan kemeja lengan pendek, syukurlah ia memakai kaos didalamnya jadi agak meredam hawa dingin yang mulai merayapi tubuhnya
Perlahan Kevin duduk dengan lutut ditekuk, ia mulai ketakutan, 'dimana ini' tanya nya dalam hati, 'papi tolong' masih dalam hati ia berbisik 'mom … papi … maafkan aku sudah memarahi kalian' kevin mulai terisak pelan, 'aku janji tidak akan marah lagi pada kalian, tapi tolong aku'.
Tadi siang Kevin memang begitu marah setelah mengetahui fakta tersembunyi di balik perceraian kedua orang tuanya, dan kini lihatlah, ia tak sungguh sungguh membenci Alex, karena nama pertama yang ia sebut ketika siuman adalah papi nya, sosok tangguh yang selalu ada untuknya, seseorang yang sudah merawatnya sejak kecil, pahlawan dalam hidupnya, dan kini Kevin mulai merindukan papi nya, bahkan dalamnya kerinduan pada Stella tak mempengaruhi posisi Alex dalam hati nya.
Ketika Kevin berusia 5 tahun ia pun pernah menjadi korban penculikan, tapi tak sampai 24 jam Alex dan pihak kepolisian berhasil menemukannya, sejak saat itu lah kemanapun ia pergi, selalu ada pengawal yang menemaninya, jika belum terbiasa melihat, keberadaan mereka tak terlalu kentara, tapi sejak kecil kevin sudah di temani oleh para pengawal, jadi ia mulai terbiasa, bahkan menganggap mereka tidak ada.
.
.
.
sampai jumpa esok di jam kunti 👻👻👻👻
.
.
.
.
__ADS_1
Plis like👍 komen 📝and vote 🥇 kembang 💐kopi ☕nya juga ga papa🤗 othor terima dengan bahagia💃💃 sarangeeeee 💟❤️💟❤️