
Oh, Dimas.
Dimas mondar mandir di depan sebuah rumah, bukan rumah besar dan mewah seperti rumah milik atasannya, itu hanya rumah besar, dengan kebun yang luas, bunga bunga bermekaran warna warni, tengah menikmati cahaya matahari, bahkan beberapa pohon besar pun nampak pas di tempatnya, membuat taman tersebut tetap teduh dengan banyak cahaya matahari.
Sesekali Dimas melongok ke dalam pagar, jarak pintu depan dan pagar lumayan jauh, karena itulah ia tak dapat melihat dengan jelas ke dalam rumah.
Ingin menekan bel pintu, namun keraguan merayapi nya, grogi? Tentu saja, ia berdebar, dengan wajah kacau karena frustasi, seperti tengah bersiap mendatangi keluarga wanitanya untuk meminta restu.
Dimas menggigiti kuku kuku jarinya, kini ia tengah duduk di trotoar, ia heran kenapa rumah gadis itu nampak sepi sekali, tak ada orang orang yang berlalu lalang, atau minimal asisten rumah tangga yang keluar sekedar untuk membuang sampah, agar ia bisa bertanya di mana gadis yang malam itu ia antarkan pulang.
Tak lama sebuah mobil datang, seorang pria berusia pertengahan empat puluh tahun keluar dari kursi pengemudi, pria itu nampak heran melihat Dimas yang tengah duduk di trotoar depan rumahnya seperti orang ling ling.
"Maaf, mau cari siapa nak?" Tanya pria itu.
Dimas yang masih di posisi melamun, langsung berdiri, dan mencoba tersenyum walau canggung.
"Ini om, mau ketemu gadis yang tinggal di rumah ini," jawab Dimas kaku, jari telunjuknya mengarah ke rumah Hana.
"Oooww…" pria itu hanya ber O ria. "Ada perlu apa dengan gadis itu?"
Sekali lagi, Dimas menggaruk rambutnya karena kebingungan, ia juga bingung mau menjelaskan bagaimana, dan dengan bahasa apa, agar pria di hadapannya tidak berpikir macam macam.
"Ada perlu sedikit om." Dimas rasa itu adalah jawaban netral yang tak akan membuat orang tersinggung.
"Perlu apa yah?"
"Meluruskan kesalahpahaman om," jawaban Dimas sungguh jujur dari hati, karena ia tak mau jadi perusak rumah tangga orang.
__ADS_1
(Nasib istri cadangan 🤪)
Namun jawaban Dimas memancing pertanyaan lain dari pria di hadapannya.
"Kesalah pahaman," ulangnya, dengan suara pelan, "baiklah ayo masuk dulu.
Akhirnya Dimas dipersilahkan masuk ke rumah.
"Eh, ada tamu … mari masuk,"
Seorang Wanita paruh baya mempersilahkan Dimas untuk duduk, disusul Kemudian pria yang membawanya masuk kerumah.
Mereka kini duduk berdekatan.
"Mah … Hana sudah pulang?" Pria itu bertanya pada istrinya yang sedang melintas, hendak ikut bergabung di ruang tamu.
"Belum pah, mungkin sebentar lagi, setahu mama, Hana tidak terlalu sibuk, karena tugas utamanya adalah mendampingi Elena, tapi karena Elena sedang tidak di Jakarta, jadi pekerjaan nya tidak terlalu banyak." Jawab wanita itu.
Bayu kembali menatap Dimas yang masih terdiam dengan kepala menunduk menatap lantai, "Nak, tadi kamu bilang mau menjelaskan kesalahpahaman dengan Hana? Kesalahpahaman apa yah? Hana, tidak pernah mengatakan apa apa pada kami?"
"Ngomong ngomong, Hana itu siapa ya Om?" Tanya Dimas polos.
Bayu dan Hesti saling tatap, keduanya sama sama berpikir bahwa pria muda di hadapannya ini benar benar kebablasan jujur nya.
"Lah, kan tadi kamu bilang pada om, kalau kamu mau bertemu gadis yang tinggal di rumah ini, apa kamu benar benar yakin kalau gadis itu tinggal di sini?" Tanya Bayu dengan sabar, berusaha menyelami kepolosan pria di hadapannya.
Dimas hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Iya om, yakin sekali."
"Apa yang membuatmu begitu yakin?"
__ADS_1
"Karena malam itu, saya yang mengantarnya pulang."
Bayu manggut manggut.
"Oooo begitu?"
"Seberapa dekat kamu mengenal gadis itu?"
Dimas kembali canggung, sejujurnya ia juga tidak mengerti dengan dirinya, ia bahkan tidak tahu nama gadis itu, tapi bisa bisa nya ia bahkan dua kali membelikannya gaun, dan untuk alasan gaun juga, ia kini berada di sini, di situasi membingungkan. "Sejujurnya, saya hanya bertemu gadis itu dua kali om, saya bahkan tidak tahu namanya."
.
.
.
.
.
.
hadiah malam Minggu 🤗
.
.
.
.
__ADS_1
yang berkenan silahkan like komen vote dan hadiah seikhlasnya 🥰🤓🧘