Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
88.


__ADS_3

BRAG !!!


PRANG !!!


Kedua bunyi itu saling bersahutan beberapa kali, manakala Gerry melampiaskan kemarahannya, bagaimana mungkin Gio tiba tiba memerintahkan kepadanya untuk melepaskan dokter Risa dan anaknya, padahal semalam ia masih berkomunikasi dengan pria itu, dan Gio tak mengatakan apa apa perihal keinginannya untuk melepaskan dokter Risa. 


'Tidak, tidak akan semudah itu, dokter Risa di lepas kan, aku bahkan belum membuat perhitungan dengannya'. Pikir Gerry.


“Tuan,” salah seorang anak buahnya memanggil Gerry, “tuan Abimana sudah kembali ke Italia.” anak buah Gerry melaporkan hasil pengamatannya.


Ahh pantas saja Gio memintanya melepaskan dokter Risa dan anaknya. “yah aku mengerti sekarang, pergilah.” Gerry mengusir anak buahnya.


“Tapi …” anak buah Gerry tampak hendak mengatakan hal lainnya.


“Apalagi yang menahanmu?” ucap Gerry jengkel.


“Ada yang aneh tuan.”


“Apa maksudmu?” 


“Tuan Abimana meninggalkan Andy,”


Gerry terhenyak, ia sangat tahu kemampuan Andy, karena itulah sedikit kekhawatiran mulai menggelayuti pikirannya, “perintahkan yang lain untuk lebih waspada dan memperketat penjagaan, bisa saja lokasi kita sudah dilacak orang lain.” perintah Gerry.


Tidak, ia tidak bisa berakhir seperti ini.


🌻🌻🌻 


Menjelang sore ketika Alex dan anak buahnya tiba di dekat markas Gerry dan anak buahnya, “maaf tuan Alex, sepertinya dari sini kita harus berjalan melewati hutan, agar anak buah Gerry tak menyadari kehadiran kita.” ujar tuan Danie yang lebih dahulu tiba di lokasi.


Alex mengedarkan pandangannya, sejauh mata memandang hanya pepohonan yang ia lihat, selain jalan raya tempat mobil mereka berhenti.


“Jangan khawatir tuan, tadi salah seorang anak buahku sudah melihat lokasi, dan sepertinya hanya perlu 10 menit untuk tiba di lokasi,”


Alex hanya mengangguk mendengar perkataan tuan Danie, sejujurnya ia hanya takut, sesuatu terjadi pada Stella dan Kevin, karena hingga kini ponsel Stella masih belum bisa dihubungi. 


Alex membagi anak buahnya menjadi 4 kelompok agar mereka bisa berpencar mengepung lokasi Gerry, segera setelah pasukan terbagi mereka bergerak ke tujuan masing masing, Alex terus berjalan menyusuri hutan, syukurlah Gerry tidak mengenal wilayah seputaran Indonesia, jika Gerry mengenal wilayah Indonesia, mungkin Gerry akan bersembunyi di tempat yang lebih sulit untuk ditemukan, mengingat banyaknya hutan tropis di wilayah Indonesia.


Semakin dekat dengan lokasi, Alex dan Anak buahnya bergerak semakin lambat, karena sedikit saja mereka membuat keributan, pastilah keberadaan mereka akan diketahui.

__ADS_1


Sementara itu, seseorang juga tengah bersiap di posisi siap tembak, Andy telah tiba di lokasi yang akan ia gunakan untuk membidik sasarannya, “hah … hanya untuk menghabisi tikus kecil seperti Gerry, aku harus menggunakan senjata terbaikku,” Andy tersenyum miring, kini ia tengah memasukkan satu persatu peluru di senjata laras panjang yang ada di genggamannya, “aku bahkan bisa menghabisinya dalam sekali gebrakan,” sekali lagi Andy mengintai lokasi Gerry dengan lensa jarak jauh yang ada di senapannya, “tapi Gerry, ini adalah harga yang harus kamu bayar karena sudah membahayakan nyawa anak kecil yang tidak berdosa, serta dua orang wanita yang bahkan tidak punya urusan apa apa denganmu, karena itulah, dengan senang hati aku akan menggunakan senjata terbaikku."


Kali ini Andy menggunakan teropong kecil yang ia kalungkan di leher, dari teropong ia bisa melihat anak buah Gerry nampak mondar mandir berjaga di sekitar tempat persembunyian mereka, "ini terlalu tenang, haruskah aku memancing Gerry keluar dari persembunyiannya?" 


Belum sempat Andy bergerak untuk memancing Gerry keluar, tiba tiba ia dikejutkan dengan suara letusan pistol pertama, pandangannya kini fokus mengarah ke arah suara, "rupanya tuan Alex sudah bergerak, Gerry, akan jauh lebih mudah jika kamu menyerah." Andy terus bermonolog.


Hari masih petang ketika suara letusan menggema, itu adalah tembakan pertama dari tuan Danie, untuk memancing agar anak buah Gerry berpencar, dengan posisi berpencar mereka akan mudah dilumpuhkan, Karena dalam sekali pandang saja, tuan Danie sudah tahu bahwa anak buah Gerry tak sebanyak yang ia bayangkan, sia sia ia membawa anak buah terbaik, jika hanya pasukan receh yang ia hadapi.


Stella dan Kevin pun tak kalah terkejut mendengar suara letusannya, "mom, itu seperti suara tembakan?" Kevin Beringsut mendekati Stella, ibu dan anak itu semakin mengeratkan pelukan mereka.


Setelah letusan pertama, susul menyusul letusan berikutnya terjadi, kedua kubu saling melemparkan tembakan, stella mengintip melalui jendela kaca tempat ia dan Kevin di sekap, dari tempat ia mengintip, nampak beberapa orang berpakaian serba hitam tengah. bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan dan tanaman liar, entah siapa mereka dan dari kubu mana Stella sama sekali tak tahu.


Sayup sayup Stella mendengar percakapan dari luar pintu.


"Tuan, kita terkepung," 


Gerry menggeram marah, "bawa wanita itu dan anaknya, dia adalah sandera kita, untuk kabur dari tempat ini." Perintah nya.


"Baik tuan," 


Stella membeku di tempatnya, ia semakin mengeratkan pelukannya, jika para pria di luar tak menggenggam senjata api, Stella bisa saja melumpuhkan mereka, namun mereka menggunakan senjata api, jadi ia tak bisa berbuat apa apa, terlebih ia juga memikirkan keselamatan Kevin, Stella tak ingin membahayakan putra nya.


Tiba tiba pintu dibuka dengan keras oleh anak buah Gerry, kemudian mereka menarik lengan Stella dengan kasar, "bangunlah, dan buat pekerjaan kami menjadi mudah," ujarnya tanpa basa basi.


Mereka berbuat hal yang sama pada Kevin, kevin semakin ketakutan, melihat para pria itu memperlakukan Stella dengan kasar. "Mom…" teriak nya.


Melihat dan mendengar teriakan Kevin Stella pun bangkit berdiri. "Aku bangun, tapi jangan sakiti anakku." 


Kevin terus memeluk lengan Stella, sementara mereka berjalan mengikuti langkah anak buah Gerry, Stella yang menyadari ketakutan Kevin, hanya bisa mengusap tangan Kevin untuk menenangkan nya.


"Bagus dok, sebaiknya anda jangan melakukan perlawanan, jika ingin tetap selamat." Gerry memimpin di depan, kemudian ia bergerak menuju pintu, sesampainya di depan ia berteriak.


"STOP!!! Hentikan tembakan, atau tangan anak buahku akan melepaskan peluru ke kepala wanita ini beserta anak nya." Ancam Gerry, kini ia sudah berdiri di halaman rumah, pandangannya mengitari sekelilingnya, sementara ada dua orang anak buah nya yang menempelkan pistol mereka di pelipis Stella dan Kevin "nampakkan wajah kalian." Perintah Gerry.


Dari jauh, Alex bisa sedikit bernafas lega melihat Stella dan Kevin tidak terluka sama sekali, ia bahkan tak menghiraukan lengannya yang berdarah akibat terserempet peluru yang hampir menembus kulit nya.


Serempak, Alex dan anak buah nya berdiri dengan tangan terangkat di atas kepala, tak ada senyuman di wajah kedua kubu, pun juga belum nampak ada korban dari letusan senjata api.


Tanpa terdengar suara letusan, tiba tiba anak buah Gerry yang tengah meletakkan senjata nya di pelipis Stella, roboh dengan kondisi kepala  di tembus peluru yang entah datang nya dari mana.

__ADS_1


Semua orang terkejut, termasuk Gerry yang kini juga memandangi anak buahnya yang sudah tergeletak berlumuran darah. 


Kini semua mata sedang terfokus ke arah korban tembakan, kesempatan emas itu tak disia siakan Stella, dengan gerakan cepat ia menarik Kevin ke pelukannya, kemudian menghadiahkan tendangan bebas pada pria yang sejak tadi mengarahkan pistol ke pelipis putranya.


Kemudian Stella mendorong Kevin, agar berlari kearah Alex, karena kini anak buah Gerry kembali waspada.


Namun kewaspadaan itu tak berlangsung lama, karena tiba tiba satu lagi tembakan misterius membuat Gerry jatuh tersungkur.


Sementara Stella menghajar anak buah Gerry, hingga membuat beberapa dari mereka kehilangan pistol, yang entah melayang kemana.


Adu tembakan kembali terjadi, Gerry yang kini ada di posisi terjepit merasa tak bisa kalah begitu saja, ia melihat Kevin tengah susah payah berlari, sementara Stella tengah menghajar anak buahnya, dengan bengis Gerry mengarahkan Pistolnya ke arah Kevin.


DOR !!! 


DOR !!!


Dua kali suara letusan terdengar, diiringi dengan teriakan histeris yang memilukan.


.


.


.


.


.


like👍 komen 📝vote 🥇jangan lupa, kembang 💐kopi☕ juga, buat amunisi othor semedi 🧘


.


.


.


.


sampai jumpa esok di jam kunti 👻👻👻

__ADS_1


__ADS_2