Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
91


__ADS_3

Suasana ruang tunggu masih tegang, mama Anna dan Oma Lani tampak memeluk kedua cucu tampan mereka, keduanya tertidur setelah satu jam lebih menangis tanpa henti, terutama Kevin yang terus menerus didera rasa bersalah.


Sementara Alex, Richard, opa Sony dan Steven pun, masih terlihat tegang menanti, hingga tanpa mereka sadari mereka kini duduk berjajar di bangku yang sama, Oma Lani dan Mama Anna tampan saling melempar senyuman melihat keempat lelaki tersebut.


“Bagaimana operasinya?” Nisya dan Riana baru saja tiba, langsung menanyakan kondisi terakhir pada mama Anna.


“Seperti yang kamu lihat, kami semua masih menunggu.” jawab mama Anna dengan nada setenang mungkin, karena tak ingin suasana kembali tegang, lagi pula ia sudah sering mendengar cerita tentang bagaimana kualitas dokter Alan di ruang operasi. “duduklah dulu, kalian pasti masih lelah setelah perjalanan jauh,”


Nisya dan Riana pun duduk, memang benar Nisya baru saja tiba dari Bandung, menemani Riana menghadiri acara sekolahnya, syukurlah kemarin ia menuruti permintaan mama Anna untuk membawa sopir pribadi, jadi hari ini mereka bisa pulang terlebih dahulu.


Akhirnya, setelah penantian panjang selama 3 jam, dokter Alan keluar dari ruang operasi, ada kelegaan tergambar di wajahnya, senyuman lebar lebih dulu ia hadiahkan pada orang orang yang mengkhawatirkan keselamatan Stella, sama seperti dirinya.


“Operasinya selesai dengan baik, kedua peluru sudah saya keluarkan, dan syukurlah peluru tak sampai melukai organ vitalnya, walau pasien sempat kritis akibat kehilangan banyak darah, tapi syukurlah sekarang kondisinya sudah stabil.” 


Penjelasan dokter Alan membuat semua orang yang berada di ruang tunggu kembali bernafas lega, Alex bahkan langsung terduduk di lantai, melihat hal itu, dokter Alan ikut berjongkok di hadapannya, “bangunlah, jangan seperti ini, peluklah anak anakmu, dan bagilah kebahagiaanmu bersama mereka, kalian berempat harus bahagia bersama hingga maut memisahkan,” dua buah tepukan kuat di pundak Alan hadiahkan hadiahkan untuk Alex sebelum ia berlalu pergi.


✨✨✨


Dan terjadi lagi.


Keempat anggota keluarga halu menempati kamar VVIP, mereka keluar masuk seakan akan kamar itu adalah rumah pribadi mereka, Dimas yang hingga kini masih berperan sebagai istri cadangan, bahkan sudah menyiapkan segala sesuatu untuk Alex dan anak anak nya.


“Kenapa kalian tidak tinggal di rumah saja, biar papi yang berjaga disini,” ujar Alex, ketika kedua anaknya tampak menempel padanya seperti bayi koala.


“Ini semua karena daddy, kami ingin menjaga kalian?” celetuk Andre.


“Daddy dan mommy sudah dewasa, kami tak memerlukan bantuan kalian untuk menjaga kami.” jawab Alex tak terima.


“Masalahnya adalah, kalian belum menikah kembali, jadi kami tak akan membiarkan kalian sendirian.” kevin ikut menimpali.


Alex menegakkan kepala kedua anak nya. “Hei, memangnya kalian pikir, apa yang akan mom dan papi lakukan?”


“Semua hal, kalian bisa melakukan semuanya, termasuk kemungkinan kami akan memiliki adik sebelum kalian resmi menikah.”

__ADS_1


Rasanya sungguh lucu membicarakan hal ini dengan anak anak nya, tapi secara bersamaan Alex kini menyadari bahwa kedua anaknya sudah beranjak remaja, dan sebentar lagi dewasa, bukan tidak mungkin sepuluh tahun kedepan ia akan menimang cucu, anak dari kedua putra nya.


“Terima kasih karena kalian sudah mengkhawatirkan mom dan papi, tapi mom dan papi juga tahu, itu hal yang salah, kami sudah sepakat untuk tidak memberi contoh yang buruk pada kalian, jadi dengarkan perkataan papi baik baik,” Alex menatap kedua putranya. 


“Di masa depan, bahkan sampai papi dan mommy menghembuskan nafas terakhir, kami tak akan membiarkan anak cucu dan keturunan kami untuk bercerai, bahkan papi menetapkan tidak akan pernah ada tradisi perceraian di keluarga Geraldy, cukup mom dan papi yang pernah mengalami perceraian, kalian harus ingat baik baik hal itu.” Alex berbicara dengan penuh penekanan.


Kevin dan Andre mengangguk. 


Alex kembali memeluk kedua putranya, “kenapa kalian cepat sekali menjadi besar, papi bahkan belum puas bermain bersama kalian.” gumam nya.


✨✨✨


Pagi itu usai anak anak nya pergi sekolah, Alex diizinkan masuk ke ruang intensif, tempat Stella dirawat, karena masih belum siuman, Stella belum diizinkan pindah ke ruang perawatan, wajah Stella nampak pucat, dengan bermacam peralatan menempel di tubuhnya. 


Kedua telapak tangan Alex menggenggam tangan Stella, jari jari lentik yang biasa lincah membedah dan menjahit luka pasien, kini nampak lemah dan terasa dingin.


Air mata Alex berlinang, manakala melihat bekas lebam di beberapa titik lengan Stella, wajar saja, karena kemarin wanita ini menghajar lima orang pria seorang diri, sungguh hebat karena ia bahkan tidak terluka sama sekali, bahkan Stella sama sekali tak menggunakan senjata untuk melindungi dirinya. "Bagaimana bisa aku mencintai wanita yang begitu mengerikan sepertimu, kamu begitu membabi buta ketika mereka mencoba menyakiti anak kita, tapi kenapa kamu tak pernah menghajarku ketika aku menyakitimu dulu?, Seharusnya saat itu kamu membuatku babak belur hingga tak bisa berkutik, bukannya malah pergi meninggalkanku, tahukah kamu aku jadi seperti cangkang kosong tak berarti, bangunlah … kamu bilang ingin cepat cepat tinggal bersamaku lagi, bersama anak anak kita, dan kita bisa memulai kembali cerita kita yang dulu pernah terhenti begitu saja." 


"kenapa kamu belum juga membuka mata, apa kamu tahu, aku sangat khawatir? Dan juga berapa lama lagi kamu akan menghapus status dudaku?" Alex mengusap pipi Stella.


"Padahal saat makan siang kemarin lusa, aku ingin melamarmu di depan anak anak, tapi rupanya tuhan masih memiliki rencana lain, hingga harus tertunda, bolehkah aku pakaikan cincin itu sekarang, pasti cantik sekali jika kamu yang memakainya." 


Sejenak Alex melepaskan genggaman tangannya, kini ia merogoh saku celananya sebuah cincin berlian kini ada dalam genggamannya, Alex kembali meraih jari tangan Stella kemudian memasangkan cincin tersebut di jari manis wanita yang sangat ia cintai, "apa kubilang cincin ini terlihat menakjubkan di jari manismu." 


Tiba tiba tangan Stella bergerak dan …


PLAK !!!


Alex terkejut, sebuah pukulan tepat mendarat di pipinya, dengan cepat ia menatap wajah Stella, rupanya wanita itu telah sadar dari pingsannya.


"Kenapa kamu memukulku?" Protes Alex.


"Karena kakak hanya memuji cincin itu, apa tanganku terlihat jelek jika tidak memakai cincin?" protes Stella dengan suara lemahnya.

__ADS_1


Alex mengusap bekas pukulan Stella di pipi nya, nyeri bahkan telinganya sempat berdengung sesaat, padahal baru sadar dari pingsannya, tapi rasanya seperti Stella menamparnya dengan kekuatan penuh.


Tapi sedetik kemudian Alex mengembangkan senyum di wajah tampannya. 


Jika saja tidak ada masker oksigen yang menempel di wajah Stella, pastilah saat ini ia sudah me*****at bibir wanita di hadapannya ini.


"Sayang, kenapa kamu bicara begitu, Tentu saja kamu selalu cantik dalam keadaan apapun, terutama kedua tanganmu, tangan indah ini telah menyelamatkan banyak nyawa manusia, karena itu lah aku semakin mencintai mu," Alex menatap wajah cantik yang kini mulai berkaca kaca mendengar setiap perkataan yang ia ucapkan.


 


"Sudah ku bilang jangan lagi menangis, aku merasa bersalah setiap kali kamu meneteskan airmata." 


"Karena itulah, jangan mengucapkan kalimat yang membuatku menangis." Protes Stella.


Namun sedetik kemudian, keduanya larut dalam tangis bahagia.


SREEEEEETTT.


Terdengar suara pintu terbuka, Alan dan dua orang perawat, memasuki ruangan.


"Kenapa setelah tua, kalian berdua jadi cengeng begini?" Tanya Alan ketika menggunakan hand sanitizer sebelum melakukan pemeriksaan pada Stella.


"Setidaknya ini lebih baik, daripada seseorang yang belum juga menikah, padahal usianya sudah menjelang kepala empat." Balas Alex.


"Kamu menyindirku?" Tanya Alan. "Bukannya kita sama sama belum menikah?" Tanya Alan polos.


"Eh benar juga yah," gumam Alex yang didengar oleh seluruh telinga yang ada di ruangan tersebut.


Kelima orang yang berada di ruangan itu pun tertawa bersama.


Dan begitulah, akhirnya persahabatan yang sempat beku selama belasan tahun, kini kembali mencair.


Selanjutnya mereka bahkan bernostalgia, mengingat hal-hal indah yang dulu mereka jalani semasa di Senior High School.

__ADS_1


Setelah Alan dengan dibantu dua orang perawat, melepas seluruh alat bantu yang menempel di tubuh Stella, Stella pun dipindahkan ke ruang perawatan.


__ADS_2