
Oh, Dimas.
Bayu dan Hesti saling tatap, keduanya sama sama berpikir bahwa pria muda di hadapannya ini benar benar kebablasan jujur nya.
"Lah, kan tadi kamu bilang pada om, kalau kamu mau bertemu gadis yang tinggal di rumah ini, apa kamu benar benar yakin kalau gadis itu tinggal di sini?" Tanya Bayu dengan sabar, berusaha menyelami kepolosan pria di hadapannya.
Dimas hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Iya om yakin sekali?"
"Apa yang membuatmu begitu yakin,"
"Karena malam itu, saya yang mengantarnya pulang."
Bayu manggut manggut.
"Oooo begitu?"
"Seberapa dekat kamu mengenal gadis itu?"
__ADS_1
Dimas kembali canggung, sejujurnya ia juga tidak mengerti dengan dirinya, ia bahkan tidak tahu nama gadis itu, tapi bisa bisa nya ia bahkan dua kali membelikannya gaun, dan untuk alasan gaun juga, ia kini berada di sini, di situasi membingungkan. "Sejujurnya, saya hanya bertemu gadis itu dua kali om, saya bahkan tidak tahu namanya."
Bayu dan Hesti menghela nafas, "sekali lagi om tanya nih, ada hubungan apa kamu dengan gadis itu??" Bayu terpaksa menggunakan bahasa yang sama dengan Dimas, menyebut putrinya dengan sebutan gadis itu.
"Tidak ada om, sungguh saya tidak ada hubungan apa apa dengan gadis itu," Dimas mulai tegang.
"Lalu kenapa kamu bisa mengantarkannya pulang pada malam itu?"
"Itu … mmmm …. Itu karena, saya merusak gaunnya."
Mendengar kalimat 'merusak gaun', sontak membuat wajah Bayu memerah menahan amarah, 'merusak' dalam pikiran Bayu, konotasinya berbeda dengan yang ada di kepala Dimas, menurut Bayu, merusak bisa berarti, merobek, atau menarik dengan paksa.
"Jadi maksudmu, kamu sedang menyerahkan diri hmmm? Kamu sudah berbuat asusila terhadap anak om, dan sekarang kamu datang untuk mengatakan hal itu hanya salah paham?" Bayu menyimpulkan semua perkataan Dimas.
(🤣🤣 Oh Dimas yang malang)
"Tidak om, saya tidak berbuat asusila atau apapun itu." Dimas buru buru meralat kalimatnya.
Hesti yang juga berada diruangan itu, hanya terdiam ia mencoba memahami dan menelaah lebih jauh, apa yang hendak disampaikan pemuda polos di hadapannya.
"Stop!!!" Pekik Hesti.
Tentu saja kedua pria yang tengah berdebat kusir langsung terdiam seketika.
__ADS_1
"Nak, nama kamu siapa?" Tanya Hesti.
"Saya Dimas, tante."
"Nak Dimas, kalau memang nak Dimas tidak berbuat salah, tolong jelaskan dengan sejelas jelasnya, agar kami tidak salah paham."
"Mmmm begini tante …" Akhirnya kisah singkat yang berkesan unik itu, meluncur dari bibir Dimas, semuanya Dimas jabarkan perlahan, agar tak lagi ada kesalah pahaman.
Tepat usai Dimas mengurai kisahnya, sang gadis beruntung, sekaligus pemilik gaun yang tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai media pun tiba, wajah cerianya tiba tiba berubah rona nya, menunduk malu malu, manakala melihat siapa kah tamu yang kini berhadapan dengan kedua orang tuanya.
Dengan gugup ia berjalan mendekati ketiga orang yang tengah menantinya.
"Ada apa yah?" Tanya nya takut takut.
"Kamu tidak melihat berita yang sedang ramai jadi perbincangan?"
Hana menggeleng.
"Gaun yang malam itu kamu pakai, adalah gaun milik Meta Permana." Dimas langsung ke inti masalah.
Hana terbelalak tak percaya, kedua telapak tangannya reflek membekap mulutnya yang menganga, sebenarnya ia tak terlalu peduli dengan pemberitaan Meta Permana, namun gaun kontroversi itu memang menarik rasa ingin tahu masyarakat, penasaran seperti apa wujud gaun berharga fantastis tersebut.
Hana sendiri tak pernah memperhatikan detail gaun yang malam itu Dimas belikan untuknya, dia sudah sangat terpesona dengan sosok pria yang kini menawan hatinya, siapa sangka pria itu sudah membuatnya menjadi Cinderella pemilik gaun mewah dengan harga super mahal.
__ADS_1