
Alex dan Dimas berjalan menyusuri koridor lantai 3.
Mereka baru saja menyelesaikan rapat bulanan dengan staf hotel, biasanya dalam rapat seperti ini, Alex lebih terkesan menyiksa para karyawannya, karena ia akan bertanya dengan detail tentang laporan yang sudah mereka susun, kadang jika laporan tersebut tak sesuai dengan harapannya, Alex tak segan menyuruh mereka merevisi laporannya, jika sudah demikian rapat bisa berlangsung sepanjang hari.
Namun hari ini sungguh ajaib, Alex hanya memeriksa sekilas laporan yang masuk, bahkan para karyawan yang sudah menyiapkan mental untuk merevisi laporan pun di buat terkejut, tak biasanya presdir mereka bersikap lunak, tentu hanya Dimas yang tahu jawabannya, apalagi melihat wajah bos nya yang nampak berseri seri sepanjang rapat, 'kehadiran Nyonya memang membawa pengaruh luar biasa, haruskah aku minta bonus setahun gaji? Hahaha siapa tahu saja di kabulkan.' Dimas berkelakar dalam hati.
Namun senyuman Dimas tak berlangsung lama, Ketika melewati Ballroom tempat di adakannya seminar kesehatan, membuat Alex mendadak menghentikan langkahnya, tangannya terkepal kuat, wajahnya memerah, Dimas pun mengikuti arah pandang Alex, ternyata bos nya tengah melihat sang mantan istri tengah berbincang dengan dokter Alan, 'tapi mereka memiliki hubungan apa?, kenapa Bos jadi marah?' ujar Dimas dalam hati.
"Dimas … kita ke markas, rasanya saat ini aku ingin menghajar seseorang." Alex pun berbalik, ia tahu Stella dan Alan hanya berbincang, karena mereka juga berada di ruang publik, tak mungkin melakukan sesuatu yang salah, tapi entah kenapa hatinya terluka, pagi tadi setelah mereka berciuman, dan Stella mengatakan menerima nya kembali, Alex merasa sangat bahagia, ia tak sabar untuk kembali mendaftarkan pernikahannya dengan Stella, bahkan rencana bulan madu sudah ia pikirkan, tapi hanya melihat Stella berbincang akrab dengan Abimana, sudah membuat kepalanya berdenyut, untung saja Dimas berhasil menenangkan nya.
Tapi sekarang, Stella bahkan sedang berbicara dengan mantan kekasihnya, 'oh ya Tuhan kenapa sesakit ini jika sedang cemburu,' Alex bermonolog, kini ia hanya ingin melampiaskan kekesalan dan kecemburuannya.
Alex menuju ruangan pribadi nya di lantai 2, bukan ruangan spesial, hanya Dimas dan orang orang kepercayaan nya saja yang tahu ruangan tersebut, Alex memasukkan kombinasi password agar pintu terbuka, lampu temaram menyala manakala Alex melewati lorong gelap itu, ia terus berjalan menuju markas tersembunyi di luar bangunan Twenty Five Hotel.
Markas itu yang ia bangun sebagai tempat latihan orang orang kepercayaan nya, sekaligus pengawal pribadi nya, Alex bahkan mendatangkan pelatih profesional, semuanya bermula ketika Kevin Kecilnya di culik, sejak saat itu ia tak mengendurkan pengawasan, hanya orang orang terbaiknya yang menjaga dan mengawasi Kevin.
Terlebih lagi ketika ia membayar orang orang profesional untuk mengawasi jaringan Sergio Fernandez, ayah angkat Sergio Abimana, secara tidak langsung ia membuat dirinya sendiri dalam bahaya.
Alex mengganti stelan kerja nya dengan celana pendek, dan kaos oblong tanpa lengan, ketika berjalan memasuki ring tinju, alex melilit kan kain tipis untuk melindungi buku buku jarinya. "Bos … pakai sarung tinju anda, jika tangan anda terluka, akan sangat sulit menghilangkan Keloid nya."
Dimas sangat menghawatirkan Alex, karena kini Alex hanya memakai kain tipis untuk melindungi buku buku jari tangannya, namun Alex tak peduli, ia mulai menghajar samsak di hadapannya.
__ADS_1
Pukulan demi pukulan ia daratkan di sana, samsak raksasa itu terus berayun, mengikuti laju emosi yang tengah Alex rasakan, keringat mulai membanjiri kepala dan tubuhnya, namun ia belum ingin berhenti, ia masih terbayang senyuman cantik wanitanya, bahkan ia ingat dengan jelas, bagaimana Abimana terpesona pada senyuman Stella, membuat emosinya semakin meledak tak terkendali.
Hampir satu jam Alex meluapkan kekesalannya dengan menghajar samsak di hadapannya, dan kini tenaganya makin melemah tubuhnya sudah bermandikan keringat, ia membiarkan tubuhnya berbaring di lantai, menghadap ke langit langit ruangan, nafasnya terdengar keras dan tak beraturan.
Dimas terdiam membisu menatap Alex yang kini berbaring dengan mata terpejam, ia mulai bisa menerka apa gerangan yang kini tengah dirasakan Alex, sepertinya bosnya tengah di landa virus cemburu.
Ketika suasana sudah mulai kondusif, Dimas berjalan ke tengah ring dengan sebotol air mineral di tangannya. "Minum dulu bos," Dimas menawarkan.
Alex bangkit dan menerima air mineral tersebut, ia meminumnya hingga tandas, kemudian tertawa keras. "Hari ini aku merasa konyol," Alex buka suara. "Aku cemburu hanya karena melihat mantan istriku berbicara dengan laki laki lain selain aku." Alex mere mas botol air mineral di tangannya.
'jadi benar dugaanku, rupanya anda benar benar cemburu'. Dimas bermonolog.
"Syukurlah jika sekarang anda menyadari nya tuan, bahkan di tengah badai kala itu, tak sekalipun nyonya mengamuk dan memaki anda, justru nyonya memilih berpisah agar anda bisa berbahagia, nyonya sangat mencintai anda, jangan sia siakan lagi cintanya, kini berlian itu memilih anda kembali, jaga dan rawat cintanya agar tetap subur, jangan sampai anda menyesal untuk kedua kalinya."
Alex tiba tiba bangkit, "yah kamu benar, aku harus menemuinya sekarang, ada di kamar nomor berapa dia?"
Dimas menyebutkan nomor kamar yang Stella tempati.
"Kenapa kamu tak memindahkan nya ke lantai atas, harus nya kamu memperlakukan calon nyonya muda Geraldy dengan layak." Gerutu Alex kesal.
"Tadinya saya ingin melakukannya bos, tapi nyonya menolak,"
__ADS_1
Alex pun berjalan mendahului dimas, bahkan ia tak sadar sudah berjalan tanpa alas kaki.
"Bos … tunggu saya bos, anda belum memakai alas kaki, setidaknya gunakan sandal." Teriak Dimas, namun tak di hiraukan oleh Alex.
Alex berjalan cepat keluar dari ruang latihan, tujuannya hanya satu memeluk ibu dari anak anaknya, mengucapkan maaf karena telah menjadi pria paling jahat di masa lalu mereka.
Dadanya bergemuruh manakala melihat mantan istrinya berdiri di balik pintu kamarnya.
Stella pun tak kalah terkejut, penampilan Alex sungguh di luar dugaan, wajah dan rambutnya berantakan, bahkan tubuh nya mandi keringat.
Begitu melihat Stella membukakan pintu, Alex memeluknya erat.
Stella terdiam, ia terkejut, tiba tiba Alex datang dan memeluknya, pelukan yang sangat erat, entah apa yang tengah Alex alami, tapi Stella merasa kali ini pelukannya berbeda, "maafkan aku, maafkan aku,"
Alex mendorong tubuh Stella hingga mereka menjauh dari pintu, dan pintu kamar pun menutup sendiri secara otomatis.
Beberapa saat kemudian, Stella mengurai pelukan mereka, "apa yang terjadi, kenapa kakak jadi kacau begini?" Kemudian stella mengambil beberapa lembar tisue untuk mengeringkan keringat alex, sama seperti pagi tadi, Stella terus berucap dan entah kalimat apa saja yang Stella ucapkan, Alex tak mendengarnya, ia hanya sibuk menatap wajah Stella yang terlihat khawatir melihat keadaannya.
Bahagia?? Jelas sekali, setelah kecemburuan beberapa saat lalu, kini menguap berganti dengan bahagia karena ternyata ia merasa masih spesial di mata Mantan istrinya.
"Mandilah, aku akan meminta Dimas membawa baju ganti untukmu,"
__ADS_1