
Sebuah Restoran mewah menjadi tujuan Alex siang ini, seperti yang sudah ia dan si kembar rencanakan, hari ini ia akan melamar Stella secara resmi.
Sepanjang perjalanan, mereka berbincang akrab seperti biasa, namun tidak dengan Kevin.
Sejak meninggalkan rumah sakit, wajah Kevin nampak muram, ia sama sekali tak menanggapi pertanyaan, terutama pertanyaan dari Alex, ia hanya ingin diam dan memejamkan mata.
Entahlah, tapi suasana hatinya benar benar buruk sejak mendengar pembicaraan Alex dan Anindita di lobi rumah sakit beberapa saat yang lalu, "Apakah mommy sudah tahu siapa Anindita?" Pikirnya.
Tidak ada yang tahu, hari ini Kevin patah hati dua kali, yang pertama ia mengetahui penyebab kepergian Stella, dan yang kedua ia harus merelakan gadis yang kini diam diam mulai menarik perhatiannya.
Hingga tiba di private room restoran, Kevin masih juga tak ingin bicara, sejak turun dari mobil ia hanya bergelayut manja di lengan Stella, bahkan ketika duduk ia masih menyembunyikan wajahnya di pelukan Stella.
"Hei kamu kenapa?" Bisik Stella.
Stella tahu sifat Kevin sangat mirip dengan Alex, tertutup dan sulit mengungkapkan apa yang dia rasakan, karena itulah ia sengaja berbisik lembut, agar Alex dan Andre tak mendengar.
Namun Kevin hanya menggeleng, ia kembali memejamkan mata, tak ingin melepaskan diri dari pelukan hangat mommy nya.
Stella hanya tersenyum, ia pun hanya memeluk putra sulungnya tersebut, mengusap kepala dan rambut Kevin, sesekali Stella mendatarkan kecupan di sana, sementara Andre sedang memainkan game di tablet nya bersama Alex, kedua anak kembar itu seolah sedang memonopoli kedua orang tua mereka, menebus 14 tahun waktu yang telah mereka lewatkan.
Hingga makanan pesanan mereka di sajikan, Kevin masih juga diam, dia ikut makan tapi seperti tak bersemangat dan tak menikmati makanan, bahkan cenderung bermain main dengan makanannya.
Melihat hal itu, Alex pun penasaran, sejak tadi Alex bukannya tak melihat perubahan raut wajah Kevin, sungguh jauh berbeda dengan ketika mereka di toko perhiasan, "Kev … kamu kenapa?"
Kevin hanya diam dan menggeleng.
"Bicaralah, papi ingin tahu apa yang terjadi padamu."
"Yakin papi ingin tahu?" Nada suara Kevin semakin tak mengenakkan untuk di dengar.
"Tentu saja, barangkali papi bisa membantu masalahmu."
Stella hanya diam mengamati perbincangan Alex dan Kevin, karena Alex juga tak memberi kode padanya untuk membantu, jadi Stella hanya menunggu.
"Papi jahat." Ucapnya dengan wajah menunduk.
Seketika ketiga orang yang juga berada di ruangan itu pun menghentikan aktivitasnya.
"Apa kamu bilang?"
Kali ini Kevin mengangkat wajahnya, tatapannya tak lagi manis dan menggemaskan seperti Kevin biasanya, kali ini kemarahan terpancar di matanya.
"Papi jahat!!!" Ujar Kevin dengan suara sedikit lebih keras.
Alex terdiam, ia bingung dengan apa yang sedang terjadi, tiba tiba saja Kevin emosi dan mengatakan dirinya jahat.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Alex tenang. "Bukan tanpa alasan kan, kamu mengatakan papi jahat?"
"Bukan aku yang harus menjelaskan, kenapa aku menganggap papiku sendiri orang jahat." Dengan kasar Kevin mengusap air matanya, pemuda tanggung itu memiliki perasaan yang peka dan sangat sensitif, mudah sekali tersentuh, hingga kadang terkesan cengeng.
Stella mengusap lengan Kevin, "ada apa sebenarnya? Mommy tahu ini bukan sifatmu, anak mommy tak mungkin berkata kasar,"
Kevin makin berurai air mata, ia menatap wajah tulus dan lembut sang mommy, "aku memang anak mommy, tapi bukan mommy yang membesarkan ku, jadi jika aku berkata kasar ini semua bukan salah mommy, ini salah papi."
Kevin kembali menatap Alex dengan tatapan penuh amarah, "ternyata papi sendiri penyebab nya," bibir Kevin bergetar menahan tangis, "papi yang berselingkuh hingga menyebabkan mommy pergi, papi membuat ku dan Andre kehilangan sosok orang tua panutan," nada suara Kevin semakin tinggi.
"Sebutan apa yang pantas untuk papi? Apa aku masih harus menyebut papi adalah papi terbaik? Papi yang membuatku kehilangan pelukan mommy, kehilangan kesempatan main bersama mommy, bahkan aku ingin menghadiri ulang tahun teman temanku bersama mommy, bukannya bersama pengasuh."
(Tarik nafas … othor nangis dulu 🤧😭 merasakan aura kemarahan bang kepin)
Alex membeku di tempatnya, kini ketakutannya menjadi nyata, ia kebingungan dengan situasi saat ini, bahkan ia sendiri kini sudah berurai air mata, bukan hanya Alex, Stella dan Andre pun sama.
Stella mengusap butiran air matanya, sebisa mungkin ia mencoba agar masalah ini tak berlarut larut. "Sayang tenang dulu," Stella mencoba menenangkan Kevin dengan usapan lembutnya, "Semuanya sudah berlalu, papi bahkan sudah minta maaf pada mommy, dengar … sesudah ini mommy janji, akan menemanimu kemanapun," tak bisa di pungkiri, Stella sendiri hancur, tapi naluri keibuannya lebih hancur lagi manakala mendengar tangisan Kevin. "Yah, kita main, makan, pergi ke ulang tahun teman temanmu, bila perlu mommy akan berhenti jadi dokter agar bisa terus di dekat mu, bagaimana?" Tanya Stella dengan wajah penuh harap, berharap Kevin akan luluh dengan penawarannya.
Namun tentu saja itu tak mampu mengurangi kemarahan Kevin, ia kini justru menemukan hal baru, yang menurutnya paling penting, "Dan mommy, kenapa hanya membawa dia?" Kevin menunjuk Andre, yang sejak tadi terdiam tanpa bicara, walau Andre juga menangis.
"Kenapa mommy tidak membawaku saja?" Kevin menangis pilu, "kenapa justru meninggalkanku bersama papi? Asal mommy tahu, aku tak menginginkan kemewahan, mainan, bahkan status anak sultan, asal bisa bersama mommy aku bahagia, pun seandainya aku hanya memiliki 2 pasang baju untuk aku kenakan."
Sama halnya dengan Alex, kini Stella pun menunduk dengan Air mata berlinang, ternyata keputusannya dahulu pun sama fatal nya, berpisah dengan Alex saja sudah merupakan hal yang fatal bagi kedua anaknya, ditambah lagi ia hanya membawa Andre bersama nya, tentulah ini akan menjadi luka yang tidak akan pernah sembuh seumur hidup anak anak nya.
Setelah mengeluarkan isi hatinya, Kevin berdiri dan berlalu pergi, ia meninggalkan private room tersebut, Andre mengejarnya, mencoba untuk bisa berbagi rasa dengan saudara tertuanya.
Beberapa saat kemudian …
"Mom … dad …" teriak Andre dengan nafas memburu.
Ia masih kesulitan mengatur nafas nya.
"Kenapa?"
"Ada apa?"
Kini Andre yang menangis, ia sendiri bingung harus mengatakan apa pada kedua orang tuanya.
"Kevin … " ujarnya di sela tangis.
"Kevin kenapa?" Tanya Alex panik.
"Kevin … dia … dia … di bawa pergi segerombolan pria berpakaian hitam," ujar Andre dengan tangisan meraung, "tadi aku mencoba mengejar mereka, tapi mereka pergi dengan mobil, aku tak bisa berbuat apa apa."
Stella terduduk lemas seketika, sementara Alex segera berlari keluar dari restoran, ia mencari cari keberadaan anak buahnya, tak lama mereka datang melapor.
__ADS_1
"Maaf bos kami kehilangan mereka." Lapor salah seorang anak buahnya. "tadi tim 1 sudah mengejar mereka, namun beberapa saat lalu, saya menerima kabar, tim 1 sudah kehilangan jejak, karena ternyata, mereka sudah menyiapkan beberapa mobil serupa untuk mengalihkan perhatian."
"Haiissstt… bagaimana bisa kalian kehilangan mereka," ujar Alex dengan nafas memburu, dan wajah penuh kemarahan, tidak, tidak akan lagi, Alex tidak akan membiarkan anaknya di sakiti untuk kedua kalinya, trauma penculikan yang pertama saja, belum hilang dari kepala Alex, kini lagi lagi Kevin menghilang, entah siapa lagi pelakunya kali ini.
.
.
.
.
.
.
😱😱
.
.
.
Wes ya gaeeess 🧘 mari semedi dulu, biar tenang hati dan pikiran.
.
.
.
.
.
sampai jumpa esok di jam kunti 👻👻👻
.
.
.
.
__ADS_1
Plis like👍 komen 📝and vote 🥇 kembang 💐kopi ☕nya juga ga papa🤗 othor terima dengan bahagia💃💃 sarangeeeee 💟❤️💟❤️