Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
45


__ADS_3

Dimas terduduk lemas di ruang tunggu, beberapa menit yang lalu, pesawat pribadi milik Alex sudah siap, kini tinggal menanti kedatangan Alex.


Ingin rasanya Dimas menghajar bosnya tersebut, dua hari yang lalu Alex memintanya ke Singapura untuk menyerahkan dokumen dan mengawasi Abimana, dan setelah Dimas menyelesaikan tugasnya kini Alex hendak pergi ke Singapura, apa tadi katanya, memancing?? Dimas tertawa sinis.


Sekali lagi Dimas menertawakan nasibnya yang masih saja betah menjadi bawahan, walau kadang Alex sangan membuatnya susah dengan banyak tugas, namun entah kenapa Dimas begitu menyayangi bos nya.


Tak lama sang bos yang ia tunggu pun tampak berjalan mendekat ke arahnya.


Alex menggandeng tangan putranya, jeans dan kemeja casual membalut tubuhnya, lengkap dengan kacamata hitam yang membuat aura tampannya semakin bersinar, begitu pun Andre yang tampil tak kalah keren dari Alex, Alex dan putranya benar benar perpaduan yang sempurna.


"Silahkan bos, pesawat anda sudah siap." Dimas mempersilahkan Bos dan putranya untuk menuju pesawat pribadi mereka.


Alex dan Andre hanya diam mengikuti instruksi Dimas.


Mereka Alex yang diikuti Andre, kini menaiki tangga pesawat pribadi yang akan membawa mereka ke Singapura, tak ada yang tahu bahwa Alex tengah menahan debaran jantungnya yang kian menggila.


"Selamat menikmati perjalanan bos, semoga anda selamat sampai tujuan." 


"Hmmm terima kasih Dimas," ucap Alex. "Aku belum tahu kapan kembali, jadi urus semua pekerjaan dan pertemuan yang harus aku hadiri."


"Baik bos,"


Dimas pun meninggalkan kabin pesawat, ia masih bertanya tanya, apa gerangan yang terjadi pada bosnya, hingga ia tiba tiba memutuskan pergi ke Singapura, tapi kemudian ia menggeleng, "kenapa aku tidak bertanya tadi?."


Dimas kembali menyeret koper miliknya, ia segera melangkahkan kakinya meninggalkan bandara internasional Soekarno Hatta.


...✨✨✨...


2 jam perjalanan berlalu, bagi Alex terasa seperti perjalanan 2 tahun, wajah Andre berbinar, ia bahagia bisa kembali ke Singapura, dan ia tak sendiri, melainkan bersama daddy, pria yang selama ini sangat ia rindukan. 


Lain Andre, lain juga Alex, sejak memasuki kabin pesawat dadanya mulai berdesir aneh membayangkan pertemuan yang akan terjadi antara dirinya dan Stella, Alex belum bisa membayangkan Stella akan bereaksi seperti apa.


14 tahun bukan lah waktu yang singkat, perpisahan mereka kala itu, masih meninggalkan luka di hati kedua nya, Stella terluka oleh pengkhianatan yang ia lakukan, dan Alex terluka karena patah hati, Alex terlambat menyadari perasaannya, cinta nya pada Stella ternyata begitu kuat, hingga ia tak menginginkan wanita lain berada di sisi nya.


Alex dan Andre tiba di lobby utama Twenty Five Hotel.


"Ada yang membuatmu bahagia, papi lihat kamu tersenyum sejak tadi."


Andre menatap Alex, ia kembali mengembangkan senyumnya.


Alex geleng geleng melihat tingkah putranya. "Boleh papi minta tolong?" 


"Minta tolong apa?" 


"Jangan sampai Kevin dan mommy tahu, jika kita sedang di Singapura juga."


"Baiklah, apapun yang papi katakan akan ku turuti, boleh aku meminta satu hal?" 


"Banyak pun akan papi berikan untukmu," Alex menatap lembut pada Andre.

__ADS_1


Mereka terus berjalan memasuki Lift, menuju kamar yang biasa Alex tempati ketika berada di Singapura.


"Aku ingin memanggil papi dengan sebutan daddy."


Alex mengerutkan keningnya, permintaan Anaknya terdengar aneh di telinga Alex, namun tetap saja Alex tersenyum mendengarnya.


"Haruskah? Entah kenapa telinga papi terasa aneh." Alex terkekeh.


Lift Mereka tiba di lantai paling Atas, lantai khusus untuk keluarga Geraldy.


"Sejak dulu, aku iri dengan teman temanku, mereka memiliki daddy, sebuah nama yang tak pernah ku sebut." 


Alex memeluk Andre, perasaannya begitu hangat, Andre bahkan hanya meminta hal yang sederhana, namun entah mengapa ia begitu bahagia, Alex mengangguk, "apapun nak, lakukan apapun yang kamu inginkan, selama bukan hal buruk, dan itu bisa membuatmu bahagia akan papi turuti." 


"Terima kasih daddy."  Andre memeluk Alex dengan erat.


"Ayo masuk, daddy ada hadiah untukmu." 


...✨✨✨...


Andre memegang kartu berlapis emas yang diberikan Alex pagi tadi, Senyuman lebar menghiasi bibirnya. "Jika kamu memiliki ini, staf hotel akan tahu kalau kamu seorang Geraldy," ucap Alex ketika menyerahkan kartu berlapis emas tersebut. 


Pagi itu petugas hotel mengantarkan sarapan ke kamar mereka, "kenapa kita tidak sarapan di ruang makan?" 


"Kalau kamu menginginkannya mulai besok kita sarapan di ruang makan, apa itu membuatmu senang?" 


Kini Andre sendirian di kamar, karena Alex harus membereskan pekerjaan di ruang kerjanya.


'Bosan sekali' pikirnya.


Andre kembali menerawang, semalam ia banyak berbicara dari hati ke hati dengan Daddy nya, Alex menanyakan semua hal yang telah ia lewatkan selama masa tumbuh kembangnya, sekolah pertamanya, apa saja yang ia suka, apa saja yang ia tak suka, siapa yang dulu mengasuhnya ketika mommy melanjutkan kuliah, bagaimana suasana ulang tahun nya setiap tahun, dan banyak lagi.


Andre senang sekali, walau Alex hanya bertanya hal hal sederhana.


Ting 


Ponsel Andre membunyikan notifikasi pesan.


Kevin mengirimkan gambar dirinya tengah berbaring mengenakan baju pasien.


Andre terkejut melihatnya.


Apa yang terjadi denganmu?-Andre-


Aku meminum susu coklat agar penyamaran ku tidak terbongkar, ternyata aku berakhir pingsan dan dirawat di ruangan intensif -Kevin-


Lalu sekarang?-Andre-


Penyamaranku terbongkar, apalagi yang bisa kulakukan? Pagi ini tenggorokanku masih kurang nyaman, jadi mommy melarangku ke sekolah, lagi pula aku memang tak seharusnya sekolah di sini kan? -Kevin-

__ADS_1


Andre tertawa geli, ingin rasanya ia juga mengatakan bahwa penyamarannya juga terbongkar.


Apa mommy marah? Aku rasa tidak, mommy kita adalah ibu terbaik -Andre-


Tentu saja, mommy tak marah, mommy menjagaku semalaman di ruang intensif.


Maaf … aku rasa aku mengacaukan rencana kita, karena pagi hari sebelum aku pingsan, om Dimas lebih dahulu menangkap basah penyamaranku -Kevin- 


Andre memejamkan mata nya, apa sebaiknya ia berterus terang juga dengan Kevin, jika mereka sudah sama sama tertangkap basah, maka tak ada lagi yang harus di rahasiakan.


Kev, sebenarnya aku juga sudah tertangkap basah, awalnya hanya kakak Ima, berikutnya papi dan terakhir opa oma -Andre-


Kevin pun menyeringai membaca pesan saudara kembarnya 


Hahaha … 


Jika kita berdua sudah ketahuan, bagaimana kalau kita pertemukan mom dan papi? -Kevin-


Ide bagus, sekarang aku di lantai paling atas Twenty Five Hotel bersama daddy, sebenarnya daddy melarangku mengatakan padamu, jika kami sedang berada di Singapura, tapi tak apa aku berbohong, aku juga ingin mom n dad bertemu -Andre-


Tunggu, kamu memanggil papi dengan sebutan daddy? -Kevin-


Ya … papi mengizinkanku memanggilnya Daddy -Andre-


Itu menggelikan, aku tak mau mengikuti mu -Kevin-


Terserah aku juga tak ingin kamu mengikuti panggilanku -Andre-


Mereka terus bertukar pesan, sementara kedua orang tua mereka sama sama sibuk, Stella sibuk dengan pasien2 nya dan Alex sibuk menyamar agar bisa menguntit mantan istrinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


hahaha ada yang penasaran sama si mantan 🤪🤪 mantan ku lagi ngapain yah? 😁😁

__ADS_1


__ADS_2