
a. Landing.
Suster Amanda mengatur sandaran kursi yang diduduki Stella agar lebih landai, kemudian ia meminta selimut pada pramugari, dan membentangkannya hingga menutupi perut dan kaki Stella.
"Permisi Tuan, saya harus memeriksa apakah sudah ada pembukaan atau belum?" Suster Amanda meminta Alex dan Kevin menyingkir dari hadapan Stella.
"Tapi aku sudah mengatakan pada pada dokter Elga, bahwa aku ingin istriku melahirkan secara Caesar," ujar Alex masih tak mempercayai fakta bahwa Sebentar lagi sang istri akan melahirkan, tapi di pesawat? Kenapa pula bayinya tidak sabar menunggu tiba di rumah sakit.
__ADS_1
"Iya tuan, saya tahu, tapi dalam kondisi darurat seperti sekarang, apalagi air ketuban sudah pecah, yang terbaik adalah melakukan persalinan secara normal, karena itulah saya ingin memastikan pembukaannya, semoga saja tidak sampai melahirkan di sini."
"Tapi … tapi …" Alex masih mencoba meyakinkan dirinya, bahwa tak masalah jika melahirkan di sini, yang terpenting bayinya dalam keadaan sehat, dan selamat, begitu pula istrinya, "Baiklah suster, lakukan yang terbaik, aku ingin istri dan anakku selamat." Akhirnya Alex pasrah, sambil beberapa kali ia melihat jam tangannya.
"Aaaaahhh …" Stella kembali berteriak keras, "bisakah kalian minggir dan biarkan suster melakukan tugasnya …!!!" Teriak Stella pada suami dan anak anaknya, ia sungguh merasakan sakit, tapi suaminya seakan membuat tugas suster amanda bertambah berat.
Tanpa menghiraukan tatap Alex yang sudah sangat khawatir bercampur tegang, suster Amanda mulai memeriksa pembukaan pada jalan lahir sang, bayi sementara Andre yang masih sok cool menggosok gosok punggung saudara kembarnya, yang tampak cemas sama seperti papi mereka.
“Tolong segera duduk dan pakai sabuk pengaman anda tuan, sebentar lagi pesawat akan melakukan pendaratan,” ucap Pramugari yang baru saja keluar dari ruangan kru penerbangan.
“Suster … apakah memungkinkan untuk melakukan pendaratan terlebih dahulu?” tanya alex pada suster Amanda.
__ADS_1
“Sepertinya bisa tuan, tapi saya tidak jamin bayi akan lahir di rumah sakit, mengingat pembukaan berlangsung cepat, sepertinya pembukaan sudah dimulai sejak sebelum penerbangan.” jelas suster Amanda.
Deg …
Alex sedikit terkejut, apa ini karena ulahnya? ia ingat betul, semalam mereka melakukannya dua kali, kini barulah Alex tahu akibatnya, Stella pasti merasa tak nyaman sesudahnya, sepanjang pengetahuannya, wanita yang sangat ia cintai itu tak pernah sekalipun menolak keinginannya, walau ia sendiri pasti kepayahan karena sedang hamil besar.
Alex kembali berlutut di samping kursi yang ditempati Stella, ia mengusap peluh yang membasahi rambut dan wajah sang istri, ingin rasanya ia menggantikan rasa sakit yang kini dirasakan istrinya, “apa sakit sekali?” bisiknya di telinga Stella, sangat pelan hingga orang oarang disekitar mereka tak mendengar apa yang ia ucapkan. “tenangkan dirimu, aku akan menemanimu hingga akhir,” Stella mengangguk.
“Aku tahu,” jawab Stella, wajahnya tampak tersenyum, sungguh cantik, walau ia tengah mati matan menahan rasa sakit, “suami tampanku tak akan pernah meninggalkanku, karena jika kakak kembali berulah, aku yang akan meninggalkanmu.”
“Iya, bila perlu kamu bisa mengikat kaki dan tanganku, agar aku tak lagi berulah.”
__ADS_1
Alex memasang seat belt untuk Stella, dan memastikan istrinya duduk dengan nyaman selama pendaratan, bahkan sejak seat belt terpasang tak sekalipun pandangannya beralih, tangannya pun tetap menggenggam erat tangan sang istri.
Pesawat sedikit berguncang disertai jerit tangis bayi. walau dengan drama agak konyol dan sedikit menegangkan, akhirnya sang putri mahkota lahir dengan selamat, bersamaan dengan waktu pendaratan mereka di bandara Changi Singapura.