
Othor mau promo novel bestie nih gaez ...
kalo berkenan, silahkan mampir yah ...
"Aku setia menunggu sampai kamu lulus pendidikan militer! Tapi justru ini yang kudapat!" Armita menangis terisak sambil meremas surat undangan pernikahan di tangannya.
Zubair hanya mampu terdiam. Hatinya sungguh hancur melihat wanita yang sangat ia cintai sampai menangis terisak. Namun ia tidak berdaya.
Zubair menerima sebuah perintah dari seorang perwira bintang 2 bernama Laksda Yuda Wicaksana untuk menjadi pengawal pribadi putrinya yang bernama Zylda.
Berkat kepiawaiannya dalam menjalankan tugas, Zubair berhasil menarik hati Zylda dan Sang Komandan. Laksda Yuda Wicaksana membuat suatu rencana hingga Zubair tak mampu menolak perjodohan antara dirinya dengan Zylda.
Zubair menjalankan tugasnya untuk menikahi Zylda meski hatinya tetap mencintai Armita.
Hingga semua itu diketahui oleh Zylda. Dengan kecewa ia berkata kepada Zubair, "Jika memang kamu menikahiku hanya karena tugas dari ayahku, maka aku akan memintanya untuk memberi tugas tambahan untukmu supaya mencintaiku!"
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
kalau ini novel terbaru othor yah, si kembar nomor dua, anak nya Alex dan Stella ... yang berkenan silahkan mampir yah, mohon cinta dan dukungannya ...
sarangeeeeee 💟❤️💟❤️
Pemuda tampan itu sudah bersiap dengan pakaian terbaiknya, karena hari ini ia akan menghadiri acara pernikahan sahabat baiknya, ia tak ingin membuat Bella kecewa.
Sebelum meninggalkan Twenty Five Hotel, ia memacu mobil mewahnya guna mengunjungi cafe tempat dimana cappucino favorit nya di buat, sesampainya disana ia disambut dengan pemandangan suasana old, Singapura tempo dulu.
Tak ingin buang waktu lagi, ia menghampiri meja pemesanan, untuk memesan apa yang ia inginkan.
__ADS_1
Mata Andre mengawasi sekeliling, ketika ia menunggu cappucino pesanannya siap.
Matanya melihat seseorang yang kini ia kenal baik, si pria manis berkacamata minus, dia adalah sang calon mempelai pria.
Andre berjalan mendekati pria tersebut, "hai Jo?" Sapanya.
Jonathan yang sepertinya sedang sibuk dengan kertas kertas di tangannya, kini terlihat gugup melihat kedatangan Andre.
Buru buru ia mengemasi seluruh kertas di hadapannya, kemudian memasukkannya kedalam kotak, sepertinya kotak itu memang digunakan sebagai wadah untuk menyimpan kertas kertas tersebut.
"Hai And," balas Jo menjawab sapaan Andre, sekaligus berusaha menutupi debaran jantungnya.
“kenapa masih disini, Bella pasti menunggumu.” Andre duduk di hadapan Jo manakala pria yang akan segera menjadi suami tersebut, mengemasi semua benda yang ada di mejanya.
“tak masalah, toh aku tak akan membuatnya menunggu lama,” kalimat Jonathan seakan menyindir pria yang kini duduk di hadapannya.
“maksudmu?” tanya Andre penuh selidik.
Jonathan menatap tajam ke arah Andre, pandangannya menghunus penuh selidik, kemudian Jonathan mengeluarkan kotak beludru berisi sepasang cincin pernikahan, hatinya terasa sakit manakala ia menyadari warna mata pria di hadapannya sama persis dengan batu permata yang tersemat di cincin pernikahannya dengan Bella.
Dua bulan yang lalu Bella mengatakan padanya, bahwa ia sendiri yang akan merancang cincin pernikahan untuk pernikahan mereka, kala itu karena kesibukannya, Jonathan hanya menyetujuinya, tak disangka kini ia dibuat terkejut dengan kenyataan yang ada di hadapannya.
jonathan mengambil cincin yang sejatinya nanti akan ia kenakan, kemudian ia menarik tangan Andre.
“Hentikan Jo apa yang akan kamu lakukan?” tolak andre, manakala Jo memaksa menarik tangan kirinya.
“maaf, jika aku kasar, tapi aku ingin memastikan satu hal lagi.” jawab Jo Dingin, Andre tahu pria di hadapannya sedang dalam kondisi tidak baik baik saja.
namun Andre lagi lagi terbius oleh tatapan dingin Jonathan. ia tak menolak mankala memasangkan cincin yang khusus Bella buat untuk pernikahan mereka.
mata Jonathan terbelalak tak mempercayai apa yang ada di hadapannya.
__ADS_1
cincin dengan batu permata berwarna biru pucat itu melekat sempurna di jari manis Andre, tak longgar ataupun kesempitan, sementara ketika ia mencoba memakai cincin tersebut beberapa saat yang lalu, cincin itu terasa sesak, bahkan nyaris membuat jari manisnya tak teraliri darah.
“ternyata kamu orangnya, pria yang tak pernah Bella sebutkan nama dan identitasnya, pria yang telah begitu dalam menorehkan luka di hatinya, kenapa? bahkan setelah kesakitan yang ia rasakan, tak jua ia mampu mengusir bayanganmu dari hidupmu.”
Jonathan benar benar lepas kendali ketika mengatakan nya, padahal ia sudah pernah berjanji akan mempersembahkan cinta tulusnya untuk Bella, akan menerima gadis itu apa adanya, bahkan sudah berjanji akan membantunya melupakan pria yang sudah membuatnya patah hati berkali kali.
“kendalikan dirimu, aku memang pria brengs3k yang sudah berulang kali mengecewakan Bella, tapi aku sangat bahagia untuk pernikahan kalian,” Andre mengatakan isi hatinya dengan sejujur jujurnya, tapi entah mengapa Jonathan merasa begitu cemburu, ia tak rela gadis yang sejak remaja ia cintai justru mencintai pria di hadapannya.
jo menggeleng sejenak, membuang segala pikiran buruk yang menghantui kepalanya, beberapa kali ia menghibur dirinya sendiri, “tenang Jo, Bella telah menjatuhkan pilihan padamu, termasuk hari ini adalah hari yang sudah kalian sepakati untuk pernikahanmu dengan Bella.” gumam Jo dalam hati.
“maaf, aku tak tahu apa yang sedang berkecamuk dalam diriku.” ujar Jonathan yang kemudian membawa semua kertas kertas yang ada di dalam kotak tersebut bersama kepergiannya.
Andre merasa ada yang tidak beres dengan Jonathan, ia pun bergegas mengambil kopi pesanannya, kemudian ia bawa serta mengejar mobil yang di kendarai Jonathan, sepanjang jalan ia memperhatikan mobil yang Jonathan kendarai, terkadang mobil itu melewati garis pembatas jalan, bahkan beberapa kali hampir menyerempet pembatas jalan, Andre melihat dan terus mengamati, tiba tiba mobil Jo menambah laju kecepatannya, semakin lama semakin tak terkendali, terus berlari hingga mobil tersebut banting setir ke kanan, sementara dari arah berlawanan sebuah truk besar tengah berlari kencang, dan truk tersebut tak bisa begitu saja mengurangi laju kecepatannya, hingga …
BRAAAAAK !!!
Tabrakan dahsyat tak terelakkan, bahkan Jo yang beberapa saat sebelum kejadian mencoba untuk keluar dari mobil kini justru terlembar dua meter dari lokasi mobilnya berada.
Andre merasakan tubuhnya bergetar hebat, tangannya bahkan masih meraba raba bodi mobil untuk mencari sesuatu yang bisa ia genggam, ia masih menatap tak percaya pada apa yang ada di hadapannya, ia tak menyangka beberapa saat lalu menyaksikan peristiwa kecelakaan yang terjadi dalam waktu sangat cepat, ia bahkan belum sempat Lari dan menyelamatkan Jonathan.
kini pandangannya beredar mencari cari Pria yang akan menjadi calon pengantin tersebut, Jonathan terbaring lemas dengan tubuh bersimbah darah, andre berlari mendekatinya, dengan menggunakan ponselnya ia menghubungi emergency room William medical Center, kemudian ia mendekati Jo, mata pria itu terpejam walau demikian Andre masih mencoba mengajak pria itu berbicara.
“Jo … jawab aku jo, kumohon bertahanlah, Bella pasti gelisah menantikan kedatanganmu,” Andre tak berani menyentuh tubuh jonathan, ia takut terjadi kesalahan fatal jika ia menyentuh tubuh Jonathan.
Andre melepas jas kemudian menutupkannya pada tubuh Jonathan, tak lama kemudian Jonathan membuka mata nya, ia tersenyum menatap wajah Andre yang terlihat khawatir melihat keadaannya.
tangan pria itu bergerak, kemudian ia menyerahkan kotak beludru putih yang berisi cincin pernikahannya, kotak putih itu kini bernoda darah, darah yang berasal dari tangan Jonathan.
Jo menyerahkan kotak itu ke tangan Andre, pria itu memegang erat Lengan Andre, “jaga dia, cintai dia, ketika kami masih kecil, dia tak pernah menangis, namun beberapa bulan lalu, dia nyaris selalu menangis ketika menceritakan cinta pertamanya.” setelah itu Jonathan tersengal sesaat, kemudian genggamannya terlepas begitu saja, ketika petugas medis tiba, mereka mengatakan Jonathan sudah tidak bernyawa, pria itu baru saja menghembuskan nafas terakhirnya.
Andre terduduk lemas di tempatnya, ia belum mempercayai apa yang baru saja ia saksikan, apa yang nanti akan ia katakan pada Bella, bagaimana mungkin ia tega menyampaikan berita duka disaat seharusnya hari ini menjadi hari bahagianya.
__ADS_1