
Kesibukan belum begitu terasa karena hari masih pagi, tapi jangan di tanya 30 menit ke depan, entah kehebohan apa yang akan terjadi.
Pria muda itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit, ia hendak memastikan sendiri kondisi seseorang yang sedang dia awasi, sejak tadi ia menghubungi mata mata yang dia susupkan diantara anak buah Abimana, namun belum juga ada jawaban, sepertinya dia harus menunda kembali kepulangannya ke Jakarta, 'nasib nasib, punya bos duda, jadi asistennya yang jomblo tetap harus bekerja di hari libur, lengkap lah sudah'. gerutunya kesal.
Satu lorong lagi adalah ruangan VVIP, jika ia mendekat sudah pasti anak buah Abimana akan mengenalinya, tapi menunggu di sini pun sama sama tidak mengenakkan, kembali ia menurunkan topi nya, masker yang ia kenakan pun sudah menutupi sebagian wajahnya.
Tak lama telinganya menangkap suara yang tak asing di telinganya, suara tawa yang begitu bahagia, alangkah terkejutnya ia manakala kepala nya terangkat, sepasang ibu dan anak itu bergandengan mesra menyusuri lorong rumah sakit, dia terdiam membisu menatap pemandangan di seberang lorong tempat ia menunggu saat ini.
Dimas pun berjalan mengikuti langkah Stella dan Kevin.
"Selamat pagi Nyonya ... "Sapanya ketika jarak mereka sudah dekat.
Ibu dan anak itu pun menoleh, Alangkah terkejutnya Kevin manakala menatap Dimas yang kini berdiri dihadapannya dan Stella.
'Duh gawat, sejak kapan om Dimas di Singapura? kenapa Andre tidak bilang apa apa?' Kevin berbicara dalam Hati.
"Oh ... selamat pagi Dimas," Stella membalas sapaan Dimas, sebenarnya Stella juga agak terkejut, bertemu Dimas di rumah sakit.
"Bagaimana kabar anda nyonya?"
Stella tersenyum ramah, "Aku baik, kamu sendiri?"
"Syukurlah nyonya, saya ikut senang, saya juga baik." Dimas melirik remaja yang kini bersembunyi di belakang Stella, bukan karena Kevin pemalu, melainkan ia takut ketahuan, "selamat pagi tuan muda." Sapa Dimas.
"Mom ... who is he?" Kevin pura pura bertanya.
Mendengar suara Kevin, Dimas tiba tiba menaikkan alisnya, seakan dia tak mempercayai pendengarannya, 'heh ... tak mungkin itu dia ... ' diantara tawa samarnya Dimas menggumam dalam Hati.
"Oh, mommy lupa, ini teman mommy, namanya uncle Dimas." Stella memeluk pundak Kevin seraya memperkenalkan Dimas, dan Kevin yang merasa tidak nyaman pun kembali memeluk lengan Stella.
"Oh ... hai uncle." sapa Kevin kikuk, sungguh ia kini berdebar, wajahnya kian pucat, manakala Dimas terus terusan menatap tajam ke arahnya, karena itulah ia hanya melambaikan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih memeluk lengan Stella dengan posesif.
"Oh iya, ada perlu apa? apa kamu sedang sakit?" tanya Stella.
"Tidak nyonya, hanya salah seorang staf hotel yang seharusnya saya temui ternyata sedang sakit, jadi saya sempatkan kemari untuk menengoknya." Dimas beralasan. "Apa anda tidak libur?"
"Tidak, hari ini ada jadwal beberapa pasien rawat jalan, dan semoga tidak ada operasi darurat, karena Andre bersikeras mengikuti ku ke rumah sakit." Stella melirik Andre yang kini bersandar di pundaknya.
"Oh iya nyonya, tadi sebelum kemari, saya membeli beberapa coklat." Dimas menyerahkan paperbag berisi banyak coklat, coklat itu pemberian Alex sekembalinya ia dari Swiss beberapa hari lalu, sengaja Dimas membawanya, karena Andre sangat menyukai coklat, dan memang hendak ia titipkan di meja perawat, jika seandainya Dimas tidak bertemu Stella.
Stella menerimanya dengan wajah bahagia, "Terimakasih Dimas," Ucapnya.
"Hanya ini yang bisa saya berikan pada tuan muda, karena sungguh sangat di sayangkan saya tak pernah bisa menemaninya bermain."
__ADS_1
Dimas tersenyum menyadari barang yang sedang ia bawa sekarang bisa menjadi umpan. "Sepertinya aku masih harus disini agar bisa mendapatkan pancingan bagus, hehehe ... tuan muda, anda tidak bisa mengelabui ku." Dimas berbicara dalam hati, seringai jahil kini menghiasi wajahnya.
"Baiklah Dimas, senang melihatmu, aku harus segera memulai jam kerjaku." Stella melirik jam tangannya.
"Silahkan nyonya, maaf saya mengganggu waktu anda." Dimas mempersilahkan Stella kembali ke pekerjaannya, sementara di kepala Dimas kini sudah di penuhi berbagai rencana untuk menjebak si kembar, agar mereka masuk dalam perangkapnya.
Drrrt drrrt drrrt ponsel Stella berdering, Stella tampak mengangguk anggukkan kepalanya, mendengar suara dari seberang, "Saya sudah di rumah sakit, segera siapkan ruang operasi." jawab Stella terburu buru.
"Mommy harus ke ruang operasi sekarang, kamu gak papa menunggu mommy sendiri?" Stella bertanya dengan nada sendu.
"Gak papa mom, aku akan menunggu di ruangan mommy." Balas Kevin.
Wajah Dimas tiba tiba berbinar, "Biar saya yang menemani tuan muda, anda bisa melanjutkan pekerjaan dengan tenang," Dimas menawarkan diri, tak menyangka Tuhan memberinya kesempatan begitu cepat.
"Bagaimana And ... kamu tidak keberatan bersama Uncle Dimas? sementara mommy menyelesaikan operasi?" tanpa berpikir panjang, Stella menyetujui usulan Dimas, tentu saja itu membuat Kevin semakin pasrah, bahwa kini ia sudah tertangkap basah.
"Tentu mom, aku akan baik baik saja bersama Uncle Dimas."
Stella mendaratkan kecupannya di pipi Kevin, "terimakasih sudah mengerti mommy sayang, mommy janji akan menyelesaikan operasi dengan cepat." Stella mengusap rambut Kevin, "Dimas ... tolong jaga dia sebentar yah."
"Dengan senang hati nyonya." Dimas mengangguk sebelum Stella menghilang menuju ruangan ganti.
Sepeninggal Stella, Dimas segera menarik lengan Kevin menuju taman tengah rumah sakit, Kevin hanya bisa pasrah karena memang Dimas sudah mengenalinya.
Dimas mendudukkan Kevin di bangku taman, matanya menatap tajam kearah Majikan kecilnya tersebut.
"Apa maksud Uncle bertanya seperti itu, uncle mengenalku?" Kevin pura pura mengelak
"Jangan pura pura berkelit, anda tidak bisa membohongiku tuan muda."
"Tapi aku tidak berbohong, apa maksud pertanyaan uncle?"
Dimas mengacak rambutnya sendiri, "Baiklah, maaf jika saya salah, silahkan makan coklatnya, bukankah anda sangat menggemari coklat?"
"Aku masih kenyang."
"Aaaahhh masih kenyang yah, biasanya anda selalu melahap coklat coklat yang saya belikan, walau sudah kenyang sekalipun." Kali ini dia berbohong, Dimas hanya ingin menangkap pembohong dengan trik bohong, sebenarnya ia sendiri belum pernah sekalipun berinteraksi dengan Andre.
Dimas menyeringai dalam hati.
Kevin menelan Ludahnya, membayangkan badannya pasti akan terasa tak nyaman jika ia memasukkan coklat tersebut ke mulutnya, tapi jika ia tidak memakannya, penyamarannya pasti akan terbongkar, dua pilihan yang sama sama sulitnya.
"Coba saja anda makan jika memang tebakanku salah" tantang Dimas.
__ADS_1
Tangan Kevin bergetar manakala ia membuka paperbag pemberian Dimas, wajahnya pucat dan bibirnya kelu, ia pun urung membuka paperbag tersebut. "Maaf om ... " Ucap Kevin lirih.
Mendengar permintaan maaf dari tuan mudanya, Dimas pun luluh, ia duduk di sisi Kevin kemudian memeluk Kevin dengan erat.
"Bagaimana bisa anda di sini? dan bagaimana caranya, kalian bertukar tempat, padahal kalian belum pernah bertemu?"
"Kami tak sengaja bertemu di sekolah,"
Mendengar jawaban Kevin, ingatan Dimas langsung melayang ke hari dimana ia mengantar Kevin ke sekolah untuk acara persahabatan antar sekolah.
"Acara beberapa minggu yang lalu?" Tanya Dimas, dan Kevin mengangguk. "Apa sekarang anda senang bertemu dengan nyonya?"
Kevin mengangguk dengan tatapan berbinar, "Sangat om, aku sangat senang bisa bertemu mommy,"
"Syukurlah, saya juga ikut senang." Dimas mengusap pundak Kevin, tapi berjanjilah untuk hati hati, dan selalu mendengarkan nyonya, karena ini tempat asing."
"Iya om, aku akan hati hati," Kevin mengangguk menyetujui ucapan Dimas. "Om ... tolong jangan beritahu papi yah, aku masih ingin bersama mommy." pinta Kevin, dengan mata berkaca kaca, ia tahu Kevin pasti sangat merindukan mommy nya, sama seperti Kevin palsu yang beberapa hari ini bersikap aneh di rumah Alex.
Dimas mengangguk, meskipun dalam hatinya tetap ragu, karena cepat atau lambat kedua orang tua si kembar akan menyadari bahwa anak mereka tengah bertukar tempat.
"Ya Tuhan, tolong ampuni aku, anggap saja ini caraku untuk mempertemukan kembali tuan Alex dan nyonya Stella."
.
.
.
semakin dekat hari dimana sepasang mantan ini akhirnya akan bertemu 🤸🤸
.
.
.
Dimas ... lope you pokoknya 🥰
.
.
.
__ADS_1
.
like komen and vote nya please, biar othor makin semungud 🤯🤯.