
Dimas mengerucutkan bibirnya, pasalnya kini setiap kali mengemudi, pandangannya selalu bertemu dengan 2 buah boneka gajah yang saling berhadapan, kedua boneka gajah itu menghiasi dasboard mobil Alex, dan Alex nampaknya tak menanggapi protesnya perihal kedua boneka tersebut, justru Dimas bergidik ngeri mendengar ancaman Alex.
Alex hanya mengatakan "jika kedua boneka itu hilang atau bahkan bergeser sedikit saja dari tempatnya, maka aku akan menggantung kepalamu di monas…" ancam Alex.
Dan kini Dimas semakin kebingungan, manakala melihat Bosnya tersenyum senyum sendiri menatap kedua boneka gajah tersebut, pasalnya sejak dari rumah Alex terlihat bahagia, 'apa sebentar lagi ada berita bahagia, setelah mereka kencan beberapa hari yang lalu?' ujar Dimas dalam hati.
(Dimas … sini othor bisikin, bos mu lagi puber kedua, alias lagi kasmaran, jadi harap maklum aja, dan jangan bikin dia marah, mumpung dia lagi seneng, buruan minta bonus setahun gaji atau apalah yang bikin kamu seneng 🤭😁)
Alex memang tengah bahagia, ia kini menantikan jawaban cinta Stella, membayangkan bisa kembali seperti dulu, membuatnya selalu ingin tersenyum.
Belum lagi riuhnya suara si kembar pasti membuat kehidupan mereka kelak akan semakin ramai, atau mungkin kelak mereka bisa memiliki seorang anak lagi, pasti akan semakin meriah rumah mereka kelak, Alex kembali tersenyum manakala membayangkan dirinya kembali menimang seorang bayi, aaahh rasanya sudah lama sekali ketika ia dulu menimang si kembar di hari mereka lahir ke dunia.
(Ahahahahay … baik bos nanti othor kabulkan 🤭🤓 mau berapa? Kembar lagi kah?? Biar Dimas semakin pusing 😂😂 readers pasti setuju 💃💃💃)
"Bos …" Dimas memanggil, namun Alex tak menjawab.
"Bos," panggilnya sekali lagi.
Dimas menarik nafas perlahan, wajar saja panggilannya tidak di respon, ia melihat Alex tersenyum senyum sendiri di kursi belakang. 'lagi ngelamunin apa sih, di panggil panggil sejak tadi tak menjawab.'
"Bos Alex !!" Dimas meninggikan suaranya.
S**lnya lagi Alex mendengar ketika ia berteriak. " Ada apa sih, aku belum tuli, gak usah teriak teriak." Sahut Alex.
'Deuh si bos, gak tau apa yah tadi di panggil berapa kali.' gerutu Dimas.
"Abimana di Twenty Five Hotel bos," ujar Dimas singkat.
Alex memejamkan matanya sesaat 'Kenapa harus sekarang siiihhh, aku sedang tak ingin berurusan dengannya' gerutu Alex.
"Laporan lainnya?? Apa?"
__ADS_1
"Dia mau bertransaksi di hotel bos, bahkan Abimana sudah menyewa satu lantai penuh, untuk melancarkan transaksinya."
"Siagakan tim kita, dan segera hubungi kepolisian."
"Sudah bos, semalam saya sudah berdiskusi dengan Mr. Joe dan tuan Danie."
"Perketat penjagaan Kevin, aku tak mau terjadi apa apa padanya."
"Siap bos … " jawab Dimas patuh.
Beberapa saat lagi mobil tiba di halaman utama Twenty Five Hotel.
Dimas melaju perlahan, karena kesibukan pagi masih berlangsung, beberapa tamu sedang jalan santai di sekitar taman Hotel, petugas laundry dan dapur pun tak kalah sibuk, dapur sedang kedatangan suplai air mineral untuk persediaan di dapur, tiba tiba mereka di kejutkan dengan keributan di halaman hotel.
Pandangan alex kini tertuju ke depan pusat keributan terjadi, seseorang tengah ambruk akibat lemparan galon, pelempar tersebut dengan entengnya melempar galon, seolah olah dia sedang bermain bowling, dan sungguh tepat sasaran, mengenai wajah pria misterius tersebut.
Tak disangka pria itu bangun, namun lagi lagi di ambruk oleh tendangan wanita itu, Alex membulatkan netranya, ia tak mempercayai pemandangan yang ada di hadapannya, ia melihat sendiri bagaimana wanita itu melumpuhkan seorang pria, mungkin nanti wanita itu harus dijadikan pelatih untuk tim keamanan hotel, hahaha tentu saja tak akan ia izinkan, karena wanita itu hanya akan jadi miliknya, hanya dia yang boleh memiliki wanita itu, wanita cantik sekaligus barbar jika sedang bertarung.
Alex melonggarkan dasinya, ia bahkan membuka kancing jas yang sudah rapi, "Dimas segera selesaikan masalah di depan, aku harus menyelesaikan urusanku dengan wanita itu, dia benar benar membuatku semakin berdebar dengan ulahnya." Alex pun keluar dari mobil, langkah nya lebar karena tak sabar ingin segera menyeret Stella ke ruangannya.
Saat itu Stella tengah mengembalikan tas Isabela, dan sedikit berbasa basi, tiba tiba Stella merasa seseorang menarik tangannya, "eh … " Stella yang terkejut tak mampu berucap, manakala menyadari siapa pelaku nya.
Ia kini justru menunduk dan menutupi wajahnya karena menahan malu, sebab mereka kini jadi pusat perhatian.
Sepanjang jalan Stella benar benar di buat malu dengan ulah mantan suaminya.
Stella mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Alex. "Kak … hentikan, aku malu, kita jadi pusat perhatian," ujar stella lirih.
Alex menghentikan langkahnya, ia memperhatikan sekeliling, para karyawannya memang tengah memperhatikannya, bukannya malu, Alex justru membawa Stella dalam dekapannya, Alex masih terus memeluknya hingga pintu lift terbuka.
Alex menyudut kan Stella ke dinding, ia menatap tajam ke arah Stella, tentu saja hal itu membuat Stella salah tingkah, "kak mau apa? Apa kakak tahu, aku malu sekali tadi, kenapa tiba tiba menyeretku, aku tidak bersalah, bukan aku yang merampas tas wanita itu, justru aku hendak mengembalikannya…"
__ADS_1
Stella terus berbicara dan bibir mungilnya pun terus bergerak, entah apa yang ia bicarakan, ia tak sadar jika sejak tadi Alex terus memperhatikan bibir mungilnya, dan tanpa aba aba ia membungkam bibir mungil tersebut, ia sungguh pusing mendengar Stella terus berbicara tanpa henti.
Stella di buat terbelalak, ia berusaha mendorong Alex menjauh, namun tangannya lebih dulu di tahan oleh Alex, pria itu nampak begitu menikmati aksinya, gumpalan rindu yang sekian lama ia pendam kini mulai ia lepaskan, ia tak peduli walau Stella belum mengatakan iya, tapi setidaknya status mereka saat ini adalah sepasang kekasih, bukan sepasang mantan Lagi.
Sesaat pagutan mereka terlepas, keduanya merasakan sesak karena kehabisan nafas, Stella menunduk, nafasnya turun naik tak beraturan, "kita sedang di lift, ada cctv di sini," bisik Stella.
Alex justru tertawa, "lift ini khusus untukku, jadi tak ada cctv di sini," Alex balas berbisik.
Tak lama kemudian pintu lift terbuka, beberapa staf yang berada di lantai 17 tampak mengangguk hormat melihat kedatangan presiden direktur mereka.
Stella hanya menyembunyikan wajahnya di lengan Alex, hingga membuat Alex semakin gemas.
"Selamat pagi bu Wanda."
"Selamat pagi bos … " jawab bu Wanda.
Pagi ini, bu Wanda pun di buat heran dengan kehadiran Alex yang membawa serta seorang wanita masuk ke ruangannya, namun belum sempat ia berbicara pintu ruangan bos nya sudah tertutup.
.
.
.
.
.
.
(bos mau ngapain woooiii ... ini readers pengen ikut masuuk ... bos ... bos ... 🤓🤭📝😁)
__ADS_1