Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
95. Oh, Dimas.


__ADS_3


Oh, Dimas.



...Kita memulai kisah Om Dimas yah, tentunya masih ada Alex, Stella dan si Kembar di dalamnya....


...✨✨✨...


Twenty Five Hotel pukul lima pagi.


Stella terbangun karena merasakan ada pergerakan di balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, bulu kuduknya meremang, ketika merasakan Alex tengah bermain di daerah sensitif nya, bahkan Alex seakan tak peduli ketika Stella mulai bergerak tak nyaman, ia justru semakin bersemangat melakukan aksinya.


"Kak, hentikan …" Elak Stella, ia kembali menggeliat manakala Alex mulai mencium leher dan pundaknya.


Beberapa saat kemudian ia mendongak, dan menampakkan senyumannya, "kenapa sudah bangun? Harusnya kamu tidur saja, dan biarkan aku bekerja dengan tenang." Protes Alex tak terima Stella menghentikan aktivitas baru yang sangat menyenangkan baginya.


Stella terheran heran dengan perkataan Pria yang kini menjadi suami nya kembali. "Bekerja apa? Memang kakak sedang melakukan apa?" 


"Tentu saja pekerjaan menyenangkan, pekerjaan paling dinantikan pengantin baru, aku sedang bekerja sangat keras agar istriku segera hamil,"


Stella makin meremang, mereka bahkan baru beristirahat 2 jam yang lalu, setelah aktivitas yang sudah sangat lama tidak mereka lakukan, "tapi ... kita bahkan baru sssshhh .... beristirahat 2 jam yang lalu," stella menggigit bibir nya ketika ia mulai tak bisa mengendalikan tubuhnya, suaranya semakin lirih manaka kedua tangan Alex tak juga berhenti dari aktivitasnya.


"Aku bahkan sedang memikirkan bagaimana cara menebus waktu 14 tahun kita yang berlalu begitu saja," Alex melabuhkan ciuman singkat ke bibir Stella yang mulai terbuka.


Tak ingin Stella kembali protes, Alex pun membungkam bibirnya, Stella tak menolak, hatinya tengah bersorak sorai, bergemuruh laksana genderang yang saling bersahutan, bahkan semakin di penuhi bunga bunga bahagia, manakala Alex kembali mengulang kembali penyatuan yang semalam entah berapa kali mereka lakukan.


Kita tinggalkan sejenak, dua insan yang tengah berlomba, saling mencari kepuasan raga, yang bertabur bahagia.


Sementara itu, masih di tengah keramaian kota.


Dimas menggeliat sesaat, beberapa saat yang lalu, ia menerima pesan teks dari Alex, bos kesayangannya tersebut meminta padanya untuk menyiapkan pesawat pribadi nya jam 12 siang.


Tentu saja Dimas turut bahagia, karena bos nya juga sedang menikmati bahagia bersama istrinya, dan kini ia diserahi tugas erat menjadi pengasuh bagi si kembar, semalam ia menghabiskan waktu menyenangkan bersama si kembar, tentu saja bersama uncle mereka juga, dokter Steven, mereka berempat seolah menemukan frekuensi yang sama, jadi semakin menyenangkan karena kedua orang tua si kembar mempercayakan Kevin dan Andre dalam pengawasannya selama dua minggu kedepan, karena Alex dan Stella akan pergi berbulan madu.


Syukurlah hari ini masih termasuk hari libur nasional, jadi Dimas masih bisa bersantai menikmati hari libur, karena kemarin ia benar benar lelah menyiapkan pesta meriah untuk menjamu para rekan bisnis dan kenalan Alex dan Stella.


Namun di tengah kemeriahan pesta terselip kisah yang tak bisa Dimas lupakan, lagi lagi Dimas bertemu dengan gadis yang sempat mengurus kartu kreditnya, entah kenapa kali ini pun ia terlibat dengan gadis itu, kejadian itu berlangsung sangat cepat.


flashback 

__ADS_1


Hana berjalan menuju meja dessert usai memberi selamat pada kedua mempelai, ia ingin makan hidangan penutup sebelum meninggalkan Twenty Five Hotel. 


Namun lagi lagi takdir mempertemukannya dengan Pria yang sejak tadi ia hindari.


Hana tengah menikmati puding vanila yang sejak lama menjadi favorit nya, ia sengaja menambahkan begitu banyak saus coklat, makanan bertekstur lembut dan manis itu terasa dingin dan menyegarkan di tenggorokannya, namun kenikmatan dan kesegaran itu tak berlangsung lama, karena  tiba tiba seseorang membuat gaun putih barunya tersiram noda saus coklat.


Beberapa saat sebelum kejadian, Dimas dan si kembar tengah berbincang mengenai rencana mereka yang akan begadang malam ini di apartemen nya.


“Om bisakah kita pulang sekarang?” tanya Kevin, wajahnya mulai kusut, dan matanya mulai memerah akibat menahan kantuknya.


“Apa kamu juga mengantuk?” tanya Dimas pada Andre.


“Iya om,” rengek Andre.


“Kalau begitu, kita hanya akan tidur malam nanti?” goda Dimas pada si kembar.


“Yaa…” protes si kembar serempak.


“Kalian bilang mengantuk, obat terbaik untuk kantuk adalah tidur kan?”


Andre dan Kevin memanyunkan bibir mereka sebagai wujud protes, dimas tertawa gemas melihat keduanya.


Namun karena lagi lagi tak memperhatikan jalan, Dimas kembali menabrak seseorang, “ah … tidak gaunku…” pekik seorang gadis yang kini menatap sedih pada gaun yang terlihat mengerikan akibat tersiram noda saus coklat.


Hana menatap sedih pada gaun putihnya, dari dada hingga ke pinggang sudah dipenuhi noda berwarna coklat, gaun putih nya kini sudah berubah warna, dan sungguh terlihat mengerikan di matanya.


Lebih terkejut lagi manakala melihat siapa tersangka yang sudah membuat gaunnya ternoda.


Hana melotot tajam pada pria yang kini menatapnya dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah. 


“Lagi lagi kamu pria tua.” 


“Maaf, aku sungguh sungguh tak sengaja,” Dimas hanya bisa mengatakan kalimat maaf dengan penuh penyesalan.


“Haaaaiiissshh” desis hana yang kemudian berlalu, meninggalkan Dimas, menuju toilet untuk membersihkan noda di gaunnya.


Namun usahanya ternyata tak membawa hasil baik, justru membuat noda coklat itu semakin menyebar, Hana menangis sedih menatap gaunnya yang kini tampak mengerikan, gaun ini adalah gaun mahal pertama yang ia beli dengan uang gaji pertamanya, bekerja sebagai sekretaris sekaligus asisten direktur Diamond Hotel.


tok tok tok


Dimas mengetuk pintu toilet wanita yang ada di hadapannya, sudah hampir sepuluh menit ia menunggu, namun gadis itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

__ADS_1


“Nona, kamu tidak tertidur kan?” tanya Dimas mulai khawatir.


Belum ada sahutan dari dalam.


tok tok tok


Dimas kembali mengetuk.


“Nona, kamu ba baik saja kan?” tanya Dimas, “aku masuk yah?” tanya Dimas meminta izin.


Setelah pintu toilet terbuka, Dimas terkejut melihat gadis itu tengah menangis sedih di depan wastafel, perlahan Dimas mendekatinya, gadis itu menangis menatap kondisi gaunnya yang terlihat mengerikan. 


Kemudian ia mendongak menatap Dimas, “bagaimana ini? ini gaun yang kubeli dengan gaji pertamaku, dan sekarang sudah tak lagi indah dilihat.” sesudahnya hana menangis sedih, kelopak matanya bahkan sudah menghitam karena riasan matanya mulai luntur.


Dimas yang melihat Hana menangis, jadi semakin panik, karena ia sendiri tak pernah tahu bagaimana cara menenangkan atau membujuk seorang gadis yang tengah menangis.


Tiba tiba ponsel Dimas berbunyi, dimas melihat nama Kevin di layar ponselnya, “om Dimas dimana?” tanya Kevin begitu dimas menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


“Kalian tunggu sebentar yah, aku ke toilet sebentar.”


Tanpa menunggu jawaban, Dimas memutus panggilannya, kemudian kembali menatap Hana, Dimas sungguh heran, bagaimana bisa tuhan lagi lagi membuatnya mengalami tragedi baju yang ternoda.


“Kita ke butik lagi yah, aku akan mengganti gaunmu yang ketumpahan noda saus coklat.” Dimas tak bisa berpikir jernih, mendengar tangis sedih Hana, satu satunya ide yang terlintas di kepalanya hanyalah mengganti gaun gadis di hadapannya dengan gaun baru.


Tanpa diduga gadis itu mengangguk.


Karena waktu sudah menjelang jam sepuluh malam, Dimas menarik lengan Hana, tapi Dimas tak melihat bahwa lantai toilet agak basah, hingga membuat dimas terpeleset, dan Hana yang sedang ia genggam tangannya ikut terjatuh bersamanya dengan posisi gadis itu menelungkup di atas tubuhnya.  


Mereka saling memandang beberapa detik, hingga pintu toilet tiba tiba dibuka oleh seseorang.


“Om Dimas sedang apa?”


.


.


.


.


nah loh dimas ... 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2