Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
52. Membuat Kehebohan.


__ADS_3

Empat orang anggota keluarga halu itu, kini berada di dalam lift yang akan membawa mereka turun ke lantai dasar.


"Benar mom, kasihan Andre, dia sudah tak sabar bertemu Belinda." 


"Jangan bicara sembarangan," protes Andre.


"Dengar mom, selagi aku dan papi masih di sini, aku akan selalu mengantar dan menjemput mommy, jadi mommy tidak boleh protes." Kevin berbicara panjang lebar, Stella pun hanya terdiam tanpa bisa protes.


Entah kenapa ia benar benar seperti robot bisu diantara kedua anaknya.


Pun juga demikian dengan Alex yang hanya tersenyum, tampak menikmati kehebohan anak anaknya.


Stella melirik Alex yang berdiri tak jauh di belakang nya, Alex hanya mengulum senyumnya, bahunya terangkat malas, namun tampak menikmati suasana.


Entah kehebohan apa yang akan terjadi beberapa saat ke depan.


Mereka berjalan beriringan.


"And … apa kamu sudah memberitahu Mr. Tom?" 


"Daddy yang mengurus semuanya mom, daddy bilang Mr. Tom butuh liburan." Jawab Andre santai.


Stella terkejut, lalu menatap wajah Alex yang tetap datar "Haruskah aku menjelaskan?" Tanya nya dengan wajah songong tak merasa bersalah, sudah mengacaukan kebiasaan harian mantan istrinya.


"Ya" 


"Aku menyuruh Mr.Tom berlibur, karena selama aku disini, jasanya tidak dibutuhkan, aku juga sudah memberinya bonus, jadi kamu tenang saja ." 


Stella memutar bola matanya dengan malas., Firasatnya mendadak buruk, mantan suaminya ini mungkin akan membuat ulah … atau bahkan mungkin membuat kehebohan dengan sikapnya.


Kembali ia diam menikmati suasana pagi, berpapasan dengan orang orang yang akan beraktivitas seperti biasa, menikmati riuhnya suara anak anak, dan mengabaikan debaran jantungnya mengingat sang mantan mengintai di belakang punggungnya.


Sementara Alex tampak tak jauh berbeda dengan mantan istrinya, akhirnya … tak sia sia ia menunggu, kini Tuhan berbaik hati memberinya secerca bahagia bersama anak anak nya, walau mommy anak anaknya belum resmi kembali menjadi istrinya, tapi diam nya Stella memberinya banyak harapan.


Sesampainya di depan lobi utama, Stella melepaskan diri dari kedua putranya. "Cukup, sampai disini saja, mommy harus segera menemui beberapa pasien," 

__ADS_1


"Tidak mom, kami harus memastikan mommy masuk ke dalam." Tolak Kevin.


Alex tersenyum simpul melihat ulah Kevin, jika begini ia tak perlu banyak bertindak, untuk mendekati Stella, karena nampaknya anak anak sudah beberapa langkah lebih maju.


Sesampainya di lobby utama, Stella sudah di tunggu dokter Jimmy sahabatnya.


Tanpa perlu bercerita, dokter Jimmy langsung mengenali kedua anak Stella.


"Selamat pagi dokter Risa," sapa dokter Jimmy, seraya memberikan cappuccino untuk Stella.


"Selamat pagi dokter Jimmy." Stella menjawab sapaan dokter Jimmy, wajahnya berbinar manakala dokter Jimmy memberinya segelas cappuccino favoritnya, Stella dan dokter Jimmy sudah lama bersahabat, dan bagi mereka saling mentraktir segelas kopi juga menjadi kebiasaan yang lumrah, namun tidak dengan Alex yang menatapnya dengan pandangan tak biasa.


"Oh wow … mereka benar benar serupa," Dokter Jimmy mengamati wajah Kevin dan Andre, lalu saling bercengkerama sesaat, berawal dari tragedi susu coklat, kini Kevin pun menjadi akrab dengan dokter Jimmy.


Selagi dokter Jimmy mengamati wajah si kembar, Alex dengan santainya mengambil alih cappucino di genggaman Stella, lalu  meminumnya, "Hei itu milikku? awas perutmu bisa mual." 


"Tak masalah, mulai sekarang kamu tak boleh menerima pemberian dari pria lain selain aku." 


"Tapi … lambungmu bisa bermasalah," ujar Stella khawatir.


"Haiiiiisss … kau ini, jangan mencelakai tubuhmu sendiri." Stella mencoba merampas kopi dari genggaman Alex.


"Lagipula jika tubuhku celaka, atau sakit, aku tak perlu khawatir, yang harus kulakukan hanyalah mendatangi mantan istri ku, bukankah begitu?" 


"Itu alasan konyol kak, kesehatan bukan mainan yang sewaktu waktu bisa di pertaruhkan," Stella tahu benar lambung Alex tidak bisa berkompromi dengan apapun selain buah buahan di pagi hari, namun Alex seperti nya tak peduli, dan kini mengangkat tangannya tinggi tinggi, Stella mencoba merampas gelas tersebut, namun Alex terlalu tinggi untuk nya, hingga yang ada justru Stella oleng ke pelukan Alex.


Interaksi itu tak lepas dari pengamatan dokter Jimmy dan kedua anak mereka, bahkan beberapa dokter residen yang sejak tadi menunggu kehadiran Stella pun ikut menyaksikannya.


Tak ayal lagi, bisik bisik mulai tercipta, bermacam spekulasi mulai bermunculan, dokter Risa yang biasanya efisien dan efektif, tak pernah terlihat intim dengan pria, namun yang terjadi pagi ini sungguh di luar dugaan. 


"Mom … Dad … apa yang kalian lakukan?" Tanya Andre.


Wajah Stella memerah menahan malu … ia pun buru buru menjauh dari Alex.


Tanpa perlu dijelaskan, dokter Jimmy sudah paham jika pria yang meminum kopi milik Stella adalah mantan suaminya, karena kemiripan wajah si kembar dengannya.

__ADS_1


"Ya sudah kalian pergilah, mommy sudah di tunggu pasien," Stella pun berbalik dengan wajah menahan malu, karena sepagi ini di rumah sakit, ia sudah jadi bahan tontonan, dan lebih parahnya lagi, mungkin akan jadi bahan gosip para perawat dan dokter residen.


Alex tampak mengulum senyumnya melihat ekspresi wajah Stella, "dokter Jimmy, terima kasih kopinya," Alex mengangguk ramah pada dokter Jimmy, kemudian membawa si kembar keluar dari lobi rumah sakit.


Sementara itu, sepasang mata menatap dari lantai 3 rumah sakit, dia tampak tidak menyukai kedekatan dokter Risa bersama anak anak dan mantan suaminya, tangannya kini terkepal kuat, dialah Richard William, kakak kandung Stella, seseorang di balik menghilangnya identitas asli Stella dan Andre, hingga berubah menjadi dokter Marisa Nathaniel dan Andre Nathaniel.


Beberapa hari lalu, mama Anna mengatakan bahwa ia tak sengaja bertemu dengan Alex dan Kevin di toko kue.


"Bisakah kamu berhenti?" Tanya mama Anna hari itu.


"Maksud mama apa?" 


"Kasihan mereka, sudah terlalu lama mereka berpisah, tidakkah kamu ingin melihat Stella bahagia bersama keluarga kecilnya?" Tanya mama Anna dengan lembut 


"Bukan aku yang menghancurkan keluarga mereka ma, tapi Alex sendiri yang berulah, hingga keluarga mereka terpecah, yang kulakukan hanya melindungi Stella agar ia tak lagi disakiti mantan suaminya." 


"Tapi yang kamu lakukan, sudah terlalu jauh nak, mama tidak tega melihat Stella berjuang sendirian, tanpa ada seorang pria di sisi nya," ucap mama Anna dengan air mata tertahan. "Kamu pasti tidak akan percaya jika mama beritahu siapa yang mama jumpai hari ini."


Richard memalingkan wajahnya, dari tumpukan berkas pekerjaan yang sejak tadi ia baca. "Mama bertemu siapa?" Tanya nya pada mama Anna 


"Mama bertemu Alex, dan …. " kalimat mama Ana terhenti karena Richard buru buru menghentikannya.


"Kalau hanya bertemu Alex apa masalahnya." Kapanpun mama bisa menemui dia, aku tidak melarang." 


"Diamlah dulu, bisakah kamu setidaknya menunggu hingga mama selesai bicara," 


"Maaf ma, jadi mama bertemu siapa lagi hari ini? "


"Mama bertemu Andre." Jawab Mama Anna singkat 


Richard tertawa, meragukan ucapan mama Anna, "mama salah lihat kali." Bantah Richard.


"Kamu boleh tidak mempercayai perkataan mama, tapi mama yang merawat Andre sejak kecil, jadi mama adalah orang yang paling mengenalnya, dibandingkan Stella." Jawab mama Anna berapi api, "kamu tahu apa artinya? Takdir tuhan sedang berperan di kehidupan adikmu, sekeras apapun usaha mu untuk memisahkan mereka, namun jika Tuhan masih berkehendak membuat mereka berkumpul, semua usahamu hanya akan jadi sia sia." 


Richard kembali terngiang ucapan mama Anna kala itu.

__ADS_1


"Alex, sudah besar kamu sekarang, dan sepertinya aku akan segera bertemu lawan tangguh." Gumamnya.


__ADS_2