
Sesampainya Richard di helipad, ia terkejut karena melihat keberadaan Dimas dan Andre di sana, Richard berjalan mendekati mereka, "Dimas, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Richard.
Dimas menoleh ke asal suara.
"Paman … " tiba tiba Andre berlari memeluk Richard. "Tolong katakan padaku mommy akan baik baik saja, mommy pasti selamat kan paman?" Andre menangis menyampaikan keresahan hatinya pada Richard.
"Paman belum tahu nak, sebaiknya kita banyak berdoa untuk keselamatan mommy mu." Richard memeluk erat keponakannya, bagi Richard Andre dan Kevin sudah seperti anaknya sendiri, tak terhitung berapa banyak penyesalannya karena ia juga pernah menjadi salah satu alasan terpisahnya si kembar.
Dimas ikut bergabung bersama Richard dan Andre, “maafkan saya tuan, sejauh ini saya juga belum tahu apa yang terjadi di lapangan, 30 menit lalu saya diminta memesan helikopter untuk menuju lokasi kejadian,”
“maksud pertanyanku bukan itu, tapi apa penyebab semua ini?” bentak Richard tak sabar.
Dimas hanya menunduk, ia sendiri bingung, harus dari mana ia memulai kisah ini, “ceritanya sangat panjang tuan, yang jelas, rentetan kejadian ini bermula sejak perceraian nyonya Stella dan tuan Alex.” tepat setelah Dimas menyelesaikan perkataannya, Helikopter hitam berlogo William Medical Center mulai menampakkan diri.
Helikopter itu terus bergerak mendekati landasan, hembusan angin kuat mulai menerbangkan debu dan benda benda ringan di sekitar helipad, beberapa petugas medis sudah bersiap dengan brankar pasien dan peralatan medis untuk pertolongan pertama.
hembusan angin semakin kuat, manakala helikopter menjejakkan kaki kakinya di helipad, dua orang petugas medis turun terlebih dahulu, baru kemudian brankar tempat Stella terbaring tak sadarkan diri, sementara darah yang membasahi sebagian tubuhnya mulai mengering, dengan sigap para petugas medis memindahkan Stella dari brankar darurat ke brankar rumah sakit, untuk selanjutnya diberi pertolongan pertama.
seluruh rangkaian pertolongan pertama berjalan dengan cepat, para petugas medis terlihat sangat tenang dan cekatan ketika melakukan rangkaian pertolongan pertama pada pasien, semuanya dilakukan dengan cepat dalam kondisi brankar berjalan menuju ruang operasi, sementara Alex dan yang lainnya mengikuti dari belakang.
“Siapa dokter yang bertugas di ruang operasi VVIP hari ini?” tanya Richard pada Leo asistennya.
“Dokter Alan,” Jawab Leo singkat.
Tak jauh beda dengan Alex, Richard nampak bernafas lega mengingat seperti apa kualitas dokter Alan di ruang operasi.
__ADS_1
Dari arah berlawanan, dokter Alan dengan pakaian operasinya nampak berjalan cepat menuju ruang operasi, bahkan ia sudah siap dengan kacamata yang dilengkapi dengan lensa pembesar.
Sebelum mencapai pintu, Alex memberanikan diri menghampiri Alan.
alan terkejut melihat Alex dan beberapa orang yang tak asing di matanya, jadi siapakah gerangan pasien VVIP yang akan ia tangani hari ini? sesaat lalu ia hanya diminta bersiap untuk mengoperasi pasien VVIP yang menderita luka akibat penembakan.
“Alan, aku mohon tolong selamatkan dia, lakukan yang terbaik untuknya,” entah kenapa ketika Alex berhadapan dengan Alan, ia bisa menumpahkan tangis yang sejak tadi ia tahan, mungkin karena ia tengah berhadapan deng satu satunya kawan baik yang ia miliki.
DEG!!!
tiba tiba laju jantung alan berdetak semakin cepat, hatinya sendiri mendadak merasakan kekhawatiran yang teramat sangat, mungkinkah?? entah lah ia tak ingin membayangkan kemungkinan terburuk.
“kalau begitu, maukah kamu berjanji satu hal padaku?” tanya Alan.
“katakan, apapun akan kulakukan untuknya,” jawab Alex tanpa berpikir panjang.
seketika Alex lemas, kedua telapak tangannya yang sejak tadi memegang lengan Alan, terlepas begitu saja dari sana. “Dahulu kamu memintaku melepaskannya untukmu, sekarang jika situasinya terbalik, maukah kamu melepaskannya untukku?”
Alex mengangguk paham, “baiklah, asalkan dia selamat, aku akan melakukan apapun untuknya.” walau berat, Alex menyetujui permintaan Alan, yang ia pikirkan saat ini hanyalah keselamatan wanita yang ia cintai.
namun sedetik kemudian, Alan tersenyum kemudian memeluk Alex, “Aku hanya bercanda, mana mungkin aku memisahkan kalian, sementara namaku bahkan tak lagi ada di hatinya.”
Mendengar perkataan Alan, air mata Alex semakin deras mengalir, rasa syukur seolah menyirami ketakutan yang bersemayam di hatinya, Alan berlalu menuju ruang operasi, entah kenapa hatinya kini terasa ringan, mungkinkah karena kini ia telah benar benar melepaskan cintanya, semoga saja.
beberapa menit kemudian Steven keluar dari ruang operasi, sama seperti Alan ia pun terkejut melihat orang orang yang ia kenal sedang menunggu dengan resah di depan ruang operasi.
__ADS_1
“Ada apa ini? kenapa semua orang ada di sini? ulang tahunku masih beberapa minggu lagi.” khas sekali seorang Steven yang suka bercanda.
namun sungguh aneh, tak ada satupun yang menanggapi gurauannya, “hei … ayolah, kenapa kalian semua tegang?”
Richard tiba tiba berjalan mendekati Alex, “ikut aku, ada banyak hal yang harus kamu jelaskan.”
tanpa banyak bicara Alex mengikuti Richard.
dan disinilah mereka kini, taman tengah rumah sakit.
kedua pria itu saling menatap dengan pandangan dingin tak terbaca, keduanya sama sama tengah memikirkan banyak hal, namun juga kini tengah merasakan kekhawatiran yang sama.
“tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana bisa kalian sampai terlibat baku tembak dengan sekelompok mafia? apa sekarang kamu juga terlibat bisnis narkoba?” tuduh Richard.
“tidak kak, aku masih cukup waras untuk berpikir ribuan kali sebelum, mencoba melakoni bisnis haram tersebut, aku bahkan memiliki anak anak, bagaimana mungkin aku berpikir merusak masa depan anak orang lain?” jawab Alex tenang.
“kalau begitu apa yang terjadi!!!??” sentak Richard.
walau masih diliputi kekhawatiran, kisah panjang itu pun mengalir, dimulai sejak perpisahan mereka, serta bagaimana awal mula Alex mengambil peran dalam membantu kepolisian membasmi pengedar narkoba, walau dengan cara yang aneh, kejadian demi kejadian terus berlangsung, hingga tanpa mereka sadari, tuhan seperti kembali menghubungkan Alex dan Stella, baik melalui peran si kembar, maupun peran dari para mafia.
Richard sungguh menyesalkan semua yang telah terjadi, kini tuhan seakan tengah menamparnya dengan sebuah fakta, bahwa sekeras apapun kamu berusaha menjauhkan adikmu dari orang yang ia cintai, kamu tetap tak bisa menghalangi takdir mereka untuk kembali bersama, dan memperbaiki ikatan pernikahan yang pernah tercerai berai.
“kak, aku memang pernah bersalah pada Stella, tapi dari kesalahan itu aku menyadari bahwa Stella adalah wanita paling berharga dalam hidupku,” ucap Alex dengan penuh sesal, “aku hanya berharap kakak kembali merestui kami.”
“dasar bodoh, tentu saja aku akan merestui kalian, apalagi yang kuharapkan selain kebahagian adikku, berjanjilah kamu tak akan mengulangi kebodohanmu dahulu, jika itu terjadi, aku pastikan kamu tak akan pernah lagi bisa melihat adikku, walau itu hanya bayangannya.” kalimat itu bernada ancaman namun entah kenapa, Alex merasa lega mendengarnya.
__ADS_1
“terima kasih kak.”